Menggapai Kesuksesan

Desember 23, 2009 at 6:32 am Tinggalkan komentar

Sebagian besar orang pasti berkeinginan agar dirinya menjadi manusia yang sukses, kuat, berkuasa, disegani dan dihormati. Mereka berkeyakinan bahwa dengan menggenggam kekuatan dan kekuasaan itu mereka bisa dengan mudah memenuhi segala kebutuhan yang diinginkan. Kenikmatan hidup, kenyamanan, kemewahan dan seterusnya. Oleh karenanya berbagai usaha kemudian diupayakan untuk mewujudkan cita-citanya. Berbagai cara dan jalan ditempuh untuk meraihnya. Ada yang menempuh jalan dengan cara mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Ada juga yang menempuhnya dengan meraih setinggi jabatan dan sebagainya.

Ironisnya ada sebagian orang yang meraihnya dengan cara yang dilarang oleh agama. Menghalalkan segala cara asalkan cita-cita dan keinginannya bisa terlaksana. Padahal sesungguhnya orang-orang yang menempuh jalan seperti ini diibaratkan seperti orang yang sedang mengejar fatamorgana. Seolah-olah apa yang sedang dilihatnya itu indah padahal semuanya hanyalah tipuan belaka. Mencari kesenangan dengan jalan pintas dengan tanpa memperhatikan norma-norma agama justru akan berujung kesengsaraan dan penderitaan. Banyaklah sudah contoh-contoh yang terjadi dan terpampang di depan mata tentang akibat mengambil jalan ini.

Ada orang yang dulunya mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa tetapi di akhir hidupnya harus dilewatkan di dalam penjara. Ada yang dulunya menjadi manusia kaya raya, namun pada akhir kehidupan rumah tangganya menjadi berantakan karena ia terjangkit penyakit HIV dan penyakit yang berbahaya lainnya. Ada lagi yang sukses usahanya namun di masa tuanya ia menjadi manusia yang hina dihadapan anak-anaknya. Padahal sebelumnya ia sangat dihormati oleh para bawahannya.

Mengapa semuanya ini bisa terjadi? Ini bisa terjadi disaat manusia telah mengabaikan dua hal yang menjadi syarat utama manusia dalam meraih sukses baik di dunia dan akhirat. Dua hal tersebut adalah:

Selalu ingat atau berdzikir kepada Allah. Sebagai manusia makhluk yang diciptakan oleh Allah dari yang tidak ada kemudian menjadi ada. Kemudian setelah menjadi tidak ada lagi (mati). Kemudian Allah akan menghidupkan kembali untuk kehidupan yang kekal dan abadi di syurga atau di neraka. Sudah semestinya kita harus selalu berdzikir dalam arti selalu mengingat Allah dengan mengagungkan, mensucikanNya, tidak mendurhakainya dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun atau siapapun dimana dan kapan saja berada. Baik dalam keadaan senang atau susah, sehat atau sakit. Dan sebaik-baik dzikir adalah dengan membaca dan memahami al-Qur’an yang diturunkan untuk mengingatkan manusia agar tidak lupa kewajiban-kewajibannya sebagai manusia.

Selalu berpikir. Manusia adalah makhluk yang diberi keistimewaan oleh Allah swt dengan akal dan fikiran. Yang pemberian ini tidak diberikan kepada makhluk yang lainnya. Dengan akal pikiran ini manusia diberi kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.  Dan dengan akal ini pula manusia dapat menghafal, mengingat sesuatu dan mengetahui segala apa yang bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Oleh karenanya jika kita ingin menjadi manusia yang sukses di dunia dan akhirat, maka kita berkewajiban untuk dapat memenuhi dua syarat tersebut diatas dan jangan mengabaikan dan memilih antara satu dari yang lainnya. Dengan berdzikir saja tidaklah cukup bagi manusia untuk menjadi khalifahNya di bumi, sebagaiman tidaklah cukup pula jika seseorang hanya mengutamakan pikirannya saja tanpa dzikir.  Karena itu Allah swt. telah menolak proposal Malaikat agar dijadikan sebagai khalifahNya di bumi setelah mereka tahu karena mendapat informasi dari Allah bahwa manusia itu ada yang suka membuat kerusakan di bumi dan saling bunuh membunuh menumpahkan darah yang lainnya, sedangkan malaikat adalah makhluk yang selalu berdzikir dengan mensucikannya dari segala yang tidak layak bagi Allah swt. Penolakan Allah swt kepada Malaikat untuk menjadi khalifah di bumi karena mereka adalah makhluk yang hanya bisa berdzikir saja. Karena itu Allah menjelaskan bahwa kelayakan manusia menjadi khalifahnya adalah adalah karena dzikir dan berfikir terhadap ilmu Allah.

Oleh sebab itu, marilah kita sempunakan nikmat amanah Allah swt. Kepada kita dengan dijadikannya kita sebagai khaliafh dengan terus berdzikir dimana dan kapan pun kita berada dan terus semangat mencari ilmu antar dunia dan akhirat.

Entry filed under: Beranda. Tags: , .

Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah Pendaftaran SMP-IT Al Uswah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: