Haji Mabrur

Desember 21, 2010 at 8:57 am 1 komentar

Ibadah haji dan jihad fii Sabilillah adalah dua amal ibadah yg bernilai sangat tinggi di sisi Allah. Atas dasar itulah, Syeikh Abdullah bin al-Mubarak selalu menunaikan dua hal tersebut. Tahun ini naik haji dan tahun berikutnya berangkat berjihad. Demikianlah secara selang-seling selalu dilakukannya betapapun sibuk menderanya. Maka tibalah tahun saatnya Abdullah bin al-Mubarak berangkat haji. Setelah bekerja keras Abdullah bin Mubarak berhasil mengumpulkan bekal tak kurang 500 dinar uang emas. Dari kediamannya di Hijaz beliaupun pun berangkat menuju Makkah al Mukarramah.

Pada suatu saat setelah selesai menunaikan tahap demi tahap rangkaian ibadah haji, beliau tertidur dan bermimpi melihat dua orang malaikat yang turun dari langit sambil berdialog antara satu dan yang lainnya.

“Berapa banyak jumlah jamaah yang datang tahun ini?” Tanya malaikat yang satu kepada malaikat yang lainnya. Jumlahnya 600.000 orang,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak dari mereka yang ibadah hajinya diterima?” Tanyanya lagi. Malaikat yang satu menjawab,“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah bin al Mubarak gemetar. “Apa?” Beliaupun menangis. Beliau berpikir bahwa“Semua orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Pikir Ibnu Mubarak sedih. “ Kecuali hanya seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil dengan Ali bin Muwaffaq.” Kata malaikat yang pertama. “Dia tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Dan bahkan berkat dialah ibadah seluruh jamaah haji tahun ini semuanya diterima oleh Allah.” Lanjut malaikat pertama menerangkan.

Ketika Abdullah Ibnu Mubarak mendengar percakapannya itu, maka terbangunlah ia dari tidurnya dan langsung berangkat menuju ke Damaskus mencari orang yang bernama Ali bin Muwaffaq itu. Dia telusuri seluruh penjuru kota sampai tempat tinggal Muwaffaq berhasil beliau temukan. Dan ketika diketuk pintunya, keluarlah seorang lelaki dan segera ia bertanya tentang namanya.

“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” Sapa Ibnu Mubarak sambil mengetuk pintu. “Siapakah namamu dan pekerjaan apa yang kau lakukan?” Tanya Ibnu al-Mubarak kepada lelaki yang ditemuinya.

“Aku Ali bin Muwaffaq, penjual sepatu. Siapakah Anda?”

Kepada lelaki itu Ibnu al-Mubarak menerangkan jadi dirinya dan maksud kedatangannya. Setelah tahu siapa yang datang serta maksud dan tujuannya. Tiba-tiba Muwaffaq menangis dan jatuh pingsan.

Ketika sadar, Ibnu Mubarak memohon agar Muwaffaq berkenan untuk menceritakan semua yang dia alami terkait dengan hajinya. Dia mengatakan bahwa selama 40 tahun dia telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Untuk itu telah terkumpul dana sebanyak 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Maka tahun itu-pun dia memutuskan untuk pergi ke Mekkah untuk menunaikan Ibadah Haji.

Suatu hari istrinya yang sedang hamil mencium aroma sedap makanan yang sedang dimasak tetangga sebelah rumahnhya. Kemudian si istri memohon kepadanya agar ia bisa mencicipinya sedikit. Lalu Muwaffaq pergi menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan situasinya.

Saat Muwaffaq mengutarakan maksud kedatangannya, tetangga itupun mendadak menagis.

“Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya.
“Hari ini aku melihat keledai mati tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan yang halal bagimu.” Terang tetangganya sambil menangis.

Saat mendengar cerita itu hati Muwaffaq serasa terbakar. Maka tabungan yang terkumpul untuk berhaji sebanyak 350 dirham diberikan kepadanya.

“Belanjakan ini untuk anakmu,” kata Muwaffaq.
“Inilah perjalanan hajiku.” kata Muwaffaq dalam hati.

“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah Ibnu Mubarak selepas menemui Muwaffaq. “Dan Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusan-Nya.”

Syaikh Yusuf Al-Qardhawi menegaskan bahwa ibadah haji adalah bagian ibadah unik dan berbeda, karena merupakan ibadah fisik dan harta sekaligus. Shalat dan shaum adalah dua ibadah fisik. Sedangkan zakat merupakan ibadah harta. Ibadah haji menggabungkan dua hal tersebut. Karena manusia yang berangkat ibadah haji pasti mencurahkan kekuatan fisiknya dan mempersiapkan hartanya, karena orang yang menunaikan ibadah haji pada dasarnya sedang melaksanakan ibadah safar dan rihlah yang pasti membutuhkan biaya-biaya.

Karena itu ibadah haji adalah kewajiban yang disebutkan Allah swt. bagi orang yang mampu. Oleh karenanya Syaikh Qardhawi mengatakan: “Bahwa setiap manusia mampu untuk melaksanakan shalat dan shaum, dan tidak setiap orang mampu berangkat ke tanah suci. Karena itu, bentuk kasih sayang Allah mewajibkan ibadah haji sekali seumur hidup, Allah tidak memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya, tidak menghendaki kesulitan. Allah swt menghendaki kemudahan. Pembebanan dalam Islam sesuai kemampuan.” Firman Allah: “Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.” (Al-Baqarah: 286) Karena itu, ketika Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan kalian melaksanakan ibadah haji, maka berhajilah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Apakah pelaksanaannya setiap tahun wahai Rasulullah?” Rasulullah tidak menjawab, sampai pertanyaan diulang tiga kali, baru Rasulullah menjawab, “Seandainya saya menjawab ya, pasti haji menjadi kewajiban setiap tahun sekali, dan kalian tidak mampu melaksanakan.”

Boleh jadi, tidak bisa seseorang melaksanakan haji setiap tahun. Maka Allah swt. menghendaki melaksanakan ibadah haji sekali seumur hidup. Ini bentuk kemudahan dan kasih sayang Allah swt kepada hamba-Nya. (disarikan dari dakwatuna)

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Khutbah Idul Adha Istighfar

1 Komentar Add your own

  • 1. mualima binti muh.tang  |  Maret 28, 2011 pukul 2:42 am

    Subhanallah subhanllaah…
    dgn adanyA cerita diatAs udah sgt menjelaskan bhw sungguhnya kita perlu menysadri akan ksih zyg Allah swt terhadap hamba-Nya…
    Dan bgi yg tak mampu tak dipaksakannya…
    Tuk beribadah…asal niat kita bener2 hanya semata2 karn lillahi taala..

    Dri ktipan cerita diatas… yg dimaana sgt memotivasi dir hamba tuk semakin bersbar n tawadduh… insyAllah… Dgn atas izin-nya… Semoga apa yg dirahmatix… Akn menjdi yg baik n menjdi haji yg mabrura,,, amin,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: