Meraih Ketentraman Jiwa

November 17, 2008 at 5:11 am 3 komentar

Jiwa akan menjadi tenang saat seseorang sedang berdzikir mengingat Allah swt. Karena dengan berdzikir hati menjadi tenteram dan jiwa menjadi tenang. Oleh karenanya kita diperintahkan untuk memperbanyak dzikir dalam seluruh aspek kehidupan. Pengertian dzikir bisa berarti mengingat Allah SWT dengan banyak menyebut nama-Nya, baik secara lisan maupun di dalam hati. Seperti banyak menyebut Subhanallah wabi hamdihi subhanallah al ‘azim Dua kalimat diatas seperti yang disabdakan Rasulullah saw merupakan kalimat yang ringan di ucapkan oleh lisan tapi sangat berat timbangan dan sangat dicintai oleh Allah. 

Dan berdzikir juga bisa berarti mengingat Allah dalam berbagai keadaan,  bagaimanapun keadaannya ia tetap mengingat Allah. Ia selalu merasa dilihat dan diawasi segala gerak geriknya oleh Allah. Sehingga dimanapun berada ia tidak berani melakukan hal yang dilarang oleh Allah. Contoh : Puasa, ketika kita berpuasa kita menahan lapar dan haus serta  menahan dari perkataan dan perbuatan yang tidak baik. Hal ini kita lakukan setiap hari sampai satu hulan di bulan romadhan. Puasa melatih  pikiran dan hati kita untuk memahami  bahwa Allah mengetahui segala perbuatan yang kita lakukan. Dengan demikian kita  tidak berani melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah.  Inilah makna dzikir kepada Allah .

Dzikir dan seluruh amal shalih sangat erat kaitannya dengan ketenangan bathin. Dan ketenangan bathin itu sangat erat hubungannya dengan kebahagiaan hidup. Seorang salafushalih yang tinggal sendirian di tengah padang pasir pernah ditanya, “Apakah engkau tidak merasa terancam? Ia mengatakan, “Apakah ada orang yang merasa terancam dan khawatir bersama Allah?” jawabnya. Tak jauh maknanya dengan apa yang diungkapkan oleh Muslim bin Yasar, yang mengatakan, “Tak ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan sendiri menghadap Allah dalam sepi (berkhalwat).”

Rumah orang yang melakukan dzikrullah akan bercahaya bak bintang. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menyampaikan sabda Rasulullah saw bahwa Allah akan menerangi rumah orang yang berdzikir hingga rumah itu akan terllihat oleh penduduk langit. “Sesungguhnya penghuni langit melihat rumah-rumah ahli dzikir yang diterangi oleh dzikir mereka. Sinar itu bercahaya seperti bintang bagi penduduk bumi,” ucap Rasulullah saw. Tepatlah jawaban imam Hasan al Bashri saat ditanya seorang pemuda, “Kenapa orang yang gemar melakukan shalat tahajjud wajahnya enak dipandang?” Ia mengatakan, “Bagaimana tidak, mereka telah berkhalwat dengan yang Maha Pengasih kemudian Allah pasti memberikan cahaya-Nya pada orang tersebut.”

Lihatlah betapa ketenangan yang dirasakan oleh Abu Bakar bin Ayash, salah seorang tokoh Tabi’in. Ketika menjelang maut, ia berkata pada anaknya, “Apakah engkau mengira Allah akan menyia-nyiakan ayahmu yang selama empat puluh tahun sudah mengkhatamkan Al Qur`an hampir setiap malam?” Sementara itu, Adam bin Iyas, tokoh Tabi’in yang lain, ketika akan meninggal mengatakan, “Dengan cintaku kepada-Mu, Engkau pasti menemaniku pada saat ketakutan.” Ia mengucapkan, “Laaa ilaaha illa Llah…” kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir….

Sebaik-baik perbuatan yang dapat dilakukan seseorang dalam nafas hidupnya, paling bermanfaat waktu yang diluangkan adalah berdzikir kepada Allah SWT, apalagi di iringi dengan berdoa kepada-Nya, karena yang demikianlah hidup menjadi bermakna dan waktu menjadi berharga, jiwa yang kian hari beretambah menjadi berbobot, bahkan memiliki aspek kebahagiaan, ketenangan, ketentraman dan kelapangan dalam setiap gerak dan aktivisnya, dzikir merupakan kunci segala kebaikan hamba didunia dan diakhirat.

Tidak dipungkiri bahwa Nabi saw sebagai pemberi nasehat umatnya telah memberikan warisan yang baik dan jalan yang jelas dalam menuntun pengikutnya untuk berdzikir dan berdoa. Beliau saw menuntun segala kebaikan di dunia dan akhirat, tidak ada yang baik kecuali beliau telah memberikan dalil (petunjuk) nya, memotivasi untuk bermulazamah dengannya. Allah berfirman : “Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri, sangat belas kasih terhadap penderitaan kalian, bersemangat atas kalian untuk beriman, pemaaf dan kasih sayang”. (At-taubah : 128)

 

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Aqidah Thahawiyah Aurat Dan Pakaian Kita

3 Komentar Add your own

  • 1. Adly  |  November 19, 2008 pukul 7:29 am

    Subhanallah ALLAH SWT maha pengasih lagi penyanyang

    Balas
  • 2. Adly  |  November 19, 2008 pukul 7:32 am

    ALLAH SWT i love you forever

    Balas
  • 3. diah  |  Mei 6, 2009 pukul 6:56 am

    SUBHANALLAH, ALHMADULILAH BISA MELIHAT BLOG BAPAK..TERIMA KASIH ATAS ARTIKELNYA….
    AMIEN…..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: