Menggapai Ketenangan Jiwa

September 29, 2009 at 1:46 am Tinggalkan komentar

thawaf4Sebagaimana  telah diketahui dan menjadi kesadaran  bahwa keimanan, keikhlasan, kesabaran dan selalu optimis dalam semua keadaan adalah sifat-sifat yang mendasar yang harus dimiliki dan tertanam kuat dalam jiwa seorang. Tetapi sifat-sifat itu tidak mungkin dapat dimiliki oleh siapapun kecuali oleh mereka yang telah merasakan nikmatnya keimanan. Atau oleh mereka yang telah menyatukan dirinya dan kehidupannya dengan seluruh ajaran agama

Ketika seorang telah mencapai derajat yang seperti ini, maka jiwa-jiwa mereka akan tenteram bersamanya. Setiap tarikan nafasnya akan menambah kekuatan keimanan dan ketaqwaannya. Jiwanya akan memantulkan cahaya ruhani yang mampu menembus sampai ke dasar-dasar perasaan yang terjauh. Mereka akan menjadi seorang yang sholeh yang selalu  memberi manfaat bagi sesamanya. Mereka akan  menjadi seorang mukmin yang bertaqwa, seorang muslim yang waro’, seorang manusia yang memiliki ketulusan dan keikhlasan serta memiliki kepribadian

Cukuplah kiranya keutamaan dan pengaruh ketaqwaan merupakan sumber kebaikan dalam hal apa saja. Yang terpenting adalah bagaimana cara untuk menumbuhkan ruhiyah yang akan mengantarkan seseorang kepada derajat tertinggi ketaqwaannya. Bagaimana juga agar segala penyakit dalam hati segera bisa dicarikan dan ditemukan obatnya. Agar kering-kerontangnya jiwa yang dirasa segera bisa dicarikan jalan keluarnya. Berikut ini diantara beberapa jalan yang seharusnya ditempuh untuk mendapatkan kesempurnaan jiwa.

Memperbanyak membaca Al Qur’an dengan cara Tadabbur adalah Jalan pertamanya. Bacaan Al Qur’an yang disertai Tadabbur dan khusyu’ akan mampu mempertajam pandangan yang sudah tumpul dan akan mampu sebagai pemusnah pandangan-pandangan yang sempit, serta obat bagi hati yang sedang sakit. Apabila hal tersebut sering dilakukan maka akan terbukalah belenggu-belenggu yang memborgol hatinya dan memancarnya cahaya Al Qur’an dalam jiwanya.

Rasulullah saw sendiri selalu membaca Al Qur’an secara rutin. Beliau juga memohon kepada Allah swt agar menjadikan Al Qur’an sebagai taman dalam hatinya, cahaya bagi pandangannya, penghapus duka dan pemusnah kebingungan serta kegalauan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh An Nasai, At Tirmidzi dan Al Hakim Beliau saw berdo’a:

“Ya Allah, aku hamba-Mu, anak hamba-Mu yang laki-laki (bapak) dan anak hamba-Mu yang perempuan (ibu), ubun-ubunku ada ditangan-Mu, aku berjalan berdasarkan hokum-Mu, melaju dalam ketentuan-Mu. Aku memohon kepada-Mu, nama yang Engkau berikan untuk diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di-sisi-Mu, jadikan Al Qur’an sebagai taman hatiku, cahaya mataku, penghapus duka dan pelenyap kebimbanganku… dan tidak ada kemampuan dan kekuatan kecuali dari Allah”

Membaca al Qur’an kadarnya berbeda-beda tergantung kemampuan masing-masing. Para ulama menganggap makruh apabila seseorang mengkhatamkan Al Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari. Mereka berkata bahwa mengkhatamkan Al Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari adalah tergesah-gesah, hal ini tidak mendukung si pembaca untuk memahami dan bertadabbur. Dan menkhatamkan Al Qur’an dalam waktu lebih dari tiga bulan adalah keterlaluan dalam meninggalkan Al Qur’an.

Jalan kedua adalah selalu meneladani semua sisi dari kehidupan Rasulullah saw. Baik itu dalam hal ibadah maupun kezuhudannya. Sifat tawadlu’ dan kebijaksanaannya, kekuatan fisik dan keberaniannya. Dan diantara fenomena yang paling menonjol dari kehidupan Nabi saw adalah bagaimana Beliau menyatukan urusan Diin (agama) dengan urusan dunia, ibadah dan kehidupan, tazkiyah dan jihad tanpa menimbulkan ketimpangan dalam segi apapun.

Syaikh Abdurrahman Azam mengatakan: “.. yang sangat menarik dalam ta’abbud Nabi saw adalah kemampuan beliau yang mengagumkan dalam menyatukan antara ibadahnya yang mencapai derajat paling tinggi dan urusan-urusan keduniaan, urusan-urusan da’wah dan jihad. Beliau sendirian menghadapi seluruh umat manusia, mengendalikan negera yang masih baru di hadapan dunia, mengirim utusan kepada raja-raja dan menda’wahi mereka, menerima kedatangan para utusan dan menjamunya, mengirim pasukan dan memimpinnya, berdialog dengan pemuka-pemuka agama (non-Islam) dan para penguasa yang ada di sekitarnya, mempersiapkan kemenangan, berhati-hati menjaga kemungkinan kalah, mengirim para pejabat pemerintahan, mengumpulkan harta (zakat) dan membaginya sendiri, beliau bersabda: “kalau akau tidak adil siapa lagi yang bisa adil”. Beliau mensyariatkan Dienullah Islam kepada manusia, merinci wahyu yang masih global, menjelaskan yang masih sulit, menggariskan sunnah-sunnah, mengembalikan permasalahan yang tidak dijelaskan oleh Allah swt kepada permasalahan yang sudah jelas”.

Diantara semua kesibukan itu Rasulullah saw tetap sebagai seorang ‘abid di siang harinya dan pada malam harinya.Khalwat Beliau saw dengan Allah Azza Wa Jalla dikenal lebih serius dibanding mereka yang berkhalwat di biara-biara atau di puncak-puncak gunung. Penyatuan antara agama dan dunia telah menjadikan dirinya sebagai figur yang tidak ada tandingannya sepanjang sejarah.

Jalan Ketiga adalah Melazimkan Dzikir kepada Allah dalam segala waktu dan keadaan. Yang dimaksud Dzikir adalah selalu merasakan keagungan Allah dalam semua kondisi. Dzikir bisa berupa dzikir fikiran, hati, lisan dan perbuatan. Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS Al Ahzab 41)

Imam Bukhari meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dibandingkan dengan yang tidak berdzikir adalah bagaikan orang yang hidup dengan orang yang mati”. Nabi saw bersabda: “Di hari kiamat nanti Allah akan mendatangkan satu kaum, wajah mereka bercahaya, mereka berdiri diatas mimbar yang terbuat dari mutiara, semua orang merasa iri kepada mereka, mereka bukan Nabi dan bukan pula para Syuhada. Seorang arab badui bangkit dari duduknya sampai setengah berdiri, kemudian bertanya, Ya Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka agar kami mengetahui. Rasulullah saw menjawab: Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai di jalan Allah meskipun mereka terdiri dari suku dan negeri yang berbeda, mereka berkumpul untuk berdzikir kepada Allah” (HR. Thabrani)

Bersungguh-sungguh dalam berdzikir kepada Allah swt akan mengantarkan kita kepada tingkat dan derajat ruhani yang tinggi. Seorang mu’min akan menemukan kenikmatan dan ketentraman dzikrullah dalam hatinya ketika ia merasakan adanya keagungan Allah telah menancap dalam hatinya. Dengan demikian kehidupannya akan selalu diliputi ketentraman dan kebahagiaan. Firman Allah swt yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (QS Arra’d 28)

(diambil dari berbagai sumber)

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Bacaan Yang Mengesankan Indahnya Jilbab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: