Soliditas Dengan Berbaik Sangka

Desember 15, 2008 at 4:28 am Tinggalkan komentar

Membangun sodilitas barisan kadang tidak semudah yang dibayangkan. Membutuhkan usaha yang keras dan tidak mengenal lelah serta juga kadang membutuhkan waktu yang cukup lama. Menyatukan hati dan pikiran sekian banyak orang dari berbagai latar belakang, kemudian mengikatnya dalam satu kebersamaan  langkah dan gerakan merupakan pekerjaan yang tidak sederhana dan juga asal-asalan. Penyiapan individu-individu yang benar-benar matang pembinaannya sehingga mereka memiliki pemahaman yang utuh serta memiliki komitmen yang kuat menjadi prioritas pertama yang harus dilakukan. Karena dari sinilah batu bata kebersamaan akan bisa ditata dan bangunan persatuan akan bisa ditegakkan.

Keberhasilan membangun integritas kepribadian itulah yang menjadi ukuran keberhasilan Rasulullah saw dalam menyiapkan kader-kader pendukungnya diawal-awal perjuangannya. Sahabat-sahabat yang disebut sebagai asabiquunal-awwaluun tercatat sebagai sahabat-sahabat yang sangat terpercaya dan sangat tahan terhadap fitnah dan goncangan. Mereka selalu terbukti sebagai pribadi yang menonjol dan yang terdepan dalam setiap penyelesaian setiap masalah yang dihadapi kaum muslimin saat itu. Lihatlah bagaimana mereka tampil dengan gagah dan perkasa saat menghancurkan musuh-musuhnya di perang Hunain ketika pasukan Islam kewalahan dan hampir berada diambang kekalahan.

Jaminan integritas pribadi para binaan Rasulullah saw ini  juga sangat nyata ketika situasi dan kondisi yang ada menguji kesetiaan mereka. Salah satu momen penting yang dicatat oleh tinta emas sejarah. Sebagaimana halnya yang terjadi saat tragedi “Haditsul Ifki” , sebuah fitnah keji yang pernah menimpa Ummul Mukminin Syayyidatina Aisyah radhiAllahu-anha istri Rasulillah saw. Banyak diantara kaum muslimin saat itu yang tidak terjamin akhlaknya yang turut menyebarluaskan fitnah tersebut sehingga menimbulkan keresahan dimana-mana. Gosip dan desas-desus seputar peristiwa itu menjadi liar dan tak terkendali sehingga menjadi buah bibir pada sebagian kaum muslimin.

Tetapi hal tersebut tidak terjadi pada Istri sahabat Abu Ayyub Al Anshori. Lihatlah bagaimana sikap shahabiyat pilihan  ini yang selalu berhasil menjaga lisannya dan lebih senang mengedepankan husnudzhannya (berbaik sangka) kepada ummul Mu’minin Aisyah ra.  Dialah figur yang mewakili figur-figur keluarga shahabiyah lainnya yang berhati mulia. Kematangan integritas beliau sangat nyata ketika ia menyikapi kasus tersebut dengan penuh hunuddzhan dan  rasa ukhuwah serta perasaan cinta terhadap saudaranya karena Allah swt.

Berkenaan dengan fitnah dan gunjingan yang menimpa Syayidatina Aisyah ra, Isteri abu Ayyub al-anshary berkata kepada suaminya, “Ya..Abaa ayyub!,  lau kunta sofwaana hal taf’alu bihurmati rasulillaahi suu’an, wa huwa khairun minka, Ya…Abaa ayyub lau kuntu ‘Aisyah maa khuntu RasulAllahi abadan” (Wahai Abu Ayyub, Kalau seandainya engkau yang menjadi Safwan apakah engkau berbuat yang tidak-tidak kepada isteri Rasulullah saw.  Padahal pribadi Safwan lebih baik dari engkau. Dan wahai abu Ayyub, kalau seandainya aku yang menjadi Aisyah, tentu tidak akan pernah aku mengkhianati Rasulullah saw dan tentu saja Aisyah lebih baik dariku).

Dengan kata lain istri Abu Ayyub Al-Anshari RA mengingatkan suaminya bahwa pribadi dia tidak lebih baik dari Shafwan ra saja tidak ada pikiran-pikiran buruk terhadap Aisyah RA sebagaimana yang digunjingkan oleh banyak orang. Apalagi Shafwan ra yang kwalitas pribadinya jauh lebih baik dari suaminya. Sehingga mustahil dalam pandangan istri Abu Ayyub RA Shafwan melakukan hal-hal sebagaimana yang dituduhkan oleh banyak orang. Begitu juga istri Abu Ayyub Al-Ansari ra yang berkata tentang kwalitas dirinya sendiri. Bahwa dirinya tidaklah lebih baik dari kwalitas pribadi Aisyah ra. Oleh karenanya tidak mungkin pernah terlintas untuk mengkhianati suaminya. Apalagi seorang Aisyah yang dalam pandangannya jelas-jelas jauh lebih baik dari dirinya. Sudah barang tentu mustahil terlintas pikiran jelek mengkhianati suami (berselingkuh) seperti yang digosipkan oleh banyak orang. 

Sikap seperti inilah yang semestinya dikembangkan dalam membangun kerjasama yang solid. Perasaan berbaik sangka kepada sesama saudara seiman dan seperjuangan harus menempati bagian terdepan dalam menyikapi segala persoalan yang menyangkut kepentingan bersama. Hilangkan perasaan iri dan dengki yang bisa menggerogoti rasa persaudaraan. Utamakan meminta penjelasan sebelum mengambil kesimpulan terhadap setiap berita dan kabar tidak baik yang disampaikan. 

 

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Rumah Tangga Muslim Yang Menentukan Kemenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: