Khutbah Idul Adha

November 24, 2010 at 3:49 am Tinggalkan komentar

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Alhamdulillah kita semua diberi kesempatan bertemu kembali dengan salah satu diantara hari-hari Allah, hari kegembiraan kaum muslimin, hari raya ‘Idul Adha. Kita semua menyambut hari istimewa ini, yang dikaitkan dan dibarengkan dengan rukun ibadah haji di Tanah Suci, dengan penuh kegembiraan dan keceriaan sebagai bentuk dan bukti syukur kepada Allah. Oleh karena itu disunnahkan kita banyak memuji dan mengagungkan Allah dengan kumandang takbir, tahmid, tasbih, tahlil dan pujian-pujian yang lainnya.

Allahu akbar, allahu akbar, walillahilhamd.

Salah satu keistimewaan utama ‘Idul Adha yang membedakannya dengan hari raya ‘Idul Fitri adalah adanya ibadah ber-udhiyah, menyembelih hewan qurban, yang merupakan amalan paling utama yang dicintai oleh Allah Ta’ala di hari yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada satu amal pun yang dilakukan seorang anak manusia pada Yaumun Nahr (hari raya ‘Idul Adha) yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan qurban yang disembelih). Maka berbahagialah kamu karenanya” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih).

Berdasarkan hadits tersebut, berqurban merupakan amalan yang paling istimewa yang tidak bisa digantikan oleh amalan-amalan lain pada hari ‘Idul Adha seperti hari ini. Dan menyembelih udhiyah dengan demikian tetap lebih afdhal daripada bersedekah yang senilai dengan harga hewan qurban, sebagaimana ditarjih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama-ulama yang lain. Sebabnya, karena prosesi menyembelih hewan qurban itu sendiri merupakan salah satu bentuk ibadah ritual persembahan kepada Allah sebagai representasi kemurnian iman dan tauhid seorang mukmin, dan dalam Al-Qur’an digandengkan dengan sholat. Misalnya firman Allah:

Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu;dan berkorbanlah (karena Tuhanmu pula)

(QS Al-Kautsar [108]: 2)

Allahu akbar. Allahu akbar. Walillahilhamd.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Ada hikmah besar yang sangat penting untuk kita ambil dibalik syariat ibadah ber-udhiyah, yakni adanya keterkaitan yang sangat erat antara udhiyah (berqurban, menyembelih hewan qurban) dan tadhiyah (berkorban secara umum), baik secara bahasa maupun secara makna. Secara bahasa, kata udhiyah dan tadhiyah berasal dari kata bahasa Arab: dhahha – yudhahhi, yang berarti berqurban dan berkorban sekaligus. Adapun secara makna, esensi dari ibadah udhiyah (berqurban) adalah tadhiyah (berkorban dan pengorbanan) itu sendiri. Bahkan bisa jadi merupakan simbol puncak pengorbanan. Apalagi jika kita ingat dan kita kaitkan dengan kisah pertama kali syariat ibadah qurban ini ditetapkan dan diwajibkan atas Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dimana beliau diperintahkan berqurban dengan mengorbankan (baca: menyembelih) putra tersayang beliau: Nabi Ismail ‘alaihissalam, sebagai bentuk dan simbol pengorbanan puncak, setelah berbagai rangkaian pengorbanan demi pengorbanan yang telah beliau lalui dan berikan dalam perjalanan hidup, dakwah dan perjuangan beliau. Dan itu semua untuk membuktikan iman, tauhid dan ketaatan murni kepada Allah Ta’ala.

Ini artinya, kita harus memaknai ibadah qurban yang kita lakukan pada ‘Idul Adha seperti sekarang ini, sebagai simbol dan pertanda atas berbagai pengorbanan yang telah dan selalu kita berikan selama ini dalam hidup dan perjuangan kita di jalan kebenaran. Atau, kita harus memaknai ibadah qurban kita sebagai deklarasi kesiapan kita untuk selalu berkorban dalam hidup dan perjuangan. Atau dengan kata lain, dengan ber-qurban kita akan mendapatkan semangat siap mengorbankan segala yang kita miliki di jalan Allah.

Mengapa Harus Ber-Tadhiyah (Berkorban) ?

Allahu akbar. Allahu akbar. Walillahil hamd.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Pertama, kita harus berkorban karena berkorban merupakan konsekuensi dan sekaligus esensi keimanan, yakni berupa kesiapan total untuk menyerahkan  dan mengorbankan segala ”milik” kita untuk Allah semata, sebagaimana firman-Nya: ”Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadah penyembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS Al-An’am [6]: 162)

Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (QS At-Taubah [9]: 111).

Kedua, kita harus berkorban karena pengorbanan-pengorbanan dalam hidup dan perjuangan merupakan nilai dan harga yang harus kita bayar dalam bertransaksi dengan Allah, untuk memperoleh Surga dan selamat dari Neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah adalah Surga” (HR At-Turmudzi)

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS Al-Baqarah [2]: 214)

Ketiga, kita harus selalu siap dan menyiapkan diri untuk berkorban karena kita wajib berjihad: berjihad untuk hidup, berjihad untuk membela hak, berjihad untuk membela kebenaran, berjihad untuk menolak dan melawan setiap kemungkaran, kejahatan dan kezhaliman, berjihad dalam dakwah, berjihad melawan musuh-musuh Allah dalam rangka memenangkan Islam agama Allah! Dan tidak ada jihad yang tanpa pengorbanan! Didalam Al-Qur’an dan hadits-hadits selalu disebutkan berjihad dengan harta dan jiwa, yakni dengan mengorbankan harta, jiwa dan lain-lain. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Keempat, kita wajib terus berkorban untuk menjaga kehormatan, kemuliaan dan martabat. Orang yang tidak siap dan tidak mau berkorban berarti telah siap dan memilih hidup dalam kerendahan dan kehinaan. Mengapa ummat kita terpuruk? Mengapa kaum muslimin selalu jadi korban dan bulan-bulanan ummat lain? Mengapa kita menjadi ummat terendah padahal semestinya kita ummat tertinggi (QS Ali ’Imran [3]: 139)? Mengapa kita menjadi ummat yang terhina padahal seharusnya kita adalah ummat termulia (QS Al-Munafiqun [63]: 8)? Mengapa kita menjadi ummat terdakwa padahal Allah mewajibkan kita untuk menjadi ummat saksi (QS Ali ’Imran [2]: 143)? Itu semua terjadi tidak lain karena kita telah meninggalkan jalan jihad dan perjuangan, enggan berkorban, cinta dunia dan takut mati.  Rasulullah shallahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Hampir-hampir saja ummat-ummat dari segala penjuru mengeroyok kalian, sebagaimana orang yang rakus sangat bernafsu untuk menyantap makanannya. Ditanyakan oleh para sahabat: ’Wahai Rasulullah, apakah karena ketika itu kami sedikit jumlahnya?’ Rasulullah menjawab,’Tidak. Akan tetapi kalian (ketika itu) telah menjadi buih, seperti buih air bah. Dijadikan penyakit wahn dalam hati kalian, dan dicabut rasa takut (terhadap kalian) dari hati musuh-musuh kalian. Sebabnya adalah karena kalian cinta dunia dan takut mati” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Kelima, pengorbanan demi pengorbanan harus kita lakukan karena itulah sunnah dan sekaligus syarat kehidupan. Kehidupan dunia ini penuh dengan ujian, cobaan, tantangan, persoalan dan musibah yang semuanya menuntut pengorbanan. Orang yang tidak siap dan tidak mau berkorban berarti tidak siap dan tidak berhak hidup!

”Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS Al-Mulk [67]: 2)

”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah [2]: 155).

Terjadinya berbagai musibah dan bencana yang silih berganti di negeri kita ini adalah dalil paling nyata bahwa dalam hidup ini tidak mungkin kita tidak berkorban. Dengan adanya musibah-musibah dan bencana-bencana yang selama ini terjadi – salah satunya bencana lumpur panas Lapindo – sudah tidak terhitung berapa jumlah korban dan pengorbanan kita. Meskipun mungkin ada yang mengatakan itu kan pengorbanan ”terpaksa”? Ketahuilah bahwa, ”terpaksa” ataupun sukarela, yang jelas semuanya adalah pengorbanan!

Agar ”Pengorbanan Terpaksa” Tetap Bermakna dan Bernilai Tinggi

Allahu akbar. Allahu akbar. Walillahilhamd.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Meskipun mungkin ”terpaksa” sifatnya, pengorbanan yang terjadi karena bencana dan musibah tetap bisa bermakna dan bernilai tinggi bahkan setinggi-setingginya dengan kita melakukan hal-hal berikut:

  1. Mengimani dan menerima bencana dan musibah dengan segala pengorbanannya sebagai takdir dan ketentuan Allah. Di dunia ini segala sesuatu tidak mungkin terjadi kecuali dengan takdir Allah Ta’ala (QS At-Taghabun [64]: 11). Namun perlu dipahami bahwa iman kita pada takdir tidak berarti menghapus kesalahan orang yang salah, tidak menutup dan menghilangkan hak para korban dan tidak menghentikan tuntutan terhadap pihak-pihak yang harus bertanggung jawab!
  2. Menjaga dan meningkatkan kesabaran, ketabahan dan tawakkal kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

”Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS Az-Zumar [39]: 10)

  1. Meyakini bahwa setiap musibah yang terjadi pasti memiliki hikmah dan pelajarannya. Karena itu kita harus berusaha mencari dan mendapatkan hikmah dan pelajaran sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya dari musibah dan ujian yang kita alami. Musibah-musibah yang terjadi, jika kita sikapi dan terima dengan sabar dan tawakkal, akan menghapuskan dosa, melipatgandakan pahala, menambah iman, meningkatkan derajat kita di sisi Allah, dan fadhilah-fadhilah besar yang lainnya. Dan bagi seorang mukmin, musibah justru menjadi tanda kebaikannya dan kecintaan Allah terhadapnya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuknya kebaikan maka Allah justru akan memberikan musibah kepadanya” (HR Al-Bukhari dan Ahmad).

”Apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberikan ujian dan cobaan kepada mereka” (HR At-Turmudzi, Ahmad dan Al-Baihaqi).

  1. Melakukan muhasabah dan introspeksi diri. Jangan-jangan karena selama ini kita kurang berkorban atau bahkan enggan berkorban secara sukarela, maka Allah ”menjewer” kita dengan terjadinya musibah-musibah dan bencana-bencana yang memaksa kita berkorban dengan berbagai bentuk pengorbanan, yang kadang-kadang menghabiskan seluruh milik kita. Padahal sebelumnya barangkali kita keberatan untuk berkorban dengan sebagian kecil saja dari yang kita miliki, yang pada hakikatnya adalah milik Allah.
  1. Dalam menghadapi musibah dan bencana serta mencari solusi dan jalan keluar, kita harus kembali dan mengembalikan semuanya kepada Allah dan kepada syariat Allah. Kita harus lebih dekat kepada Allah, dengan meningkatkan iman dan memurnikan tauhid kita kepada Allah. Dan jangan sekali-kali justru mengundang murka Allah dengan melakukan hal-hal dan tindakan-tindakan yang merusak akidah dan melawan syariat Allah. Misalnya mencoba menyelesaikan masalah dan mencari solusi dengan cara-cara yang bermuatan klenik, mistik, perdukunan dan semacamnya. Karena itu berarti menyelesaikan masalah dengan masalah yang lebih besar dan mencari solusi dan jalan keluar dari musibah dengan musibah yang lebih dahsyat!

Allahu akbar. Allahu akbar. Walillahilhamd.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Akhirnya, marilah kita jadikan momentum ’Idul Adha dan ibadah menyembelih udhiyah (hewan qurban) pada hari raya yang mulia ini, sebagai penambah semangat dan pembaharu tekad kita untuk selalu siap berkorban di jalan Allah.

Marilah kita kuatkan iman kita. Kita murnikan tauhid kita, dan kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah, dengan tetap berada dalam batas-batas syariat Allah.

Marilah kita kembalikan semua urusan kita, semua persoalan kita, semua keluh kesah kita, semua pengaduan kita, dan semua yang ada pada diri dan kehidupan kita, hanya kepada Allah semata.

Marilah kita bermunajat kepada Allah.

ربنا ظلمنا أنفسنا و إن لم تغـفرلنا و ترحمنا لنكوننّ من الخاسـرين.

ربنا آتـنا في الدنيا حـسنة و في الآخـرة حـسنة و قنا عـذاب النار.

سـبحان ربّــنا ربّ العـزة عمّا يصفون و سلام على المـرسلين ، و الحمـد لله ربّ العالمين.

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Sukses Karena Mabit dan Kejujuran Haji Mabrur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: