Bekal Pernikahan

Oktober 13, 2008 at 7:07 am Tinggalkan komentar

Dalam setiap khutbahnya Rasulullah saw selalu mewasiatkan untuk selalu meningkatkan bekal taqwa dalam mengarungi kehidupan. Kalimat itu selalu Beliau saw ulang-ulang dalam setiap kesempatan termasuk dalam khutbah pernikahan putri Beliau Fathima Az Zahra ra dengan Ali bin Abi Thalib ra. Pernikahan memang membutuhkan persiapan perbekalan yang banyak. Tetapi perbekalan yang paling utama yang perlu dipersiapkan adalah bekal ketaqwaan.

Mengapa bekal ketaqwaan yang sangat yang paling utama yang harus dipersiapkan? Karena pernikahan adalah salah satu bagian dari pelaksanaan ibadah kepada Allah swt. Bahkan dalam sebuah hadits Nabi saw dikatakan bahwa pernikahan itu ibarat melaksanakan separuh dari ajaran agama. Sehingga ukuran kesuksesan dalam pernikahan nantinya adalah sejauh mana dua insan suami dan istri bisa menciptakan nuansa ibadah demi tertingkatkannya ketaqwaan mereka berdua selama mengarungi bahtera rumah tangganya. Oleh karena itu yang termasuk hal penting yang harus dipersiapkan seseorang adalah menata niat sebelum ia melaksanakan pernikahan.

Visi atau berniat untuk ibadah kepada Allah swt semestinya menjadi fondasi dan batu-bata pertama yang harus dipancangkan sebelum membangun bangunan rumah tangga. Karena dengan fondasi inilah keluarga yang diidam-idamkan yaitu keluarga sakinah yang dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang antara keduanya akan bisa diraih dengan mudah. Keluarga yang bahagia, sejahtera dengan anak yang sholih dan sholihah penuh berkah akan selalu mengiringi perjalanan hidupnya. Sehingga segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki diantara keduanya akan menjadi modal utama menggalang kekuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.

Hal ini sangat berbeda dengan yang sedari awal niat pernikahannya bukan karena ibadah. Misalnya pernikahan itu dibangun hanya semata-mata karena ketertarikan fisik masing-masing. Bangunan yang memakai fondasi ketertarikan fisik  sebagai bahan dasarnya akan menyebabkan bangunan itu tidak kuat dan akan mudah goyah. Karena pada hakekatnya ketertarikan itu biasanya tidak permanent alias sementara saja sifatnya. Bisa jadi penyebabnya adalah bahwa fisik yang menjadi obyek ketertarikan  itu suatu saat tidak menarik lagi. Atau kemungkinan yang lain, bisa jadi ada yang lebih menarik dari yang telah dipilih menjadi pasangannya. Maka kalau hal itu terjadi, biasanya beralihlah ketertarikan itu kepada yang lain. Dan dari sinilah awal dari ketidak harmonisan diantara keduanya. Cinta dan kasih sayangnya berangsur-angsur menjadi berkurang, sering bertengkar dan lain sebagainya. (bersambung)

 

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Jilbab-Jilbab Meniti Jalan Taqwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: