Fiqih Zuhud Dan Qanaah

April 24, 2009 at 4:09 am Tinggalkan komentar

Kehidupan dunia itu bersifat sementara. Dunia bukan tempat tinggal yang abadi. Allah swt dan Rasul-Nya telah banyak memberikan informasi kepada kita tentang hakikat dunia. Allah swt berfirman: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid : 20)
Kehidupan dunia yang sementara ini, harus kita jadikan sebagai bekal untuk menuju kehidupan yang kekal dan abadi, yaitu kehidupan akhirat. Karena dunia adalah jembatan menuju akhirat. Allah swt berfirman “Dan carilah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu kebahagiaan akhirat, namun jangan kamu lupakan bagianmu di dunia…”(QS. Al-Qashah : 77). Dunia adalah mazra’ah (alahn amal) yang kita akan temukan hasilnya kelak. Allah swt berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)
Rasulullah saw bersabda:Dari Sahl bin Sa’d As-Saidy, ia berkata, “Seseorang telah mendatangi Nabi saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukakanlah kepadaku amalan yang sekiranya aku mengerjakannya, maka Allah dan manusia mencintaiku” Lalu Rasulullah saw bersabda, “Zuhudlah kamu kepada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah kamu pada apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)
Rasulullah SAW sejak awal mengingatkan para shahabatnya -di mana mereka adalah generasi terbaik umat ini- tentang fitnah kenikmatan dan kelapangan dunia. Tentunya, agar jiwa para shahabat tidak terftinah dengan dunia dan mampu mengendalikannya sebagai sarana meraih kehidupan akhirat. Beliau saw bersabda:
“Sesungguhnya diantara yang paling aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah terbukanya kenikmatan dunia dan perhiasannya atas kalian…” (HR. Bukhari) Dalam sabdanya yang lain: “Maka demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian tetapi dihamparkannya dunia sebagaimana yang dialami orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka dan juga akan dihancurkannya sebagaimana mereka.” (HR. Bukhari)
Zuhud bukan berarti harus meninggalkan dunia. Zuhud juga bukan berarti kita tidak diperbolehkan ikut serta dalam panggung politik, meraih jabatan, dan jauh dari dunia usaha. Akan tetapi, yang dimaksud dengan hakikat zuhud adalah penguasaan dunia tanpa harus mengganggu jiwa. Dunia boleh di genggaman kita, tapi tidak boleh melekat dalam hati kita.Apapun yang kita miliki dari kekayaan yang diberikan Allah, bila kita gunakan dan kita belanjakan untuk membangun amal kebaikan dan amal unggulan dalam bingkai ukhrawi kita, maka hal ini juga termasuk zuhud.
Banyak shahabat dan tabiin yang memiliki harta dan kekayaan yang melimpah ruah. Akan tetapi mereka termasuk orang-orang yang paling zuhud pada masanya. Dari kalangan shahabat lahir tokoh zuhud seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan Saad bin Abi Waqash. Dari kalangan tabiin muncul tokoh yang paling zuhud seperti Abdullah bin Mubarak, Sufyan Ats-Tsauri, dan Al-Laits bin Said, bahkan beliau berkata “Sekiranya kita tidak memiliki harta, maka mereka akan menjadikan kita seperti telapak meja.”
Coba kita renungkan pernyataan para salafus shalih tentang zuhud yang dikutip Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berikut ini:…Aku mendengar Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah, semoga Allah menyucikan ruhnya, berkata, “Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat” Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Zuhud adalah pendek angan-angan, bukan memakan makanan biasa dan memakai pakaian kasar”Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata, “Zuhud itu seperti yang dijelaskan dalam firman Allah, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al-Hadid : 23).

Maka, orang-orang yang zuhud adalah orang yang tidak terlalu gembira terhdap dunia yang ada dan tidak bersedih terhadap dunia yang hilang”
Selain sifat zuhud ini, setiap kita jug harus memiliki sifat qana’ah. Qana’ah berarti ridha dengan jatah atau bagian kita, menerima sesuatu yang terjadi dan yang telah ditetapkan Allah, baik yang berkaitan dengan rezeki, jabatan, dan musibah. Qana’ah sangat urgen dimiliki oleh seorang muslim. Karena qana’ah merupakan benteng jiwa yang mampu menahan arus dan gelombang frustasi, futur, lemah, dan tak berdaya di saat harapan dan keinginan jiwa tak tercapai.
Manifestasi sifat qana’ah dalam diri seorang muslim adalah penerimaan dan keridhaan atas keberhasilan atau kegagalan setelah melakukan seluruh usaha dalam sebuah perjuangan. Inilah yang dimaksud dengan qana’ah rabbaniyah yang termaktub dalam hadits “radhiitu billaahi rabban” (aku ridha Allah sebagai Rabb). Menerima dengan penuh keikhlasan atas semua yang terjadi. Sebagaimana Allah swt berfirman:“ Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al-Hadid : 22-23)
Dan qana’ah juga berati hilangnya ras iri dan dengki terhadap kondisi saudara kita yang lain. Mungkin ada saudara kita yang telah mendapatkan amanah jabatan, memiliki kekayaan yang melimpah dari hasil kemitraan, partnership, dan pengembangan usaha halal lainnya, maka sebagai seorang muslim, kita perlu membersihkan hati dari sifat iri dan dengki. Inilah inti doa yang diajarkan Allah swt kepada kita: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”” (QS. Al-Hasyr : 10)
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Entry filed under: Dakwah. Tags: , , .

Mari Kita Berhenti Sejenak Meraih Kemenangan Sejati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: