Bermusyawarah

Agustus 4, 2008 at 2:47 am Tinggalkan komentar

Akhir-akhir ini kita semakin sering menyaksikan berbagai macam konflik dan pertikaian yang terjadi di dalam masyarakat kita. Ada konflik yang dipicu oleh kesalahfahaman dan ada juga yang dipicu oleh adanya perebutan kekuasaan atau kepentingan. Padahal masyarakat kita telah dikenal sebagai masyarakat yang santun dan penuh toleransi. Di dalam budaya masyarakat kita sudah sangat akrab dengan kehidupan yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong dan saling membantu antar sesama. Bahkan nilai kebersamaan itu nilainya sangat tinggi melebihi nilai yang menjadi kebutuhan pokok mereka sendiri. Sampai-sampai ada slogan di masyarakat Jawa “mangan gak mangan pokoke ngumpul” (meskipun tidak ada makanan yang penting bisa berkumpul).

Tetapi apakah akhir-akhir ini nilai-nilai kebersamaan itu kelihatannya sudah mulai luntur. Mulai terasa dalam kehidupan bermasyarakat saat ini masing-masing individu lebih mementingkan urusan dan kepentingannya sendiri-sendiri. Apakah budaya materialisme yang datang dari Barat telah berpengaruh begitu kuat dan berhasil merasuki jiwa sebagian masyarakat kita. Sehingga banyak yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa saja yang diinginkan dalam hidupnya seperti harta, kekuasaan atau jabatan. Padahal masyarakat kita telah dikenal sebagai masyarakat yang hidup dengan kederhanaan dan kebersahajaan. Masyarakat kita sangat suka dan sudah terbiasa berbagi kegembiraan kepada para tetangga, kerabat dan kepada sesamanya.

Telah hidup dalam kebudayaan masyarakat kita sikap bermusyawarah untuk urusan-urusan yang bersifat pribadi maupun urusan yang melibatkan kepentingan bersama. Budaya yang telah mengakar begitu lama ini telah berhasil membentuk masyarakat yang bersahaja, santun dan saling menghargai. Seorang anak menghargai pendapat orang tuanya dalam hal pernikahannya, begitu juga sang orang tua menghargai pendapat anak-anaknya terkait dengan pilihan yang telah ditentukannya. Dengan mengedepankan musyawarah semua akan merasa dihormati dan dihargai posisi dan kedudukannya. Semuanya akan merasa terlibat dalam pengambilan keputusan dan akan bertanggung jawab dalam pengamanannya.

Di level pemerintahan kita juga telah memiliki lembaga legislative yang menjadi mitra executive dalam pembuatan aturan perundang-undangan. Sebagai wakil seluruh komponen masyarakat, lembaga legislative ini menyuarakan aspirasi dan harapan masyarakat terkait dengan seluruh kepentingan yang diwakilinya. Prinsip musyawarah dalam kebijaksanaan selalu menjadi pijakan langkah mereka  dalam setiap pengambilan keputusan. Ini menunjukkan betapa prinsip kebersamaan dan musyawarah telah menjadi sesuatu yang membudaya dalam pengelolaan pemerintahan kita.

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Mengenang Isra’ Mi’raj Menggapai Haji Mabrur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: