Khusyuk Tiada Henti

Maret 2, 2009 at 4:41 am Tinggalkan komentar

Alangkah Indahnya suasana dalam hati ketika seseorang telah mencapai derajat kekhusukan dalam shalatnya. Kalimat demi kalimat yang diucapkannya terasa sangat  berkesan. Kalimat takbir, bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an dan doa-doa lainnya bergitu sangat menghanyutkan serta menerbangkan jiwa ke haribaan yang Maha Kuasa. Dan setiap gerakan demi gerakan dilaluinya dengan segenap ketenangan hati dan keindahan rasa. Alangkah nikmatnya dalam mengerjakan ibadah disaat hati, jiwa dan raga menyatu untuk rukuk dan bersujud serta merendahkan diri di hadapan Ilahi Rabbi.

Menurut Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah, khusyuk yang benar itu adalah kekhusyukan iman. Menurut beliau, kekhusyukan iman ialah kekhusyukan (ketundukan) hati kepada Allah swt dengan cara mengagungkan-Nya, merasa takut kepada-Nya dan juga merasa malu kepada-Nya. Kemudian setelah itu, memasrahkan hati kepada-Nya dalam bentuk kepasrahan yang disertai perasaan takut, malu, mengakui nikmat-nikmat-Nya dan juga mengakui kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya. Jika perasaan seperti ini sudah bersemayam dalam hati, maka hati seseorang pasti akan khusyuk (tunduk) dan hal ini akan diikuti oleh organ-organ  tubuh yang lainnya.”

Khusyuk ialah merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya disaat kita berdiri di depan-Nya. Khusyuk juga adalah pengakuan terhadap seluruh nikmat yang Allah swt berikan yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Khusuk juga akan  mengingatkan kita akan kelalaian dalam mengelola dan memanfaatkan nikmat yang telah diberikan selama ini. Hati seseorang akan berada di puncak ketundukan (khusyuk) disaat dia mengingat kembali kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Kemudian ia juga akan ingat tentang kelalaian dirinya terhadap rahmat dan kasih sayang Allah swt kepadanya.

Sedang khusyuk palsu, maka itulah khusyuk kemunafikan menurut Ibnu al-Qayyim. Ia berkata, “Organ tubuh terlihat mengerjakan hal-hal yang dipaksakan dan hati tidak khusyuk. Salah seorang sahabat berkata, ‘aku berlindung kepada Allah dari Khusyuk kemunafikan.’ Ditanyakan kepada sahabat itu, ‘apa itu khusyuk kemunafikan?’ Sahabat itu menjawab, ‘Tubuh terlihat khusyuk, tapi hati tidak khusyuk’.”

 

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Di Keheningan Pagi Ikut Pemilu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: