Meraih Kemenangan Sejati

April 28, 2009 at 5:47 am 1 komentar

Hakekat kemenangan yang sejati adalah kemenangan hati dan jiwa. Manakala hati dan jiwa selalu diliputi dengan perasaan syukur dan sabar serta qonaah terhadap semua ketentuan Allah swt. Jiwa yang selalu optimis dan tidak pernah putus asa adalah sifat-sifat kemenangan yang sebenarnya. Tetap meyakini bahwa janji-janji Allah swt akan selalu didapatkannya adalah cerminan kemenangan yang sesungguhnya. Tetapi memang masih banyak yang sering hanya membatasi pandangan kepada satu jenis kemenangan saja, yaitu kemenangan lahiriyah yang nampak dan terlihat secara kasat mata saja. Padahal tidak selalu kemenangan seperti ini yang Allah swt janjikan kepada para Rasul dan seluruh hamba-hamba-Nya yang beriman.
Di antara bentuk kemenangan itu adalah adanya Jiwa yang Sabar dan Pantang Menyerah.Dalam Sirah Nabawiyah dikisahkan pada suatu ketika kabilah-kabilah Quraisy pernah melakukan kesepakatan untuk memboikot kaum mukminin dan mengurung mereka di Syi‘ib (lembah) yang tandus dan gersang. Selama tiga tahun mereka tidak pernah mengadakan transaksi jual beli. Sampai-sampai, kaum mukminin tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan, selain ranting-ranting kering dan serangga-serangga bumi yang mereka tangkap. Bahkan, hampir saja kaum mukminin binasa kalau bukan karena limpahan rahmat dari Alloh swt yang selalu menghampiri mereka.
Kemudian diantara tanda kemenangan itu adalah  adanyaJiwa yang Berani dan kuat memegang Keyakinan, kisah Ashabul Ukhdud menggambarkan keadaan ini. Dikisahkan bahwa mereka dilemparkan ke dalam parit-parit api, dan tidak sudi memberikan tawar-menawar dalam urusan agama yang mereka yakini. Mereka lebih memilih mati di jalan Alloh, walaupun setelah itu thoghut mengubur mereka di parit-parit api yang ia buat, lalu ia perintahkan penjaga-penjaga dan pasukannya untuk melemparkan orang-orang beriman itu ke dalam api. Muncullah sebuah pemandangan yang sungguh sangat mengerikan, inilah yang menjadi hukuman bagi yang melemah atau coba melarikan diri. Akan tetapi, tidak tercatat satu riwayat pun yang menyebutkan ada satu saja di antara mereka yang mundur ke belakang, takut, atau melarikan diri. Bahkan, yang kita temukan adalah maju terus dan keberanian, mereka malah menceburkan dirike dalam api. Seolah nyawa mereka telah mereka persiapkan untuk menjadi tebusan bagi agama mereka. Maka, pada dasarnya merekalah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Bahkan, Alloh menyebut tindakan mereka sebagai kemenangan besar:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, mereka mendapatkan surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai sungai. Itulah kesuksesan yang besar.” (QS. Al-Burûj: 11)
Dan tanda kemenangan yang sejati lainnya adalah adanya jiwa yang mencintai Kehidupan Akhirat diatas segala-galanya. Dan dari Anas bin Malik a ia berkata, “Pamanku, Anas bin Nadhor, tidak ikut dalam perang Badar. Ia berkata, “Wahai Rosululloh, aku tidak ikut dalam perang pertama kali engkau memerangi orang-orang musyrik, seandainya aku nanti mengikuti perang melawan orang-orang musyrik, tentu Alloh akan melihat apa yang bakal kulakukan.” Maka tatkala pecah perang Uhud dan kaum muslimin kocar-kacir, ia berkata, “Ya Alloh, aku memohonkan uzur kepada-Mu atas yang diperbuat shahabat-shahabatku, dan aku berlepas diri dari apa yang diperbuat orang-orang musyrik itu.” Setelah itu, ia maju ke depan dan sempat bertemu dengan Sa‘ad bin Mu‘adz, ia berkata, “Wahai Sa‘ad bin Mu‘adz, surga… demi Robb Nadhr, surga… demi Robb Nadhr, aku mencium baunya di bawah bukit Uhud.” Sa‘ad mengatakan, “Wahai Rosululloh, aku tidak mampu melakukan seperti yang ia lakukan.” Anas melanjutkan kisahnya, “Usai peperangan, kami temukan pada tubuhnya ada 80 luka lebih, mulai tebasan pedang, tikaman tombak, atau tusukan panah, kami menemukannya telah terbunuh dan dicincang-cincang tubuhnya oleh kaum musyrikin. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada seorangpun mampu mengenalinya lagi selainsaudarinya, ia mengenali lewat jari telunjuknya.” Kemudian Anas mengatakan, “Kami mengira bahwa ayat ini turun mengenai orang-orang seperti dia atau yang semisal: “Di antara orang-orang beriman ada para lelaki yang berlaku jujur terhadap janji mereka kepada Alloh; maka di antara mereka ada yang terbunuh, dan ada yang menunggu-nunggu, dan mereka sama sekali tidak berubah.” (QS. Al-Ahzâb: 23)
Makna kemenangan yang hampir serupa dengan ini, dapat kita temukan dalam hadits Khobbab bin Al-Arts, ketika ia datang kepada Rosululloh dan mengatakan, “Tidakkah tuan memintakan pertolongan untuk kami? Tidakkah tuan memanjatkan doa untuk kami?” Mendengar keluhan ini, Rosululloh SAW bersabda, “Ada seorang lelaki dari umat sebelum kalian yang ditanam di dalam bumi, setelah itu dibawakan gergaji, lalu ia digergaji sejak dari kepalanya sampai akhirnya terbelah dua, tetapi itu tidak memalingkan dirinya dari agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi, sampai terlihat tulang-tulang di balik kulitnya,
tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya.”

Entry filed under: Dakwah. Tags: , , , .

Fiqih Zuhud Dan Qanaah Pendaftaran SMP-IT Al Uswah

1 Komentar Add your own

  • 1. akhmad Rouf  |  Maret 12, 2010 pukul 1:29 am

    salam kenal dari Akhmad Rouf @ Salatiga

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: