Pernikahan Yang Bersahaja

Juni 24, 2009 at 4:24 am Tinggalkan komentar

Adalah Said Ibnu Musayyib rahimahulloh, seorang figur tokoh dan guru yang memiliki keteladanan yang patut dicontoh. Beliau memiliki dan memimpin sebuah majelis ilmu (halaqoh) yang cukup besar di Masjid Nabawi Madinah, Di samping halaqoh-halaqoh yang lain yang ada di masjid Nabawi, seperti halaqohnya ‘Urwah bin Zubair, dan Abdullah bin ‘Utbah rahimahumullah. Said ibnul Musayyib sendiri mempunyai seorang murid setia yang namanya Abu Wada’ah. Suatu ketika Abu Wada’ah beberapa kali tidak datang pada majelis halaqoh, tentu saja Said bin Musayyib merasa kehilangan murid setianya ini. Beliau merasa khawatir kalau-kalau ketidakhadirannya disebabkan karena sakit atau karena ada masalah yang menimpanya. Lalu beliau menanyakannya kepada murid-murid yang lainnya tentang keadaan Abu Wada’ah, tetapi mereka semua mengatakan tidak tahu.

Beberapa hari kemudian tiba-tiba Abu Wada’ah datang ke majlis kembali sebagaimana biasa.  Maka sang guru Said bin Musayyib segera menyambut kedatangannya dengan sapaan yang penuh perhatian seraya bertanya, “ke mana saja engkau ya, Abu Wada’ah”?, Maka Abu Wada’ah menjawab “Istriku meninggal dunia, sehingga aku sibuk mengurusinya” jawabnya. Sang guru kemudian berkata “Mengapa  tidak beritahu kami sehingga kami bisa menemanimu dan mengantarkan jenazah istrimu serta membantu segala keperluanmu” Abu Wada’ah menjawab “Terima kasih Jazaakallahu kahairan” sambil menyembunyikan perasaannya yang terkesan memang sengaja tidak memberi tahu karena khawatir merepotkan gurunya.

Tidak lama kemudian Said bin Musayyib menghampiri Abu Wada’ah dan membisikinya seraya berkata, “Apakah engkau belum terpikir untuk mencari istri yang baru ya Aba Wada’ah”, “Yarhamukallah, siapa orangnya yang mau mengawinkan anak perempuannya dengan pemuda macamku yang sejak kecil yatim, fakir dan hingga sekarang ini aku hanya memiliki dua sampai tiga dirham” tandas Abu Wada’ah yang tampaknya ingin bersikap realistis terhadap keadaan dirinya. Sang guru kemudian berkata “Aku yang akan mengawinkanmu dengan anak perempuanku”. Abu Wada’ah terkejut dan dengan terbata-bata dia berkata“ Eng,…engkau akan mengawinkanku dengan anak perempuanmu, padahal engkau tahu sendiri bagaimana keadaanku”, Sang guru menjawab “Ya,…kenapa tidak, karena ketika kami sudah kedatangan seseorang yang kami ridha terhadap agamanya dan akhlaknya maka kami akan aku kawinkan anak perempuanku dengan orang itu, dan engkau termasuk orang yang kami ridhoi”.

Lalu dipanggilnyalah murid-murid yang ada di majelis halaqah tersebut untuk menyaksikan akad nikah Abu Wada’ah dengan anak perempuan gurunya dengan mahar sebanyak dua dirham dan Abu Wada’ah benar-benar terkejut dengan kejadian tersebut sehingga tak tahu harus berkata apa. Dan setelahnya, masih antara kaget dan girang yang berkecamuk dalam hatinya, ia pulang menuju rumahnya sampai-sampai ia juga lupa kalau hari itu ia sedang shaum. Sepanjang perjalanan dia terus berfikir dari mana ia akan menafkahkan istrinya sampai tak terasa ia sudah sampai di rumah sesaat sebelum adzan Maghrib tiba. Lalu dia berbuka dengan sepotong roti dan seteguk air baru saja menikmati rotinya, tiba-tiba ada suara yang mengetuk pintu, “siapa yang mengetuk pintu”, tanyanya dari dalam rumah, “Said” jawab suara di balik pintu yang sepertinya dia sudah mengenalinya. setelah dibukanya tiba-tiba sang guru sudah ada di hadapannya, Abu Wada’ah mengira telah terjadi “sesuatu” dengan pernikahannya, lalu ia langsung menyapa sang guru seraya berkata, “Ya, Aba Muhammad mengapa tidak kau utus seseorang untuk memanggilku sehingga aku yang datang menemuimu”, Gurunya menjawab“Tidak, engkau lebih berhak aku datangi pada hari ini”.

Setelah dipersilakan masuk, Said langsung mengutarakan maksud kedatangannya seraya berkata, “Sesungguhnya anak perempuanku telah sah menjadi istrimu sesuai dengan syariat Allah SWT sejak tadi pagi, dan aku tahu tidak ada seorang pun yang menemanimu, menghiburmu dan melipur kesedihanmu. Maka aku tidak ingin engkau bermalam pada hari ini di suatu tempat sedang istrimu masih berada di tempat lain. Maka sekarang aku datang dengan anak perempuanku ke rumahmu”, lalu sang guru menoleh ke arah putrinya seraya berkata, “Masuklah engkau ke rumah suamimu wahai putriku, dengan menyebut asma Allah dan memohon berkah-Nya”. Maka masuklah anak perempuannya ke dalam rumah, dan ketika melangkahkan kakinya nyaris keserimpet (terinjak gaunnya) hampir jatuh terpeleset karena amat malunya, “sedang Abu Wada’ah cuma berdiri tertegun di hadapannya merasa kaget campur bingung tak tahu harus berkata apa”, Tetapi beberapa saat kemudian ia cepat-cepat menyusul istrinya ke dalam ruangan, lalu ia jauhkan cahaya lampu dari sepotong roti yang memang tinggal segitu-gitunya supaya tidak terlihat oleh istrinya. Baru setelah itu ia keluar rumah untuk memanggil ibunya untuk menemui menantu barunya.

Itulah keteladanan Said bin Musayyib yang menolak pinangan Abdul Malik bin Marwan, Khalifah Bani Umayyah yang ingin meminang putrinya, malah beliau segera mengawinkan putrinya dengan Abu Wada’ah, seorang muridnya yang sederhana dan tidak diragukan lagi kualitas keilmuannya.

Entry filed under: Dakwah. Tags: , , .

Ma’had Umar Buka Pendaftaran Memilih Yang Terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: