Rindu Tanah Suci-10: Saat Yang Mendebarkan

Agustus 7, 2008 at 4:34 am Tinggalkan komentar

Kami sangat berbahagia karena acara tasyakuran haji telah berlangsung sangat meriah. Upaya kami untuk membagi kebahagiaan bersama orang-orang tercinta serta para tetangga semuanya telah terlaksana dengan sempurna. Dan yang tidak kalah pentingnya, do’a-do’a yang kami harapkan meluncur dari hati yang tulus dari sekian banyak orang telah kami dapatkan. Bekal doa ini akan sangat berharga bagi kami selama menjalankan ibadah di tanah suci.
Hari-hari menjelang keberangkatan kami isi dengan berapa kegiatan yang belum kami laksanakan. Kegitan itu diantaranya adalah pamitan kepada seluruh kerabat dan tetangga dekat rumah. Memang sudah kami rencanakan sebelumnya bahwa pamitan kali ini kami lakukan beberapa hari menjelang keberangkatan kami. Hal ini kami lakukan karena kami ingin sekalian mengajak mereka sebagai jama’ah pengantar keberangkatan kami. Dan rata-rata mereka sangat senang dengan ajakan kami dan menyanggupi untuk ikut mengantar kami.
Sudah menjadi tradisi, setiap ada yang berangkat haji, para tetangga dan kerabat serta keluarga berduyun-duyun ingin ikut menjadi pengantar sampai ke tempat pemberangkatan. Kalau si tuan rumah tidak menyiapkan kendaraan, maka mereka rela urunan untuk menyewa kendaraan agar bisa ikut bersama jama’ah pengantar lainnya. Dari kami sendiri tidak menyediakan semua kendaraan untuk semua pengantar. Kami hanya menyiapkan sekitar enam atau tujuh kendaraan untuk para pengantar yang masih terhitung keluarga dekat. Tetapi dalam hal konsumsi pengantar, kami menyediakan untuk semuanya.
Dari hitung-hitungan yang sudah masuk kepada keluarga, kabarnya jumlah pengantar seluruhnya mencapai 12 – 13 mobil. Itu sudah termasuk pengantar yang datang dari keluarga Lamongan dan dari Surabaya. Ini berarti ada sekitar seratusan orang yang siap mengantarkan kami ke tempat pemberangkatan di Alun-alun kota Gresik. Kami sangat terharu dan sekaligus bahagia mendengar kabar ini. Kami merasa tersanjung dan sekaligus merasa dihormati. Padahal saya bukan penduduk asli desa ini dan saya juga sangat jarang berinteraksi dengan mereka. Tetapi melihat penghormatan mereka seperti itu, saya baru menyadari bahwa saya telah menjadi bagian yang menyatu dari kehidupan mereka. Saya juga seakan merasa bersalah kalau selama ini kurang berusaha utuk lebih dekat dengan mereka.
Hari H keberangkatan terasa semakin dekat dan hanya tersisa dalam beberapa hitungan hari. Tamu-tamu yang berziarah ke rumah juga semakin hari semakin banyak. Agenda menghafal do’a-do’a haji yang kami rencanakan sebelumnya jadi tidak bisa terlaksanana dengan baik. Sebaliknya kami semakin sibuk dengan menemui tamu peziarah yang datang secara bergelombang baik di pagi hari maupun di malam hari. Tamu yang datang pada sore dan malam hari lebih banyak jumlah daripada yang datang pada pagi hari. Rasa capekpun kadang kami rasakan menyelinap disekujur tubuh kami.
Hari-hari terakhir menjelang keberangkatan juga kami gunakan untuk memenuhi dan melengkapi barang-barang yang harus kami bawa ke tanah suci. Barang-barang itu merupakan kebutuhan sehari-hari yang kami gunakan selama menjalankan ibadah haji. Diantara barang-barang yang kami akan kami bawa dan masuk dalam koper kami adalah perlengkapan ibadah dan pakaian secukupnya, beberapa bahan makanan, beberapa alat memasak, peralatan mck dan sedikit obat-obatan.
Dalam hal apa saja perbekalan yang harus dibawa dalam koper ketika berangkat ke tanah suci, masing-masing jama’ah calon haji (JCH) berbeda-beda pendapatnya. Ada yang berpendapat bahwa mereka harus membawa semua kebutuhan hidup sehari-hari seperti layaknya hidup disini. Jadi mereka harus membawa bahan makanan mulai dari beras sampai hal-hal yang terkecil seperti garam dan cabe sambal. Mereka berpendapat bahwa barang-barang itu harus dibawa dari sini karena disana jarang ada. Kalaupun toh ada harganya bisa berlipat-lipat dari yang ada disini. Sayang kalau uang banyak dibelanjakan untuk membeli bahan makanan disana. Mending dibelanjakan untuk keperluan yang lebih penting. Lagian koper yang disediakan oleh fihak penerbangan masih muat untuk diisi sebagian barang yang diperlukan.
Ada juga yang berpendapat bahwa dalam perbekalan yang harus dibawa, kita tidak perlu terlalu memberatkan diri dengan mengisi koper dengan barang-barang yang disana sudah banyak tersedia. Daripada repot ngurusi koper kita yang berat mending kita membawa barang seperlunya saja. Karena nanti ketika turun dari bandara atau nanti ketika di penginapan, kita akan terbebani dengan mengangkat dan memindahkan koper yang akan terasa berat itu. Jadi mending pilih yang ringan saja. Demikian pendapat yang lainnya yang masuk kepada kami. Tetapi dari dua pendapat yang sama-sama benarnya itu manakah yang akan kami ikuti.
Rupanya kami lebih senang memilih pendapat yang pertama. Pertimbangannya adalah karena minimnya sangu yang kami miliki. Memang bagi yang berangkat dengan sangu yang tebal, sebaiknya memilih pendapat yang kedua karena ini sangat meringankan beban bagi jama’ah. Tetapi bagi kami yang tipis sangunya sudah menyiapkan segala resikonya ketika nanti harus membawa barang-barang yang cukup banyak. Bagi kami prinsipnya selagi jatah isi kopernya masih memungkinkan dan mencukupi untuk dimuati barang-barang, kami akan memenuhinya. Perkara berat nanti akan ketahuan sendiri. Kami yakin bahwa nanti akan ada petugas yang membantu kami baik di bandara maupun di penginapan.
Malam hari menjelang hari keberangkatan pada hari Rabu tanggal 6 Januari 2005 dirumah terasa sangat ramai sekali. Beberapa persiapan terakhir telah kami lakukan termasuk mengecek dan memastikan kembali bahwa tidak ada satupun barang-barang yang kami dibutuhkan yang ketinggalan. Segala dokumen-dokumen penting yang harus kami bawa tidak lepas dari pengecekkan. Seperti SPMA (surat panggilan masuk asrama) yang sudah kami terima dari KBIH tidak boleh sampai tertinggal. Kalau sampai tertinggal, kita tidak akan diperbolehkan masuk asrama haji. Sementara kopor besar pemberian jasa penerbangan Saudia Airlines telah penuh dengan barang-barang bawaan dan sudah di packing.
Koper yang sudah dipacking dan dilapisi dengan rangkaian tali itu kemudian diberi sarung warna hijau dengan bertuliskan nama, alamat dan nomer kloter kami. Sarung ini secara khusus di buat dan disiapkan untuk koper-koper kami dengan tujuan memudahkan kami mencarinya ketika nanti di bandara atau di penginapan. Menurut pengalaman yang sudah berangkat, menandai koper dengan tanda-tanda khusus sudah menjadi sesuatu yang lazim bagi jama’ah calon haji untuk memudahkan mereka dengan cepat mengenali kopernya. Ada yang menandainya dengan mengikatkan pita berwarna-warni, ada yang memakaikan selendang, ada yang kopernya di cat dan lain sebagainya.
Sore dan malam itu jumlah tamu yang datang sangat banyak sekali. Ada sebagian yang sudah saya kenal dan ada juga yang belum saya kenal. Kalau sore hari kebanyakan tamu yang datang adalah kaum perempuan, yang malam harinya kebanyakan yang datang adalah kaum lelakinya. Kedatangan mereka adalah dalam rangka untuk mengucapkan selamat jalan kepada kami sambil meminta kepada kami untuk mendoakan mereka agar segera bisa menyusul kami berangkat ke tanah suci. Itulah tradisi yang telah berlangsung selama ini dan kami merasakan betul suasananya pada saat-saat terakhir menjelang keberangkatan kami. Dan malam itu jarum jam telah menunjukkan  pukul 22.00 wib, berangsur-angsur tamu mulai meninggalkan rumah kami. Hanya beberapa kerabat dekat saja yang masih terlihat setia menemani keluarga kami dan terus terjaga sampai larut malam. Saya sendiri berangkat istirahat sekitar pukul 23.00 wib.
Rabu tanggal 6 Januari 2005, kami bangun dari tidur menjelang adzan subuh berkumandang. Hari itu adalah hari kami akan berangkat ke asrama haji Surabaya sebelum kami berangkat ke tanah suci pada hari Kamis-nya. Setelah melaksanakan sholat subuh di mushalla saya lanjutkan dengan doa-doa wirid harian saya di rumah. Pagi itu persiapan terakhir bagi kami sebelum kami berangkat nanti siang ba’da sholat dhuhur. Kami hanya mempersiapkan hal-hal yang terkait dengan kebutuhan kami saja. Sedangkan persiapan yang lain terkait teknis pemberangkatan, semuanya sudah ditangani keluarga. Mulai dari bagaimana acara pemberangkatan, siapa saja pengiringnya, jumlah kendaraanya, konsumsinya dan lain sebagainya telah disiapkan oleh keluarga.
Menjelang siang pengantar yang berasal dari keluarga Lamongan datang menumpang sebuah mobil carteran. Tidak lama berselang pengantar yang datang dari Surabaya juga telah datang. Dan rumah semakin banyak dipadati para pengantar menjelang adzan dhuhur dikumandangkan. Terhitung ada 15 mobil yang sudah diparkir di depan rumah yang siap mengangkut seluruh pengantar. Sedang mobil sedan warna hitam milik H. Thoyib yang akan mengangkut kami berdua juga sudah terparkir di depan pintu rumah. Hati semakin berdebar ketika adzan dhuhur dikumandangkan. Selekas mungkin kami segera menunaikan sholat dhuhur di kamar. Usai melaksanakan sholat kami berdua berpamitan kepada seluruh keluarga.
Inilah saat-saat yang mengharukan. Satu persatu kami berpamitan dan meminta doa restu kepada seluruh keluarga. Kami memulainya dari mbah putri yang sudah sangat sepuh dan jalannya harus dituntun, kemudian kepada bapak dan ibu mertua, kemudian kepada ibunda saya serta seluruh anggota keluarga semuanya. Kami tidak mampu lagi membendung cucuran air mata yang mengalir deras dari pelupuk mata setiap kali kami berpamitan dan berpelukan dengan mereka sekaligus meminta restu dan doa-doa mereka. Merekalah orang-orang yang paling kami hormati serta sangat berjasa dalam perjalanan hidup kami.
Setelah pamitan kepada keluarga selesai, kami teruskan kepada seluruh pengantar yang hadir saat itu. Suasana tangis dan haru tidak tertahankan lagi saat satu persatu tangan-tangan mereka kami jabat sambil meminta doa dan restunya. Seperti hendak pergi jauh yang belum tentu akan kembali kami berpamitan kepada mereka untuk terakhir kali. Belum selesai kami berpamitan kepada mereka semuanya, acara pelepasan jama’ah haji harus segera dimulai. Sayup-sayup kumandang sholawat Nabi saw dilantunkan oleh pembawa acara. Kamipun harus bersiap-siap untuk berdiri didepan jama’ah pengantar untuk mengikuti prosesi pelepasan.
Acara pelepasan dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Affandi, ulama dan sesepuh desa kami. Diawali dengan pembacaan sholawat Nabi bersama-sama kemudian dilanjutkan dengan sambutan atas nama keluarga. Selanjutnya adalah pembacaan doa keberangkatan dan yang terakhir adalah dikumandangkannya adzan. Saat dibacaan doa perjalanan dan kalimat talbiyah suasana hening dirasakan oleh semuanya. Dan ketika suara adzan dikumandangkan, mata-mata kami dan semua jama’ah pengantar tidak lagi bisa menahan tangis yang secara tidak sadar tumpah begitu saja. Ketika kalimat-kalimat takbir itu berkumandang dengan lantang dan begitu mengguncang hati dan perasaan. Ada perasaan dan suasana hati yang memuncak untuk segera memenuhi dan menyambut panggilan Ilahi di tanah suci. Rindu yang begitu menggoncang hati untuk sebuah perjalanan suci memenuhi panggilan Ilahi di tanah suci yang diberkahi.

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Komitmen Kepada Syuro Khusyu’ Dalam Shalat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: