Rindu Tanah Suci-11: Perjalanan Suci Dimulai

September 8, 2008 at 6:25 am Tinggalkan komentar

Begitu adzan selesai dikumandangkan maka selanjutnya kalimat Talbiyah dibacakan mengiringi langkah-langkah awal perjalanan kami meninggalkan rumah. Kami kembali berpamitan dengan keluarga dan kerabat dekat dengan saling bersalaman dan saling berpelukan. Suasanya seolah ini adalah bagian akhir dari  perjumpaan sebelum kami berdua meninggalkan mereka. Cucuran air mata tidak lagi bisa ditahan disaat kami berpamitan dan meminta doa restu kepada satu demi persatu orang-orang tercinta ini. Perasaan sedih karena segera berpisah serta perasaan bahagia bisa menjadi tamu Ilahi bercampur menjadi satu dalam dada. Merekapun tidak kuasa menahan linangan air mata meleleh di pelupuk karena perasan haru melepas kami dengan sepenuh perasaan.

Selesai berpamitan kami kemudian naik ke mobil yang telah disiapkan membawa kami untuk memulai perjalanan suci untuk yang pertama kali. Para pengantar yang sedari awal setia mengikuti acara juga telah menuju mobil tumpangannya masing-masing. Jalanan depan rumah menjadi sangat ramai dan penuh dengan para pengantar kami. Dan setelah semuanya dianggap telah lengkap dan siap diberangkatkan, dengan mengucap Basmallah, perlahan kami mulai meninggalkan rumah dan kampung kami. Bunyi mobil dengan kecepatan yang sedang menderu-deru di belakang kelihatan memanjang dan mengular terus setia mengikuti mobil yang kami tumpangi. Menyusuri jalanan beraspal yang mulus dengan pemandangan indah persawahan di kanan kirinya, membuat perjalanan semakin menyenangkan.

Rombongan tidak akan mengantarkan kami sampai Asrama Haji. Rombongan pengantar haji hanya akan mengantarkan kami sampai di Alun-Alun depan Pendopo Kabupaten Gresik yang jaraknya sekitar 25 kilometer dari rumah kami. Selanjutnya kami akan diangkut bersama-sama Calon Jama’ah Haji (CJH) lainnya yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 64 dengan bus menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya (AHS).

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang setengah jam sampailah kami di tempat tujuan. Ketika kami bersama rombongan pengantar sampai di Alun-Alun, keadannya sudah sangat padat dan penuh sesak dengan ribuan pengantar haji lainnya. Rupanya kami datang agak terlambat. Karena ketika kami datang di tempat itu, acara pelepasan yang dilakukan secara resmi oleh bapak Bupati Gresik sudah selesai. Jadi kami langsung saja menuju bus yang sudah berjajar berderet persis di depan Pendopo Kabupaten. Karena kami datang terlambat, kami mendapat tumpangan bus dengan urutan yang paling buncit atau paling belakang. Bus itu masih tampak kosong ketika kami memasukinya.

Setelah kami berada dalam bus beberapa keluarga dan para pengantar mendatangi kami kembali untuk bersalaman mengucapkan selamat jalan. Setelah itu mereka sekalian minta pamit untuk kembali ke rumah masing-masing. Kami-pun mengucapkan rasa terima kasih kami atas segala perhatian dan dukungan mereka semua.  Yang paling lama menunggui kami di bus sebelum kami berangkat adalah keempat anak-anak kami dan juga orang tua kami. Kami sempatkan untuk mengobrol dan berpesan kepada anak-anak kami. Kami berpesan kepada anak-anak kami supaya tidak nakal, giat belajar dan selalu mendoakan orang tua. Kami juga meminta kepada orang tua supaya bersabar menjaga anak-anak selama kami tinggal melaksanakan ibadah.

Setelah menunggu beberapa saat didalam bus, terdengarlah pengumuman dari pengeras suara bahwa rombongan Calon Jama’ah Haji Kloter 64 dari Kabupaten Gresik akan segera diberangkatkan. Begitu mendengar pengumuman itu dan sebelum pintu bus ditutup, kami sekali lagi berpamitan kepada orang tua dan anak-anak kami. Setelah puas bersalaman dan berpelukan dengan mereka, kami masuk kembali ke dalam bus dan bersamaan dengan itu ditutuplah pintu bus untuk kemudian membawa kami menuju asrama haji Sukolilo.

Sepanjang perjalanan menuju Surabaya tidak banyak kata-kata yang kami ucapakan. Karena kebetulan juga bus yang kami tumpangi tidak banyak yang diisi oleh CHJ. Kebanyakan para CHJ naik pada bus-bus yang ada di depan kami. Dan sekitar pukul 14.00 wib bus kami telah memasuki Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Hati saya berdebar-debar ketika protokol melalui pengeras suara mengucapkan selamat datang di Asrama Haji Surabaya (AHS) kepada rombongan kami calon jama’ah haji kloter 64 persis ketika bus kami memasuki halaman AHS.

Meskipun saya sudah sering memasuki dan mengadakan acara di AHS sebelum kali ini, tetapi ada suasana yang lain ketika saya memasukinya kali ini. Suasana Asrama Haji tidak seperti yang sering saya lihat dan rasakan selama ini. Suasana yang dirasakan kali ini adalah suasana hati yang memendam rindu untuk segera berangkat dan berada di tanah suci. Tidak seperti perasaan ketika saya memasuki pada waktu-waktu sebelumnya yang pada waktu itu tidak ada kesan apa-apa.

Bagitu memasuki AHS bus langsung membawa kami menuju sebuah bagunan yang besar yang ada di belakang AHS yang bernama Hall Zaitun. Begitu sampai di depan hall itu kami diminta turun dan dipersilahkan untuk masuki ke gedung itu. Gedung yang didalamnya berupa aula itu telah dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut kedatangan kami. Kursi-kursi untuk kami sudah ditata berjajar rapai. Begitu juga di depan kami sudah tertata meja dan kursi para petugas yang akan mengendalikan semua acara yang dilaksanakan di aula itu. Tidak lupa koper-koper kami juga telah diangkut oleh petugas memasuki aula itu dan ditata rapi berjajar di depan kami. Saya langsung bisa mengenali letak koper kami karena tanda yang telah kami pasang sebelumnya.

Setelah semua CJH dianggap telah berkumpul di Aula yang luas itu, acara penyambutan dan pengarahan segera dimulai. Silih berganti petugas memberikan kata sambutan dan pengarahan. Mulai dari ucapan selamat datang sampai dengan pengarahan dalam bidang kesehatan. Kami semua dengan penuh konsentrasi mengikuti seluruh rangkaian acaranya. Meskipun berkali-kali kami sudah diberi pengarahan dengan materi yang hampir sama, tetapi kami tidak pernah merasa bosan untuk mendengarkannya. Setiap materi itu disampaikan, selalu ada hal baru yang kami dapatkan. Mungkin karena pengalaman masing-masing si penyampai berbeda-beda terhadap seputar perjalanan ibadah haji sehingga nuansa penyampaiannya selalu ada yang berbeda.

Di aula itu juga CJH yang tergabung dalam Kloter 64 yang jumlahnya hampir 450 jama’ah itu dibagi atau dipecah menjadi beberapa Rombongan. Satu rombongan terdiri dari 40 sampai 50 orang CJH dengan satu orang ketua Rombongan (Karom). Dan dalam satu Rombongan masih dipecah lagi menjadi beberapa Regu yang jumlahnya sekitar 10 orang CHJ dengan satu orang ketua Regu (Karu). Karom dan Karu inilah yang nantinya akan menjadi koordinator dan melayani keperluan jama’ah selama menjalankan ibadah. Disamping Karom dan Karu masih ada lagi petugas Kolter. Petugas ini secara khusus mendapat tugas dari Departemen Agama untuk memberi pelayanan seluruh jama’ah satu kloter selama menjalankan ibadah haji. Petugas haji yang ditunjuk terdiri dari Ketua Kloter dan petugas kesehatan. Ketua kloter biasanya dipilihkan dari orang-orang yang berpengalaman bertugas di tanah suci.

Setelah selesai mengikuti acara di aula kami menuju kamar pondokan yang telah disiapkan sebelumnya. Lokasinya berada di tengah-tengah area asrama haji. Di lokasi istirahat itu kami sudah mulai dikumpulkan dengan anggota regunya masing-masing. Seluruh komando juga sudah mulai dipegang oleh ketua regu masing-masing. Meskipun demikian kami dipisah dengan jama’ah wanita yang disediakan ruangan lain dari yang kami tempati. Kata orang-orang yang sudah berpengalaman, di asrama haji ini merupakan cerminan dari yang ada nantinya di tanah suci dalam hal pengaturan pemondokannya.

Selama berada di asrama haji saya mulai berusaha untuk saling mengenal dengan sesama jama’ah yang lainnya. Rata-rata usia jama’ah memang tidak berusia muda lagi. Tetapi itu tidak menjadi hambatan bagi saya untuk mengenal dan akrab bersama mereka. Perbedaan usia tidak lagi menonjol ketika niat dan tujuan sudah menyatu dan dimiliki bersama-sama. Meskipun tidak semua jama’ah bisa berkenalan secara mendalam satu persatu, tetapi semangat ukhuwah dan kebersamaan diantara mereka benar-benar sangat terjaga.  Saling membantu dan saling memberi sudah sangat tampak dalam keseharian kami.

Pada malam harinya kami tidak ada acara apa-apa selain beberapa koordinasi yang cukup ditangani oleh ketua regu masing-masing. Misalnya pembagian Gelang identitas haji dan pengecekan obat-obatan yang dibawa. Sehingga malam itu kami seluruh jama’ah sudah mulai memakai gelang sejenis perak. Pada gelang itu tercantun tulisan nama CJH, nomer kloter dan ada gambar bendera merah putih. Ketua regu bilang kalau gelang ini harus selalu berada di pergelangan kita sampai kita selesai menunaikan ibadah haji.

Malam itu juga kami menerima kunjungan dari teman-teman jama’ah mushalla di Surabaya. Tradisi nyambangi calon jama’ah haji di asrama haji memang telah berlangsung sangat lama. Biasanya waktunya adalah ketika CJH masih berada di AHS dan orang-orang yang nyambangi adalah orang-orang memiliki hubungan dekat dengan CJH. Mereka biasanya datang secara berombongan. Kami sangat senang mendapat kunjungan temen-temen dekat tersebut. Meskipun seluruh badan terasa sangat capek seharian mengikuti berbagai macam prosesi dan belum sempat istirahat, kami berbahagia bisa bertemu mereka. Hampir dua jam saya dan istri menemui mereka di pagar depan AHS sebelum mereka pamit pulang setelah sekali lagi mereka mendoakan keselamatan perjalanan kami. Setelah itu kami baru bisa istirihat.

Kami bangun pagi-pagi sekali untuk sholat malam dan sholat subuh. Ada pemberitahuan dari ketua regu bahwa setelah sholat subuh akan ada praktek dan pemantapan manasik haji untuk terakhir kalinya di AHS. Hari itu memang hari keberangkatan kami ke tanah suci. Kami diberi waktu sampai dhuhur untuk mempersiapkan apa saja yang dirasa diperlukan. Termasuk kesempatan untuk menerima kunjungan dari keluarga atau kerabat. Oleh karenanya pagi agak siang itu juga, saya dan istri menerima kunjungan dari keluaga. Orang tua, saudara dan anak-anak datang secara bersama-sama dan saya menemuinya di sela-sela pagar halaman belakang AHS. Halaman belakang tampak sangat ramai dan penuh sesak dengan orang-orang yang berkunjung kepada keluarganya.

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Mepertahankan Harga Diri Memulai Kebiasaan Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: