Fiqih Ramadhan

Agustus 26, 2008 at 1:24 am Tinggalkan komentar

Bulan Ramadhan sebentar lagi datang. Berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut suci yang setiap tahunnya hanya datang sekali. Mulai dari persiapan fisik sampai persiapan mental masing-masing sudah jauh-jauh hari sebagiannya mulai dilengkapi. Bahkan ada juga yang jauh-jauh hari dari sekarang  sudah mulai mempersiapkan pembelian tiket angkutan berkenaan dengan rencana mudik pada lebaran. Sungguh ironis memang, puasanya saja belum datang tetapi sudah memikirkan mudik lebaran. Padahal yang terpenting mestinya adalah bagaimana menjadikan ibadah puasa tahun ini bisa lebih sempurna daripada tahun-tahun sebelumnya.
Agar ibadah di bulan Ramadhan tahun lebih baik dan meningkat kwalitasnya dari tahun sebelumnya. Berikut ini kami sampaikan satu pemaparan terkait dengan hal apa saja yang harus dilakukan selama di bulan Ramadhan. Kajian kali ini akan secara khusus mengupas tentang Fiqih Ramadhan. Sedangkan penulisnya adalah ustadz H. Agung Cahyadi, MA yang merupakan salah satu pendiri Pesantren Mahasiswa Ma’had Ukhuwah Islamiyah Surabaya. Selamat mengkaji!

A. Muqoddimah  :
 Romadhan bagi ummat Islam adalah bulan yang sangat istimewa, bukan saja disebabkan karena dibulan tersebut pernah terjadi peristiwa-peristiwa penting, seperti ditetapkannya Muhammad – shallallahu ‘alaihi wasallam – sebagai nabi-Nya yang terakhir dan diturunkannya al Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia, tetapi disamping itu bahwa dibulan tersebut Allah swt dengan sengaja telah memformat suatu program untuk ummat Islam dalam bentuk amal-amal ibadah agar dapat menggapai derajat tertinggi disisi-Nya yaitu taqwa ( QS. 2:183 )

B. Persiapan menghadapi datangnya bulan Romadhan  :
Dan agar buah romadhan yang mahal tersebut ( taqwa ) dapat dicapai, maka ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan :

1. Persiapan Ma’nawiyah / spiritual ;
Persiapan ma’nawiyah bisa dilakukan dengan memperbanyak ibadah sebelum Romadhan tiba, seperti memperbanyak puasa sunnah, berdo’a, berdzikir dan lain-lain.
Rasulullah saw dalam mempersiapkan diri mengahadapi datangnya bulan suci tersebut telah memberikan contoh kepada ummatnya, diantaranya dengan memperbanyak puasa sunnah dibulan Sya’ban, sebagaimana diriwayatkan ‘Aisyah – radhiyallahu ‘anha – dalam hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim :
و ما  رأيته  –  صلي الله عليه و سلم –  في  شهر أكثر منه  صياما  في شعبان              
“ … Dan aku tidak melihat Rasulullah – shallallahu ‘alahi wasallam – berpuasa  disuatu bulan yang lebih banyak dari pada puasanya di bulan Sya’ban “  bahkan beliau ‘Aisyah juga mengatakan  :
    
لم يكن النبي  صلى الله عليه و سلم  يصوم شهرا أكثر من  شعبان  فانه يصوم  شعبان  كله
         “ Nabi shallallahu ‘alahi wasallam tidak pernah berpuasa dalam suatu bulan yang
           lebih  banyak  dari  pada di bulan  sya’ban, maka  sesungguhnya  beliau berpuasa
           di bulan Sya’ban semuanya “ ( HR. Bukhari )

2. Persiapan Fikriyah / intelektual ;
Persiapan fikriyah dapat dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan ibadah romadhan lebih khusus lagi ilmu yang terkait dengan puasa, agar dapat berwawasan yang benar tentang Romadhan dan puasa Romadhan hingga nantinya ketika menjalani ibadah ramadhan dapat melakukannya dengan optimal dan dapat meraih hasil yang maksimal

3. Persiapan Jasadiyah dan Maliyah / fisik dan materi  ;
Persiapan jasadiyah dan maliyah dapat dilakukan diantaranya dengan cara ber-olah raga, dengan hanya mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, sehat dan menyehatkan dan dengan menabung sebagian hartanya sebagai bekal ibadah selama Romadhan, hal tersebut karena rangkaian ibadah yang telah terformat selama Romadhan hanya akan bisa dilaksanakan dengan optimal oleh orang yang mempunyai kesehatan prima
  
C. Penetapan awal dan akhir Romadhan  :  
Ada dua parameter yang dijadikan dasar oleh para ulama untuk menentukan masuknya awal Romadhan, yaitu  :
1. Rukyatul hilal / dengan melihat hilal,  dan bila hilal terhalang sehingga tidak terlihat pada saat dilakukan rukyah, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam – :
صوموا لرؤيته  و أفطروا لرؤيته  فان غبي عليكم  فأكملوا عدة شعبان ثلاثين               
“ Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah ( berhari rayalah ) kalian karena melihat hilal, jika hilal tidak nampak atas kalian, maka sempurnakanlah jumlah hari bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari “ ( HR. Bukhori dan Muslim )
2. Hisab / mentakdirkan adanya hilal ( dengan ilmu falak ). Parameter ini didasarkan pada sabda Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam – :
 لا تصوموا حتي تروا الهلال و لا تفطروا حتي تروا الهلال  فان غم عليكم  فاقدروا له          
“  Janganlah kalian berpuasa sebelum melihat hilal, dan janganlah kalian  berbuka ( berhari raya ) sebelum melihat hilal, dan jika mendung menyelimuti kalian, maka perkirakanlah hilal itu “  ( HR. Bukhori dan Muslim )
Mutharrif bin Abdullah bin Assyikhir ( tokoh tabi’in ), Abul Abbas bin Suraij, Ibnu Qutaibah dan lainnya mengatakan : makna “له  فاقدروا”   ialah : perkirakan hilal itu dengan berdasar hisab/ilmu falak

Catatan  :
Ada perbedaan pendapat antar ulama dalam menafsirkan dua parameter tersebut diatas sebagai berikut  :                                                                       
1. Pada parameter “ Rukyatul Hilal “, sebagian ulama memakai dasar “ Wihdatul Matholi’/kesamaan masa terbit “ dalam arti “ apabila ada seorang muslim  melihat hilal di suatu daerah, maka ummat Islam di daerah lain berkewajiban untuk menyesuaikan.  Dan sebagian ulama lain memakai dasar “ Ikhtilaful Matholi’/perbedaan masa terbit  “ dalam arti apabila seorang muslim di suatu daerah melihat hilal, maka tidak mewajibkan ummat Islam didaerah lain yang belum melihat hilal untuk berpuasa karenanya
2. Pada parameter “ Hisab “, sebagian ulama memakai dasar “ Wujudul Hilal “ dalam arti apabila hilal sudah wujud/ada diatas ufuk dengan tanpa melihat tinggi posisinya , maka ditetapkan keesokan hari sudah masuk bulan Romadhan. Dan sebagian ulama lain memakai dasar “ Imkaniyaturrukyah “ dalam arti bahwa keberadaan hilal diatas ufuk tersebut harus dalam posisi yang memungkinkan untuk dirukyah, agar bisa dijadikan ukuran penentuan masuknya bulan Romadhan.

>  Dalam sejarah perbedaan penafsiran terhadap parameter tersebut  ternyata hanya ada dalam bentuk wacana, tetapi dalam aplikasi belum pernah ada dalam satu negara atau satu daerah terjadi perbedaan dalam meng-awali puasa Romadhan atau meng-akhirinya. Hal tersebut  disebabkan, karena penentuan awal bulan termasuk dalam kategori “ masalah ijtihadiyah “ yang hasilnya nisbi, sementara kebersamaan antar ummat Islam adalah sebuah kepastian, untuk itu para Ulama lebih mengedepankan sebuah kepastian dari hal yang masih bersifat nisbi

D. Periodisasi Penetapan Hukum Puasa :
           Puasa Romadhan disyari’atkan dalam 2 periode  :
           Periode pertama, adalah marhalahtut takhyir yaitu fase dimana seorang mukallaf              diberi hak pilih antara berpuasa atau tidak berpuasa tapi membayar fidyah ( QS. 2    :            184 )
           Periode kedua, Marhalatul Ilzam, yaitu fase diwajibkannya berpuasa  Romadhan               kepada  setiap  mukallaf  dan  dihapuskannya hak memilih  yang  terdapat   pada               ayat diatas ( QS. 2 : 185 )

E. Keutamaan Puasa dan Bulan Romadhan  :
     1.   Puasa adalah sarana pengendali syahwat, Rasulullah  saw bersabda :
من استطاع منكم الباءة  فليتزوج  فانه أغض للبصر  و أحصن للفرج  و من          يا معشر الشباب
لم يستطع  فعليه بالصوم  فانه له  وجاء                                                                          
            “ Wahai para pemuda, jika ada diantara kalian telah mampu untuk menikah adalah maka nikahlah, karena dengan menikah ia akan lebih mampu untuk menundukkan pandangan dan lebih mampu untuk menjaga kemaluan, dan jika  belum mampu maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu obat “                      ( HR. Bukhori dan Muslim )
     2.   Puasa adalah sarana penghapus dosa, Rasulullah saw bersabda  :
  رمضان  ايمانا  و احتسابا  غفر له ما تقدم من ذنبه                                              من صام
          “ Barang siapa yang berpuasa Romadhan atas dasar keimanan dan karena semata-mata mencari ridho Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu “      ( HR. Bukhori dan Muslim )
     3.    Puasa adalah sarana untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, Rasulullah saw bersabda  :
للصائم  فرحتان :  فرحة عند فطره  و فرحة عند لقاء ربه                                                 
            “  Bagi seorang yang berpuasa ada dua kebahagiaan ; kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabnya “ ( HR. Bukhori dan Muslim )
     4.   Puasa akan menjadi pemberi syafaat bagi pelakunya di hari kiamat, Rasulullah saw bersabda  :
الصيام  و القرآن  يشفعان للعبد  يوم  القيامة                                                                  
           “ Puasa dan Al Qur’an  akan memberikan syafaat bagi seorang hamba di hari kiamat “ ( Hakim )
     5.   Puasa adalah perisai dari api neraka, Rasulullah saw bersabda  :
الصوم  جنة  يستجن  بها  العبد  من  النار                                                                    
           “ Puasa adah perisai yang dengannya seorang akan membentengi dirinya dari neraka “  ( HR. Thobroni )
     6.   Puasa adalah ibadah yang tidak ada tandingnya , bersabda Rasulullah saw kepada Abu Umamah  :
عليك  بالصوم  فانه  لا  مثل  له                                                                                 
            “ Berpuasalah anda, sesungguhnya puasa adalah ibadah yang tidak tertandingi “ ( HR. Nasai )
     7.   Pada setiap Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu, bersabda Rasulullah saw :
اذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة  و غلقت أبواب النار  و صفدت الشياطين                        
            “ Jika datang bulan Romadhan, dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplan pintu-pintu neraka serta dibelenggu syetan-syetan “ ( HR. Bukhori dan Muslim )
     8.   Disalah satu malam Romadhan ada  “Lailatul Qadr “ yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana firman Allah dalam surat 97
     9.  Besarnya potensi terkabulkannya do’a di bulan Romadhan, Rasulullah saw   bersabda : membebaskan
                                                                    مستجابة  يدعو بها  في  رمضان  لكل مسلم  دعوة
           “ Bagi setiap muslim do’a yang terkabul yang dilakukannya di bulan Romadhan “ ( HR. Malik dan Ahmad )
    10.  Malam Romadhan  adalah malam pembebasan dari api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah saw :
ان لله  في  كل  ليلة  من  رمضان عتقاء  من النار                                                          
          “ Pada setiap malam di bulan Romadhan Allah menetapkan orang-orang yang dibebaskan dari neraka “ ( HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah )  

F. Puasa, Syarat-Syaratnya  dan yang membatalkannya :
     Puasa ( Romadhan ) hukumnya wajib dan merupakan salah satu dari lima rukun Islam, yang mempunyai pengertian : Menahan diri dari makan, minum berhubungan suami istri dan seluruh yang membatalkanpuasa, mulai dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari 

      1 a. Syarat wajib Puasa  ;
             1.  Islam       3.  Berakal     5.  Mukim
             2.  Baligh     4.  Mampu     6.  Tidak haidh dan tidak nifas
      
         b. Syarat sah Puasa  ;
             1.  Niat
             2.  Dilaksanakan di waktunya

       2.  Yang membatalkan Puasa  ;
            1. Makan dan minum dengan sengaja, jika makan dan minum tersebut tidak disengaja , maka tidak membatalkan puasa, Rasulullah saw bersabda  :
 من نسي  و هو صائم  فأكل أو شرب  فليتم  صومه  فانما أطعمه الله و سقاه                             
                  “ Barang siapa yang terlupa sedang ia berpuasa,kemudian ia makan atau minum, maka hendaknya ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum Allah “ ( HR. Jama’ah )
            2.  Muntah dengan sengaja, Rasulullah saw bersabda  :
                                                  من ذرعه القيء  فليس عليه  قضاء  ومن استقاء عمدا  فليقض
                 “ Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja maka tidak diwajibkan baginya qadha, dan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib baginya untuk mengqadha “  ( HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Hakim )
3. Istimna’, yaitu mengeluarkan mani dengan sengaja
4. Haidh dan Nifas
5. Berhubungan suami istri

G. Amaliyah Romadhan   :
      Diantara amaliyah Romadhan yang semestinya kita lakukan adalah sebagai berikut :
1. الصيام   ( Puasa )
      Puasa adalah amaliyah terpenting dan teristimewa dalam bulan Romadhan, karena ia bisa berfungsi sebagai sarana penghapus dosa, disamping ia adalah amal yang tidak ada bandingnya disebabkan karena kebaikannya akan dilipatgandakan dengan kelipatan yang tidak terhingga, Rasulullah saw bersabda :
عليك بالصيام  فانه لا مثل له                                                                                
“ Berpuasalah anda, sesungguhnya puasa itu tidak ada bandingnya “                    ( HR.Nasai )
Dan agar kebaikan-kebaikan dari puasa tersebut bisa kita raih, maka perlu   diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
      a.  Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui serta menjaga     rambu-rambunya
      b.  Bersungguh-sungguh melakukan puasa dengan menepati aturan-aturannya
      c.  Menjahui hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai puasa, seperti perbuatan sia-sia  dan perbuatan haram
      d.  Tidak meninggalkan puasa dengan sengaja walaupun sehari
      e.  Makan sahur dan men-ta’khirkannya, Rasulullah saw bersabda :
          تسحروا  فان  في  السحور  بركة                                                            
           “ Makan sahurlah kalian, karena dalam makan sahur itu barokah “              ( HR.Bukhori dan Muslim )
   
اذا سمع  أحدكم النداء  و الاناء  علي  يده  فلا يضعه  حتي  يقضي  حاجته منه             
         “ Jika seorang diantara kalian mendengan adzan, sedangkan bejana ada ditangannya, maka janganlah ia meletakkannya sebelum mewujudkan kehendaknya “  (  HR.Hakim  )
      f.   Berbuka dan menyegerakannya
          لا  يزال  الناس  بخير ما  عجلوا  الفطر                                                     
           “ Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka “ ( HR.Bukhori dan Muslim )
      g.  Berdo’a terutama pada saat berbuka
                                                                                   ان  للصائم عند  فطره  دعوة  لا ترد
                 “  Bagi seorang yang berpuasa  ada waktu berdo’a yang tidak ditolak, yaitu ketika berbuka  “ (  HR. Ibnu Majah )

2. قيام رمضان   ( Menghidupkan malam dengan ibadah )
       Romadhan disamping dikenal dengan sebutan  ) شهرالصيام bulan Puasa ), juga dikenal dengan sebutan  شهر القيام   ( bulan ibadah waktu malam ), karena adanya perintah dan anjuran untuk mengisi malam Romadhan dengan ibadah ( shalat malam/tarowih ) dengan imbalan pahala yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah saw :
                                   من قام رمضان ايمانا و احتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Artinya : “ Barang siapa yang menghidupkan malam Romadhan dengan ibadah karena iman dan semata mengharapkan ridho Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah diperbuatnya “ ( HR. Bukhori & Muslim )

3. الانفاق و الاطعام   ( Infaq dan memberi buka )
       Berinfaq di bulan Romadhan dan memberi buka kepada orang yang berpuasa terutama dibulan Romadhan adalah bentuk amal yang dijanjikan pahala besar, sebagaimana ditegaskan Rasulullah saw :
من فطر صائما كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجره شئ
Artinya : “ Barang siapa yang memberi ifthor kepada yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala senilai pahala yang didapatkan orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala yang berpuasa sedikitpun “( HR. Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah )
       Dan Ibnu ‘Abbas ra meriwayatkan dalam hadits Bukhori, bahwa Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanan beliau memuncak ketika Romadhan tiba bagaikan angin yang behembus

4.  تلاوة القران  ( Membaca Al Qur’an )
      Membaca Al Qur’an adalah amal yang diperintahkan untuk dilakukan setiap muslim setiap hari dan lebih ditekankan lagi pada bulan Romadhan, hal tersebut karena Romadhan adalah bulan diturunkannya al Qur’an dan pada setiap Romadhan malaikat Jibril as senantiasa datang kepada Rasulullah saw untuk bertadarrus al Qur’an  bersamanya. Dan membaca al Qur’an  adalah aktifitas yang senantiasa menguntungkan, sebagaimana firman Allah swt  dalam surat 35 ayat 29-30 :
“ Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala meraka dan menambah kepada mereka karuniaNya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri “

5.  التوبة  ( Taubat )
      Allah swt  melalui firmanNya dalam al Qur’an telah memerintakan ummat Islam untuk bertaubat ( QS. 3:133 / 24:31 ), dan bulan Romadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk dimanfaatkan  memohon ampunan dari Allah swt, karena banyaknya ampunan yang Allah akan berikan kepada hambaNya pada bulan tersebut bahkan banyak orang-orang yang akan Allah bebaskan dari api neraka, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya :  
ان لله في كل ليلة من رمضان عتقاء من النار                                                               
Artinya : “  Sesungguhnya setiap malam dari bulan Romadhan, Allah menetapkan orang-orang yang dibebaskan dari neraka “ ( HR.Tirmidzi & Ibnu Majah )
Dan syarat-syarat taubat adalah sebagai berikut :
       1.  Segera meninggalkan perbuatan dosa
       2.  Menyesal atas dosa yang telah dilakukan
       3.  Bertekat untuk tidak mengulang kembali
       4.  Taubat tersebut dilakukan dengan niat ikhlas/karena Allah
       5.  Dialakukan sebelum pintu taubat tertutup ( sebelum ajal )
       6. Apabila dosa/kesalahan berkaitan dengan sesama manusia, maka harus diupayakan untuk diselesaikan
                                                                 .
6. الاعتناء بالأعمال الاجتماعية و الدعوية   ( Memperhatikan aktifitas sosial dan  dakwah )
      Berbeda dengan kesan dan perilaku umum banyak orang tentang Romadhan, Rasulullah saw justru menjadikan bulan Romadhan sebagai bulan yang penuh dengan aktifitas sosial dan dakwah, hal tersebut bisa disimpulkan dari peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di bulan Romadhan, seperti perang Badr                      ( tahun 2 H ), Fath kota Makkah ( tahun 8 H ), Perang Tabuk ( tahun 9 H ), pengiriman 6 sariyah ( pengiriman pasukan perang yang tidak beliau sertai ), penghancuran masjid Dhiror dan yang lainnya
Banyak aktifitas sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas yang bisa kita lakukan terutama selama bulan Romadhan, misalnya ; menyelenggarakan bakti sosial di daerah-daerah yang membutuhkan ( daerah bencana, pemukiman miskin misalnya ) dengan memeberikan santunan berupa makanan, pakaian, kesehatan atau yang lainnya  yang memang mereka butuhkan

7.الاجتهاد للعبادة في العشر الأواخر  ( Meningkatkan ibadah pada 10 akhir Romadhan)
      Rasulullah saw telah memberikan tauladan kepada kita dengan meningkatkan ibadah di 10 terakhir Romadhan dengan ber-i’tikaf di masjid siang dan malam semenjak beliau hijrah ke Madinah hingga beliau wafat ( sebagaimana diriwayatkan oleh istri beliau ‘Aisyah dalam hadits riwayat Bukhori dan Muslim ), kemudian beliau memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh mencari malam Lailatul Qodar pada sepuluh malam akhir Romadhan  dengan sabdanya :
التمسوها في العشر الأواخر من رمضان
“ Carilah malam Lailatur Qodr di sepuluh akhir dari bulan ramadhan “

8. زكاة الفطر  ( Zakat Fitrah )
      Sebagai penutup dari amaliyah Romadhan, kita diwajibkan untuk mengeluarkan zakat Fitrah atas nama diri kita dan atas nama mereka yang dibawah tanggung jawab kita, termasuk atas nama anak kita yang masih kecil, yang zakat tersebut dapat berfungsi sebagai pensuci puasa kita dari kata-kata yang kotor atau perbuatan sia-sia dan sebagai bantuan bagi fakir miskin, dengan ketentuan 1 sha’ ( kurang lebih 2,5 kg ) untuk setiap jiwa dan harus sudah diberikan kepada mereka yang berhak maksimal sebelum shalat ‘ied
      .
H. Tingkatan golongan yang tidak berpuasa dan konskwensinya :
            a. Yang tidak wajib puasa dan tidak sah puasa ;
                1.  Orang kafir
                2.  Orang gila

            b. Yang wajib berbuka dan wajib meng-qodho’ ;
                Wanita nifas dan haidh

            c.  Yang boleh berbuka dan wajib qodho’ ;
                 1.  Orang sakit
                 2.  Musafir
                 3. Wanita hamil dan menyusui ( Hanafiyah ) dan ( Jumhur bila khawatir atas                           dirinya )
                 4.  Pekerja berat ( bila berkeyakinan ada alternatif pekerjaan lain )

            d.  Yang boleh berbuka dan wajib fidyah ;
                 1.  Yang lanjut usia
                 2.  Yang sakit dan tidak ada harapan sembuh
                 3.  Wanita hamil dan menyusui ( Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar )
                 4.  Pekerja berat dan tidak ada alternatif pekerjaan lain

            e.  Yang batal puasa dan wajib qodho’ ;
                 Yang makan dan minum dengan sengaja

            f.  Yang tidak berpuasa dan wajib qodho’ dan fidyah ;
                1.  Wanita hamil dan menyusui yang khawatir atas dirinya dan janinnya
                     ( Jumhur selain Hanafiyah )
                2.  Yang menta’khirkan qhodho’ puasa hingga datangnya romadhon berikutnya
            
            g.  Yang batal puasa dan wajib qodho’ dan kaffaroh ;
                 Yang berhubungan suami istri disiang hari Romadhon

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Koalisi atau Musyarokah Amaliyah Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: