Menuju Ketinggian Ruhani

September 16, 2008 at 2:37 am Tinggalkan komentar

Setiap orang yang beriman pasti selalu mendambahkan memiliki keimanan yang kuat, keikhlasan, kesabaran dan selalu optimis dalam semua keadaan. Sebagai hamba Allah swt yang selalu berusaha untuk membaktikan seluruh hidupnya untuk ibadah, ia akan menempuh segala cara untuk meraihnya. Tetapi sifat-sifat tersebut tidak akan dengan mudah dimilikinya kecuali ia telah merasakan lezatnya nikmat iman. Disamping itu juga ia telah menyatukan dirinya dan kehidupannya dengan ajaran agama Islam. Kalau sudah seperti itu, maka jiwa-jiwa mereka akan merasakan ketentraman yang tiada tara. Jiwanya akan memantulkan cahaya ruhani dalam setiap gerak-geriknya dan Ia akan menjadi seorang yang sholeh yang selalu  memberi manfaat bagi sesamanya.

Al Qur’anul Karim dengan pandangannya yang integral tentang manusia dan kehidupan telah memberikan gambaran bagaimana cara mempersiapkan ruhani manusia, membentuk keimanannya dan mentarbiyah jiwanya. Allah berfirman dalam surat Al Anfal ayat 29 yang artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Kemudian firman Allah dalam surat Al Hadid ayat 28 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan dia mengampuni kamu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan firman Allah dalam surat At Tholaq ayat 3 yang artinya:

…. barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Mari kita renungkan dari ayat-ayat diatas. Apa yang dapat kita simpulkan?. Kesimpulannya adalah bahwa ketaqwaan kepada Allah swt merupakan modal dasar keberhasilan dari semua karya dan perbuatan yang dilakukan manusia. Karena ia merupakan sumber dari kekayaan motivasi dan inspirasi. Ia juga merupakan sumber dari segala cahaya yang menerangi hidupnya dan menerangi manusia lainnya. Dan dengan ketaqwaan mereka akan mendapatkan jalan keluar yang menentramkan bathinnya serta mendapatkan jalan untuk meraih kekayaan yang melimpah ruah.

Cukuplah kiranya keutamaan dan pengaruh ketaqwaan merupakan sumber kebaikan dalam hal apa saja. Yang terpenting adalah bagaimana cara untuk menumbuhkan ruhiyah yang akan mengantarkan seseorang kepada derajat tertinggi ketaqwaannya. Bagaimana juga agar segala penyakit dalam hati segera bisa dicarikan dan ditemukan obatnya. Agar kering-kerontangnya jiwa yang dirasa segera bisa dicarikan jalan keluarnya. Berikut ini diantara beberapa jalan yang seharusnya ditempuh untuk mendapatkan kesempurnaan jiwa.

Memperbanyak membaca Al Qur’an dengan cara Tadabbur adalah Jalan pertamanya. Bacaan Al Qur’an yang disertai Tadabbur dan khusyu’ akan mampu mempertajam pandangan yang sudah tumpul dan akan mampu sebagai pemusnah pandangan-pandangan yang sempit, serta obat bagi hati yang sedang sakit. Apabila hal tersebut sering dilakukan maka akan terbukalah belenggu-belenggu yang memborgol hatinya dan memancarnya cahaya Al Qur’an dalam jiwanya.

Rasulullah saw sendiri selalu membaca Al Qur’an secara dawam (rutin). Beliau juga memohon kepada Allah swt agar menjadikan Al Qur’an sebagai taman dalam hatinya, cahaya bagi pandangannya, penghapus duka dan pemusnah kebingungan serta kegalauan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh An Nasai, At Tirmidzi dan Al Hakim Beliau saw berdo’a:

“Ya Allah, aku hamba-Mu, anak hamba-Mu yang laki-laki (bapak) dan anak hamba-Mu yang perempuan (ibu), ubun-ubunku ada ditangan-Mu, aku berjalan berdasarkan hokum-Mu, melaju dalam ketentuan-Mu. Aku memohon kepada-Mu, nama yang Engkau berikan untuk diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di-sisi-Mu, jadikan Al Qur’an sebagai taman hatiku, cahaya mataku, penghapus duka dan pelenyap kebimbanganku… dan tidak ada kemampuan dan kekuatan kecuali dari Allah”

Membaca al Qur’an kadarnya berbeda-beda tergantung kemampuan masing-masing. Para ulama menganggap makruh apabila seseorang mengkhatamkan Al Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari. Mereka berkata bahwa mengkhatamkan Al Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari adalah tergesah-gesah, hal ini tidak mendukung si pembaca untuk memahami dan bertadabbur. Dan menkhatamkan Al Qur’an dalam waktu lebih dari tiga bulan adalah keterlaluan dalam meninggalkan Al Qur’an.

Jalan kedua adalah selalu meneladani semua sisi dari kehidupan Rasulullah saw. Mengambil keteladanan baik itu dalam hal ibadah maupun kezuhudannya. Sifat tawadlu’ dan kebijaksanaannya, kekuatan fisik dan keberaniannya. Dan diantara fenomena yang paling menonjol dari kehidupan Nabi saw adalah bagaimana Beliau menyatukan urusan Diin (agama) dengan urusan dunia, ibadah dan kehidupan, tazkiyah dan jihad tanpa menimbulkan ketimpangan dalam segi apapun.

Kepribadian Rasulullah saw yang sangat mengagumkan dan luar biasa digambarkan oleh seorang Ulama Da’wah, beliau  mengatakan: “.. yang sangat menarik dalam ta’abbud Nabi saw adalah kemampuan beliau yang mengagumkan dalam menyatukan antara ibadahnya yang mencapai derajat paling tinggi dan urusan-urusan keduniaan, urusan-urusan da’wah dan jihad. Beliau sendirian menghadapi seluruh umat manusia, mengendalikan negara yang masih baru di hadapan dunia, mengirim utusan kepada raja-raja dan menda’wahi mereka, menerima kedatangan para utusan dan menjamunya, mengirim pasukan dan memimpinnya, berdialog dengan pemuka-pemuka agama (non-Islam) dan para penguasa yang ada di sekitarnya, mempersiapkan kemenangan, berhati-hati menjaga kemungkinan kalah, mengirim para pejabat pemerintahan, mengumpulkan harta (zakat) dan membaginya sendiri, beliau bersabda: “kalau akau tidak adil siapa lagi yang bisa adil”. Beliau mensyariatkan Dienullah Islam kepada manusia, merinci wahyu yang masih global, menjelaskan yang masih sulit, menggariskan sunnah-sunnah, mengembalikan permasalahan yang tidak dijelaskan oleh Allah swt kepada permasalahan yang sudah jelas”.

Diantara semua kesibukan itu Rasulullah saw tetap sebagai seorang ‘abid di siang harinya dan pada malam harinya.Khalwat Beliau saw dengan Allah Azza Wa Jalla dikenal lebih serius dibanding mereka yang berkhalwat di biara-biara atau di puncak-puncak gunung. Penyatuan antara agama dan dunia telah menjadikan dirinya sebagai figur yang tidak ada tandingannya sepanjang sejarah.

Jalan Ketiga adalah Melazimkan Dzikir kepada Allah dalam segala waktu dan keadaan. Yang dimaksud Dzikir adalah selalu merasakan keagungan Allah dalam semua kondisi. Dzikir bisa berupa dzikir fikiran, hati, lisan dan perbuatan. Allah swt berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya”. (QS Al Ahzab 41)

Imam Bukhari meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dibandingkan dengan yang tidak berdzikir adalah bagaikan orang yang hidup dengan orang yang mati”.

Nabi saw bersabda: “Di hari kiamat nanti Allah akan mendatangkan satu kaum, wajah mereka bercahaya, mereka berdiri diatas mimbar yang terbuat dari mutiara, semua orang merasa iri kepada mereka, mereka bukan Nabi dan bukan pula para Syuhada. Seorang arab badui bangkit dari duduknya sampai setengah berdiri, kemudian bertanya, Ya Rasulullah, sebutkan ciri-ciri mereka agar kami mengetahui. Rasulullah saw menjawab: Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai di jalan Allah meskipun mereka terdiri dari suku dan negeri yang berbeda, mereka berkumpul untuk berdzikir kepada Allah” (HR. Thabrani)

Bersungguh-sungguh dalam berdzikir kepada Allah swt akan mengantarkan kita kepada tingkat dan derajat ruhani yang tinggi. Seorang mu’min akan menemukan kenikmatan dan ketentraman dzikrullah dalam hatinya ketika ia merasakan adanya keagungan Allah telah menancap tajam dalam hatinya. Dengan demikian kehidupannya akan selalu diliputi ketentraman dan kebahagiaan. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS Arra’d 28).

*(dirangkum dari berbagai sumber)

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Cermin Bertetangga Saat Berbuka Puasa Tiba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: