Pentingnya Tafaqquh-Fiddin

Juni 16, 2009 at 3:33 am Tinggalkan komentar

Allah swt berfirman: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” Q.S. At-Taubah: 122.
Ayat ini merupakan bayan dari Allah SWT tentang pentingnya “Tafaqquh Fiddin” sebagai upaya untuk memahami agama, pentingnya mencari ilmu dan “Tazawwud bil fahmi wal ilmi wa ats-tsaqafah” [berbekal ilmu, pemahaman dan pengetahuan] tentang agama yang hanif, agama yang fithrah dan agama yang menjadi “Mahajjatan Baidho’” [pedoman hidup yang putih dan bersih].
Mencari Ilmu merupakan suatu kuwajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Mencari ilmu merupakan suatu kegiatan sepanjang hidup dari kecil sampai dewasa, terutama ilmu-ilmu Syar’I, ilmu-ilmu untuk memahami Wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah sebagai “Al-Marji’iyyah Al-‘Ulyaa” [referensi utama] bagi setiap muslim sebagai “Al-Mi’yar Al-Asasi” [standar utama] untuk melihat ilmu-ilmu yang lainnya dan mengarahkan serta melandasinya.
Ayat tersebut di atas juga menunjukkan pentingnya proses “Ta’lim Muta’allim” [belajar mengajar] dan pentingnya tujuan atau target dan sasaran, karena selain “bertafaqquh fiddin” juga harus ada “wa liyundziruu qaumahum”, kemudian “la’allahum yahdzarun”. Ini sebuah proses yang teratur dan luar biasa. Ini adalah Manhaj yang Rabbani dalam mencari ilmu dan memahami agama.
Di dalam ayat ini Allah SWT juga mengkaitkan proses Tafaqquh Fiddin dengan kuwajiban untuk berjihad fi sabilillah atau tanfir, sehingga sesibuk apapun seorang da’I, seorang pejuang, seorang aktifis dan seorang mujahid tidak boleh mengabaikan belajar dan tafaqquh fiddin. Jika tidak mungkin, maka perlu ada upaya pendelegasian dan saling bergilir bergantian, sehingga hal seperti ini pernah di lakukan oleh Sayyida Umar bin Al-Khattab ra.
Pada dasarnya Berjihad atau berda’wah dan ber tafaqquh fiddin adalah dua hal yang tak terpisahkan, keduanya merupakan aktifitas yang harus berjalan terus hingga akhir zaman. Namun demikian masing-masing kadang-kadang memerlukan konsentrasi penuh agar mendapatkan pencapaian yang optimal sehingga sepanjang ada hubungan kerjasama yang baik. Ada sebagian ulama mengatakan: Berjihad hukumnya Fardhu Kifayah kecuali dalam kondisi tertentu menjadi Fardhu ‘Ain, sedangkan Mencari Ilmu itu Fardhu ‘Ain terutama untuk menjaga kelangsungan perjuangan di perlukan menjunjung tinggi sendi-sendi hokum dan keilmuan.
Akan tetapi bila terjadi sikap ekstrim dalam memahami bidang masing-masing, itu yang menimbulkan masalah, sebagai contoh apabila para ulama fiqih menuduh bahwa kelompok du’at dan aktifis da’wah itu bersemangat saja tetapi tidak bersemangat belajar, sebagaimana para aktifis da’wah dan jihad mengklaim bahwa hanya para ulama yang berjihad saja yang sah di ambil ilmunya.
Padahal keadaan Ummat Islam saat ini memerlukan perbaikan dan pembenahan secara total, dan yang paling serius adalah pada hal-hal sebagai berikut:
1.    Menghubungkan antara aspek tafaqquh fiddin dan berda’wah atau berjihad fi sabilillah. Menjunjung tinggi semangat keduanya secara tawazun dan proposional.
2.    Menghubungkan antara Lisanul Khaal dan Lisanul maqaal.
3.    Persatuan dan Kerukunan diantara para Da’i.
4.    Menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah.
5.    Mengurangi beban perbedaan pendapat dengan memperbesar sikap Tasaamuh antar Du’at.
6.    Menghormati Para Ulama sesuai perintah Agama.
7.    Menjalin sikap kasih saying antar Da’i.
8.    Membiasakan bersikap berbaik sangka kepada para pemimpin Ummat yang sudah banyak berbuat, banyak berkorban.
9.    Memperseedikit menuntuk hak dan lebih banyak memberi kuwajiban dan pengorbanan.
10.    Siap kembali pada Tujuan besar dengan secara tekun memperhatikan tujuan-tujuan kecil dan tujuan-tujuan antara.
SYARAT-SYARAT BERTAFAQQUH FIDDIN:
1.    Berniat secara benar dan berlandaskan keimanan.
2.    Memadukan antara al-fahmu dan al-‘amal, antara teori dan praktek.
3.    Bersemangat meraih pahala dan ridha Allah [Surga].
4.    Memelihara kesabaran dan kelangsungannya.
5.    Menghidupkan Masjis-Majlis Ilmu dan Majlis Ta’lim.
6.    Menyediakan daya dukung financial dan pendanaan.
7.    Mewujudkan Madrasah-Madrasah Formal Yang Berkwalitas.
8.    Menyusun Karya-Karya Ilmiyah Dalam Semua Bahasa dan Semua Ilmu Pengetahuan Sesuai Bidangnya Masing-Masing.
9.    Membuat Perpustakaan-Perpustakaan.
10.    Membuat Multaqa dan Muktamar Pesantren dan Sekolah.
11.    Melakukan Jaulah Dan Rihlah Ilmiyah di Lembaga-Lembaga Pendidikan.
Kesimpulannya: Bahwa Esensi Da’wah adalah Ilmu dan Amal yang benar untuk menuju ‘Izzul Islam Wal Muslimin. Jangan saudara berhenti untuk bertafaqquh fiddin dan beramal untuk Islam ini, Semoga Allah memberi kita semua Ihdal Husnayain. Wa minhum man qadhaa nahbahu, wa minhum man yantadzir, wamaa baddaluu tabdiila. (ditulis oleh H. Abdussalam Masykur)

Entry filed under: Dakwah. Tags: , .

Keikhlasan Ma’had Umar Buka Pendaftaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: