Rindu Tanah Suci-13: Tiba Di Tanah Suci

November 28, 2008 at 5:45 am Tinggalkan komentar

            Setelah menikmati hidangan makan malam yang di sediakan, saya berharap bisa memejamkan mata sambil tiduran di kursi pesawat yang udaranya dingin dan nyaman itu. Tetapi sepanjang perjalanan yang panjang antara Surabaya dan Jeddah, yang memakan waktu hamper sepuluh jam itu, saya tidak bisa melakukannya. Sulit sekali rasanya mata ini bisa terpejam seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa jamaah calon haji lainnya. Karena tetap juga tidak bisa tidur, maka kamipun memperbanyak dzikir sambil terus mensyukuri nikmat Allah swt yang telah diberikan kepada kami. Kemudian tidak lupa juga berdoa kepada Allah swt agar perjalanan kami lancar dan selamat sampai tujuan.

            Setelah hampir sembilan jam berada di udara, kami diberitahu bahwa pesawat akan memasuki miqot. Petugas memberitahukan kepada para jamaah calon haji yang akan memulai umroh dari miqot Yalamlam hendaknya segera bersiap-siap. Sayapun segera mempersiapkan diri. Baju putih yang saya kenakan sejak keberangkatan kami di asrama haji Surabaya saya lepas. Dan saya menggantinya dengan pakaian ihram yang atasan. Karena sehelai pakaian ihram yang bawahan sudah saya kenakan sejak di asrama haji. Setelah lengkap saya memakainya dengan sempurna, barulah saya dan istri mengucapkan niat umrah dengan dilafalkan. Labbaik Allahumma umrotan.

            Maka sudah resmilah kami memakai ihram dan berniat untuk umrah. Sementara jamaah calon haji yang lain melihat dan mengamati apa saja yang kami lakukan. Mereka tidak berkata apa-apa dan juga tidak bertanya apa-apa. Setelah resmi memakai ihram, kami kemudian memperbanyak membaca talbiyah dengan suara yang lirih tidak keras. Hati rasanya berdebar-debar setiap kali kalimat dalam terucap dari bibir kami. Sepanjang perjalanan yang tidak lama lagi akan sampai di tujuan, kami kumandangkan talbiyah dan puji-pujian kepada Allah Azza wa Jalla.

            Dan tidak lama kemudian tampaklah kerlap-kerlip lampu di bawah sana sebagai pertanda pesawat akan mendarat. Petugas memberitahukan kepada seluruh penumpang untuk bersiap-siap melakukan pendaratan dengan memakai sabuk pengaman yang tersedia di kursi masing-masing. Dan akhirnya detik-detik yang menegangkan itu segera berlalu ketika pesawat mampu mendarat dengan sempurna. Alhamdulillah, kami semua bersyukur kepada Allah swt, kami telah sampai di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Kami mendarat di bandara terbesar di Saudi Arabiah tersebut sekitar pukul sebelas malam waktu setempat.

            Tangga demi anak tangga pesawat kami turuni dan sampailah kami menginjakkan kaki pertama kami di Negara yang memiliki dua tanah suci tersebut. Saya sempatkan untuk memperhatikan seluruh sudut area bandara yang cukup luas tersebut sebelum kami diarahkan petugas untuk menuju ke suatu tempat transit sementara sebelum kami menuju kota suci Makkah.

Tempat transit itu masih berada di area bandara dan merupakan tempat terbuka dengan dilengkapi alas karpet tebal beserta kursi sandaran di salah satu sisinya. Kami semua satu kloter berkumpul disitu dan menaruh barang-barang bawaan termasuk tas tentengan tempat kain ihram yang hendak dikenakan disitu. Di tempat itulah nantinya kawan-kawan jamaah calon haji lainnya akan memakai pakaian ihramnya dan mengambil miqatnya untuk umrah. Tidak jauh dari tempat tersebut tersedia kamar mandi dan MCK. Segala keparluan calon jamaah haji terkait dengan urusan MCK akan dipandu petugas haji yang selalu standby di lokasi. Koper-koper kami juga sudah sampai dan tertata rapi berjajar di tempat tidak jauh dari lokasi kami berada.

Karena saya dan istri sudah ber-ihram di pesawat, jadi saya bisa lebih santai menikmati masa transit sambil menunggu kawan-kawan yang lain mempersiapkan memakai pakaian ihramnya. Masa jedah itu juga kami manfaatkan untuk jalan-jalan di sekitar lokasi untuk lebih jauh mengenal setiap sudut yang ada di bandara. Tetapi karena malam hari sehingga tidak semua lokasi bisa dilihat dengan jelas karena gelapnya malam. Kami juga sempat mendatangi wartel (warung telekomonikasi) di salah satu sudut bandara. Niat awalnya adalah ingin mengabarkan kepada keluarga di rumah bahwa kami telah sampai dengan selamat di Jeddah. Tapi niat itu segera kami urungkan begitu melihat wartel itu dalam kondisi penuh dengan antrean panjang. Kalau kami ikut antre, bisa-bisa kami ketinggalan rombongan menuju Makkah demikian kata saya dalam hati.

Kami kembali ke tempat kami semula dan duduk-duduk di kursi panjang yang terbuat dari bahan seperti plastic. Kami bercengkramah dengan jamaah yang sudah mengenakan pakaian ihramnya. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya semua jamaah calon haji sudah mengenakan pakaian ihramnya dan bersiap-siap berangkat menuju kota Makkah.

Sebelum berangkat dan sebelum menaiki bus yang membawa kami, kami diperintahkan untuk berbaris dengan sesama anggota rombongan masing-masing. Hal ini dilakukan agar tidak ada satupun anggota rombongan atau anggota regu yang tertinggal. Ketua rombongan dan ketua regu akan selalu memastikan bahwa semua anggotanya masih lengkap sesuai dengan hitungan semula. Setelah dirasa telah lengkap, kami diperintahkan untuk memasuki bus kami masing-masing. Masing-masing rombongan dikumpulkan dalam satu bus sendiri-sendiri. Dan di tengah malam yang gelap itu berangkatlah bus-bus tersebut membawa kami menuju kota Makkah.

Di sepanjang perjalanan ketua rombongan selalu memandu jamaah untuk mengucapkan talbiyah dan mengumandangkan sholawat nabi saw. Hal itu terus berlangsung sampai kami memasuki kota Makkah al Mukarramah.. Kami sampai di pondokan yang kami tuju sekitar subuh. Begitu sampai di pondokan kami dikumpulkan di masing-masing regu. Agendanya adalah pembagian kamar dimana tempat kami tinggal selama di Makkah. Masing-masing kamar biasanya diisi antara empat sampai enam orang. Kloter kami menempati pondokan yang berada di kawasan Haffair sekitar dua kilometer sebelah barat masjidil Haram dan berada di depan hotel Metropolitan. Pondokan kami jug berupa hotel yang baru dibangun dengan 14 lantai. Dan setelah pembagian kamar diundi kami menempati sebuah kamar yang bagus di lantai enam.

Entry filed under: Lintasan. Tags: , , , .

Berbuat Baik Kepada Orang Tua Semangat Pengorbanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: