Menjadi Petani

Juli 18, 2008 at 4:14 am Tinggalkan komentar

Kenapa sih nasib petani dari hari ke hari kok tidak kunjung membaik. Padahal hasil kerja mereka sangat menentukan kehidupan seluruh warga bangsa. Bangsa ini sesungguhnya sangat bergantung kepada keseriusan kerja para petani. Bayangkan saja kalau para petani tidak mau lagi menggarap sawah, ladang atau kebunnya dalam beberapa waktu saja maka bangsa ini akan menghadapi ancaman yang besar. Petani adalah bagian masyarakat yang paling sederhana hidupnya. Kerja keras seakan tanpa lelah telah menjadi salah satu ciri khasnya. Setiap pagi berangkat ke sawah tanpa mengenal jadwal kerja, waktu cuti atau hari libur. Kadang kehujanan dan kadang juga kepanasan. Semuanya mereka jalani tanpa pernah mengeluh dan  protes seperti para buruh-buruh indrustri saat mereka menuntut kenaikan gaji.

Mereka tidak mengenal adanya Upah Minimum Regional (UMR) seperti para buruh di perusahaan-perusahaan di kota. Upah mereka adalah hasil kerja keras bermandikan keringat mereka sendiri setelah panen nanti. Ketika masa panen itu benar-benar sudah tiba, mereka baru bisa memetik dan menikmati hasil dari apa-apa yang mereka tanam sebelumnya. Rasa bahagia dengan hati yang berbunga-bunga menandakan panen yang mereka harapkan sudah sesuai dengan yang mereka inginkan. Tumpukan hasil-hasil panen yang menggunung di dalam rumah membuat mereka bangga dan merasa seakan mereka akan mendadak menjadi kaya. Rasa penat dan lelah yang selama itu terasa begitu mengelayut seakan sirna ditengah rasa syukur dan bahagia mereka bersama keluarga.

Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ketika mereka hendak menjual hasil-hasil panennya, mereka akan sedikit mengelus dada karena kecewa hasil panennya dihargai sangat murah. Penetapan pemerintah tentang harga dasar hasil panen di saat terjadi panen raya itu tidak akan banyak dihiraukan oleh para tengkulak yang kadang mematok harga dengan seenaknya. Sementara para petani harus menjual hasil panennya agar mereka segera bisa membayar pinjaman atau hutang yang dilakukan sewaktu musim tanam. Hati mereka harus kembali kecewa, ternyata biaya yang harus dikeluarkan selama musim tanam begitu besar dan harus mengambil sebagian besar dari hasil panen yang sudah depan mata. Pupus sudah impian mereka untuk menikmati hasil panen yang melimpah untuk lebih menambah dan mengangkat harkat kehidupan mereka.

Kenyataan seperti inilah mungkin yang menyebabkan anak-anak dan para pemuda kita tidak ada yang ingin serta bercita-cita menjadi petani. Meskipun mereka adalah para anak-anak petani sendiri. Gambaran yang ada di benak mereka anak-anak sekarang bahwa menjadi petani itu sangat keras dan berat kerjanya. Tempat kerjanya berada di tempat-tempat kotor yang berlumpur, berlepotan, kehujanan dan kepanasan serta tidak mengenal waktu. Ditambah lagi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Saat ini anak-anak para petani sendiri lebih senang bekerja di kota sebagai buruh pabrik atau pembantu rumah tangga dari pada mengikuti jejak para orang tuanya. Sehingga sebagian besar usia para petani kita rata-rata limapuluh tahun keatas.

Kita tidak tahu apa yang terjadi duapuluh tahun mendatang ketika para petani tua itu telah tiada. Siapa yang akan meneruskan menggarap sawah, kebun dan ladang mereka. Padahal sedari sekarang saja negara kita suda dihantui adanya kerawanan di bidang penyediaan stock pangan. Kenapa tidak ada investasi besar-besaran di bidang pertanian. Apakah karena para petani itu orangnya “lugu-lugu dan nrimo” sehingga sering luput dari perhatian sebagian para pengambil kebijakan.

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Memperbanyak Harta Dengan Bersedekah Memilih Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: