Rindu Tanah Suci-12: Menuju Tanah Suci

Oktober 22, 2008 at 5:45 am Tinggalkan komentar

Bahagia sekali rasanya bisa bertemu dengan keluarga tercinta untuk terakhir kalinya sebelum kami meninggalkan tanah air. Pagi itu orang tua, saudara dan anak-anak kami berkunjung ke Asrama Haji Surabaya (AHS). Saya dan istri menemui mereka dari dalam pagar halaman belakang AHS. Saat bertemu mereka kami bercerita  tentang semua peristiwa yang kami alami selama berada di AHS sejak kami datang sampai beberapa saat sebelum bertemu mereka. Dan tidak terasa sudah dua jam kami bertemu dan mengobrol bersama mereka, merekapun minta pamit. Sebelum mereka meninggalkan kami, tidak lupa kami minta selalu didoakan agar selama menjalankan ibadah haji. Rasa haru kembali menggelayuti perasaan kami ketika kami bersalaman untuk terakhir kali.

Kami segera kembali ke tempat kami menginap begitu keluarga lenyap dari pandangan mata ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang menjenguk keluarganya. Kami segera berkemas-kemas sebagai persiapan terakhir keberangkatan kami hari itu. Rencananya kami akan masuk ke ruang isolasi selepas sholat dhuhur. Sehingga waktu yang kami miliki sebelum dhuhur itu kami gunakan untuk persiapan terakhir  barang-barang yang kami perlukan selama perjalanan dari Surabaya-Jeddah dan Kota Makkah. Barang-barang itu kami tempatkan di tas tentengan yang akan selalu dibawa dan menyertai selama perjalanan disamping juga tas kecil tempat paspor dan dokumen lainnya.

Tas tentengan biasanya diisi dengan kain ihrom, satu stel pakaian, perlengkapan mandi dan yang lain-lain yang diperlukan selama berada di asrama haji dan selama perjalanan menuju tanah suci. Semua perlengkapan perjalanan ditaruh di tas tentengan. Karena tas inilah yang boleh dibawa oleh calon jamah haji baik selama di asrama haji maupun selama berada didalam pesawat. Sedangkan kopor besar, tempat perbekalan selama ibadah haji, sudah ada petugas yang mengurusnya sendiri sejak masuk asrama haji. Karena isinya tidak terlalu banyak, sehingga tas ini tidak terlalu berat ketika diten-teng kemana-mana. Saya terbiasa membawanya dua sekaligus bersama miliknya istri.

Ketika berkemas-kemas selesai. Saya kemudian mandi untuk persiapan acara prosesi pemberangkatan. Meskipun di pagi hari saya sudah mandi, saya niatkan untuk mandi sekali lagi dalam rangka untuk memakai pakaian ihram. Saya dan istri meniatkan untuk mengambil miqot di atas pesawat dalam perjalanan menuju Jeddah. Bagi calon jamaah haji gelombang kedua termasuk kami, maka rute penerbangannya dari Surabaya langsung menuju ke kota Makkah melalui Jeddah. Hal berbeda dengan CJH yang berangkat pada gelombang pertama. Mereka biasanya singgah ke kota Madinah terlebih dahulu baru kemudian ke kota Makkah. Bagi CJH Indonesia yang ke Madinah terlebih dulu, maka mereka akan mengambil miqot di Bir Ali.  

Karena saya meyakini bahwa miqot untuk CJH Indonesia  gelombang kedua adalah di Yalamlam atau sekitar satu jam dalam perjalanan pesawat sebelum mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Maka kami mempersiapkannya jauh-jauh sebelum naik pesawat. Meskipun ada yang mengatakan dibolehkannya calon jama’ah haji Indonesia bisa mengambil miqot di Jeddah, tetapi saya lebih memilih tempat miqot yang telah ditetapkan oleh Nabi saw untuk umat Islam yang hendak menunaikan ibadah haji.

Karena tidak memungkinkan untuk mandi sunnah di dalam pesawat, maka saya putuskan untuk mandi di asrama haji saja. Setelah sholat dhuhur dan makan siang dilaksanakan, maka saya memakai pakaian ihrom. Tetapi yang saya pakai adalah yang lapis bawah saja. sedangkan yang atasannya saya tetap memakai baju putih biasa. Saya merencanakan memakai pakaian ihrom lengkap (memakai atasannya) ketika sudah berada di pesawat dalam perjalanannya menuju Jeddah. Sehingga ketika memasuki ruangan isolasi di hall Bir Ali asrama haji, saya mungkin agak terlihat aneh sendiri. Karena disamping sudah memakai pakaian ihram, tetapi juga masih memakai baju.Tetapi saya tidak memperdulikan orang memperhatikan saya. Ketika seluruh CJH sudah berkumpul di Hall Bir Ali, saya juga melihat beberapa orang yang sudah memakai pakaian ihram lengkap. Rupanya ada juga yang menyamai apa yang saya lakukan, begitu celetuk perasaan saya dalam hati.

Ketika semua calon jamaah haji (CJH) yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 64 embarkasi Juanda Surabaya sudah berkumpul di hall Birr Ali acara persiapan pemberangkatan segera dimulai. Acara dawali dengan sambutan dan pengarahan, kemudian perkenalan dengan para petugas kloter dan yang terakhir adalah pembagian passport serta uang living-cost. Yang paling memakan waktu lama dalam acara itu adalah saat pembagian passport dan uang living-cost. Karena petugas harus membagi satu persatu dokumen dan amplop yang berisi uang 1500 Saudi Real kepada sekitar 450 CHJ yang ada di kloter kami.

Dan acara di hall Birr Ali itu baru selesai sekitar antar pukul tiga atau empat sore. Begitu acara selesai kami diperintahkan untuk segera menuju kendaraan Bus yang akan mengangkut kami menuju bandara Juanda. Oleh petugas kami sudah diberi nomor kendaraan sekaligus nomor kursi yang harus kami tempati. Sehingga kami langsung menaiki kendaraan yang sudah ditentukan petugas. Hati kami berdebar kencang saat kami telah berada di dalam bus yang akan membawa kami menuju pesawat yang akan membawa kami ke tanah suci. Hati ini semakin bedeguk kencang saat pengeras suara yang ada di asrama haji membunyikan alunan kalimat-kalimat talbiyah. Hatipun bergetar mendengar kalimat-kalimat itu diperdengarkan tanpa henti di sela-sela komando petugas memberangkatkan bus pengangkut rombongan CJH kloter 64. Dan dengan ucapan Basmallah bus kami secara resmi di berangkatkan.

Secara perlahan bus yang membawa kami meninggalkan asrama haji dan menyusuri jalanan kota Surabaya yang padat kendaraan sore itu. Dengan diselingi rintik-rintik hujan, bus meluncur dengan lancer tanpa hambatan menuju bandara Juanda. Karena seakan sudah menjadi semacam prosedur perjalanan ibadah haji, setiap kendaraan yang membawa CJH mendapat pengawalan khusus oleh para petugas kepolisian. Dan di sepanjang perjalananan menuju bandara itu kami tidak henti-henti melantunkan kalimat talbiyah, sholawat dan doa-doa lainnya. Dan  setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami kemudian sudah sampai di bandara Juanda.

Setelah menunggu beberapa saat di terminal khusus haji bandara, kami kemudian keluar dari bus dan menuju pesawat yang sudah siap menunggu kedatangan kami. Kami melihat sebuah pesawat berbadan besar dari maskapai penerbangan Saudi Airlines yang sudah siap membawa kami ke tanah suci. Hati kembali berdebar saat kaki ini mulai menginjakkan tangga pesawat. Sambil berdoa satu persatu anak tangga pesawat kami naiki dan masuklah kami di ruangan penumpang yang cukup lebar dan nyaman. Saya bersama istri dan satu lagi CJH perempuan agak tua duduk di dekat jendela sisi kanan ruang pesawat. Inilah pengalaman pertama kami naik pesawat terbang.

Sebelum pesawat berangkat ada seorang petugas yang memberikan arahan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di dalam pesawat. Petugas juga memberikan arahan tentang bagaimana menghadapi keadaan darurat yang terjadi di pesawat. Selesai menerima penjelasan dari petugas, seluruh penumpang diberitahu bahwa pesawat akan berangkat alias take-off dan diperintahkan untuk memasang sabuk pengaman yang telah tersedia. Detik-detik take-off merupakan saat-saat yang menegangkan, mengingat ini merupakan pengalaman pertama kami diterbangkan pesawat. Dan Alhamdulillah detik-detik menegangkan itu bisa dilewati dengan mudah.

Berada di dalam pesawat pada ketinggian tertentu dalam perjalanannya melintasi daratan dan samudra yang luas kadang menimbulkan kekawatiran-kekawatiran dalam hati. Kadang terselip perasaan takut dalam hati kalau-kalau nanti pesawat itu tiba-tiba jatuh atau yang lainnya. Tetapi perasaan itu lenyap seketika, disaat mengingat kembali tujuan kami semua berada dalam pesawat. Semuanya kemudian kami kembalikan dan serahkan kepada Allah swt yang telah memanggil kami untuk datang ke tanah suci. Sambil terus berdoa memohon kemudahan selama perjalanan, kami berusaha menikmati perjalanan suci ini yang hampir memakan waktu selama sepuluh jam. Kami juga merasa nyaman dan puas dengan segala pelayanan yang diberikan oleh petugas penerbangan.

Saya meminta secara khusus kepada salah seorang pramugari yang saya temui, untuk mengingatkan kami ketika nanti pesawat akan memasuki wilayah miqot kami. Dengan demikian kami bisa bersiap-siap untuk memakai kain ihram dan memulai niat kami. Petugas dengan ramah menyanggupi untuk mengingatkan kami.

 

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Meniti Jalan Taqwa Bekal Jamaah Haji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: