Rindu Tanah Suci-9: Rindu Yang Terobati

Juli 11, 2008 at 1:26 pm Tinggalkan komentar

Rombongan tamu yang datang berikutnya pada hari itu adalah rombongan terbesar jumlahnya dibandingkan yang datang sebelumnya. Ada dua mobil stasion yang penuh sesak dengan penumpangnya yang datang dari keluarga Lamongan. Lebih kurang 20 orang besar kecil masuk dalam satu mobilnya. Rombongan ini sangat istimewa karena didalamnya ada Ibunda, saudara, paman-bibi dan kerabat dekat baik dari jalur ibu maupun bapak. Saking banyaknya jumlah rombongan yang datang, sampai-sampai ruang tamu yang luas itu hampir penuh. Didalam rombongan itu ada keluarga yang dari jalur bapak yang ikut. Padahal selama ini amat jarang keluarga dari jalur bapak mendatangi saling bersilaturahmi antar keluarga secara akrab. Inilah mungkin barangkali salah satu keberkahan dan keutamaan orang berangkat haji. Bisa mendekatkan hubungan saudara yang tadinya renggang atau jauh.

Seperti biasa kalau orang Lamongan bertamu mesti membawa ‘gawan’ atau oleh-oleh yang banyak dan kelihatan berat. Yang tidak ketinggalan dalam gawan itu biasanya adalah beras dan pisang. Seakan beras dan pisang sudah menjadi barang bawaan wajib bagi orang-orang di desa ketika hendak bertandang ke rumah orang lain. Menjenguk bayi lahir, menjenguk orang sakit, menjenguk rumah baru, menjenguk haji dan lain sebagainya pasti membawa gawan itu. Selain dua barang itu yang dibawa biasanya juga ditambah dengan gula atau penganan yang lain semisal roti, kacang, mie dan lain-lain. Memang dengan membawakan oleh-oleh seperti itu rasa-rasanya bisa membuat hubungan kekeluargaan semakin erat dan dekat. Ada semacam tuntutan perasaan untuk saling memberi dan saling memperhatikan.

Karena waktunya sholat dhuhur sudah masuk, sebagian mereka secara bergantian menunaikan sholat dhuhur di mushalla belakang rumah. Sebagian yang lain masih menikmati makan siang dan menyantap hidangan yang disediakan. Sedangkan anak-anak yang ikut dalam rombongan itu asyik bermain-main dan berlarian kesana-kemari. Mungkin mereka kecapekkan setelah selama hamper dua jam “terjepit” di dalam mobil. Apalagi dengan anak-anak kami mereka sudah lama akrab. Jadilah ruang tamu dan halaman rumah itu ramai anak-anak disamping tamu orang dewasanya.

Menjelang Ashar merekapun pamitan. Sebelum mereka pulang kamipun memohon agar mereka senantiasa mendo’akan kelancaran ibadah haji kami. Kami mengantarkan mereka sampai mereka memasuki mobil masing-masing yang di parkir di jalanan di depan rumah kami. Kami sangat terharu atas segala perhatian mereka kepada kami. Padahal kami sendiri belum bisa melakukan seperti itu. Kami terhitung sangat jarang sambang ke kampung halaman. Kami sangat bangga kepada seluruh saudara-saudara saya di Lamongan. Ikatan kekeluargaan yang dijalinnya belum ada yang menandinginya sampai saat ini. Ikatan kekeluargaan begitu menyentuh yang dijalin dengan ketulusan hati, perasaan yang jernih dan kasih sayang yang suci. Begitu polos, tulus dan bersahaja. Kami selalu merindukan saat-saat bertemu dengan mereka seperti saat itu.

Dari semua anggota rombongan satu orang yang tidak ikut pulang, dia adalah ibunda. Seluruh keluarga dan termasuk saya sendiri mengusulkan agar beliau tinggal dan menunggui sampai kami berangkat nanti. Daripada riwa-riwi pulang balik Lamongan-Gresik yang akan menguras tenaga. Apalagi fisik beliau tidak seratus persen fit waktu itu. Hal itu membuat hati kami sangat senang dan bahagia bisa ditunggui orang tua di hari-hari yang tersisa menjelang keberangkatan kami.

Tidak lama setelah rombongan dari Lamongan pulang, suara adzan sholat Ashar berkumandang dan saling bersautan dari Masjid dan mushalla yang ada disekitar rumah kami. Suara dan warna lagu adzan yang khas desa itu memanggil dan mengingatkan bahwa sholat ashar sudah bisa mulai ditunaikan. Saya bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudlu dan kemudian menunaikan sholat ashar. Ada suasana bathin yang berbeda dari hari-hari biasanya. Hati ini terasa senantiasa diselimuti perasaan gembira dan bahagia yang meluap-luap. Belum pernah perasaan seperti itu kami rasakan selama ini. Perasaan yang bersumber dari kerinduan untuk segera menjadi Dzuyufurrohman di Baitullahil Haram ditambah lagi bertemu dengan orang-orang yang telah mengukir rasa cinta, kasih sayang dan sejarah dalam hati dalam waktu yang lama.

Sehabis ashar giliran rombongan tamu dari Surabaya yang datang. Kali ini adalah para ustadz dan kawan-kawan tempat saya beraktifitas baik di lembaga maupun organisasi. Diantara mereka ada juga para ustadz pengasuh pesantren mahasiswa dan juga kawan-kawan dari PKS beserta para istrinya. Dengan menumpang dua mobil sebagian mereka juga ada yang mengajak anak-anak. Selang beberapa saat dari kedatangan mereka. Obrolan-obrolan ringan dan santai mengiringi pertemuan kami dengan mereka. Mungkin karena saking akrabnya sehingga kami sampai lupa untuk meminta nasehat-nasehat khusus seputar ibadah haji. Adanya beberapa ustadz mestinya kami manfaatkan untuk menggali lebih dalam ilmu tentang haji. Mengingat mereka pernah lama muqim dan menjadi pembimbing haji di Saudi Arabiyah. Semestinya forum itu bisa dibuat semi formal, dibuka dan ditutup. Ada sambutan, ada taujih plus pesan dan diakhiri dengan do’a. tetapi karena dari awal tidak terlintas dalam pikiran sedikitpun agenda seperti itu, akhirnya pertemuan itu berjalan biasa-biasa saja. Penyesalanpun selalu datang belakangan. Dalam hati kecil berkata; saya telah membuang kesempatan emas yang telah datang kepada kami.

Selang beberapa lama merekapun minta pamit. Kamipun melepas mereka untuk pualng dengan perasaan haru dan suka cita. Sambil bersalam-salaman kami mengucapkan terima kasih atas kedatangan dan meminta maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Ketika saya bersalaman dengan bendahara yayasan dimana saya menjadi pengurus beliau menyelipkan amplop putih ketangan saya sambil mengatakan bahwa ini ada titipan dari Yayasan. Sambil mengantar mereka sampai di mobil mereka masing-masing, saya terima amplop itu dengan mengucapkan terima kasih atas segala perhatiannya. Kamipun melepas mobil mereka sampai mereka benar-benar meninggalkan rumah kami.

Saya sudah menduga bahwa amplop putih yang diserahkan bendahara adalah uang. Karena sudah menjadi kebiasaan di yayasan, bahwa ketika ada pengurus yang sakit, menikah atau yang mempunyai hajat besar yang lain yayasan akan memberi santunan atau bantuan keuangan sekedarnya. Dan yang mengurus hal-hal seperti itu biasanya adalah ya bendahara. Yang tidak biasa dalam pemberian amplop saat itu adalah isinya. Karena ketika saya buka amplop tersebut isinya adalah mata uang Saudi Arabiyah ‘Riyal’. Ada empat lembar uang pecahan 50-an sehingga jumlah keseluruhan isi amplop itu adalah 200 Riyal Saudi Arabiyah. Saya tidak tahu berasal dari siapa ide untuk memberi saya uang pecahan dalam bentuk Riyal.

Menjelang maghrib semakin ramai saja rumah didatangi ibu-ibu kampung yang “buwuh”. Sudah menjadi tradisi di desa, setiap ada walimah atau hajatan para ibu-ibu mendatanginya dengan membawakan beras. Mereka datang untuk mengucapkan selamat dan mendoakan. Para ibu-ibu itu kemudian dijamu dan ketika pulang mereka dibawakan berkat. Saking banyaknya ibu-ibu yang datang, sampai-sampai ruang tamu yang luas itu penuh sesak. Para penerima tamu juga kelihatan kewalahan melayani sekian banyak orang yang datang hampir bersamaan. Kondisi ini berlangsung sampai menjelang isya’.

Dalam kondisi seperti ini yang paling repot dan sibuk adalah bagian dapur. Bagian dapur ini dikenal sebagai bagian yang paling duluan aktifnya dan yang paling terakhir atau belakangan selesainya. Sudah sejak beberapa hari sebelumnya, orang tua mendatangkan “para pekerja” dapur ini. Mereka rata-rata sudah terbiasa bekerja seperti itu. Ada yang khusus bagian memasak nasi, ada yang bagian menyiapkan bumbu masakan, ada yang bagian menyiapkan lauk daging dan sayur dan ada juga yang bagian “korah-korah” alias cuci perangkat makan.

Diatara mereka ada yang secara khusus mendapatkan upah dari pekerjaannya. Tetapi tidak sedikit juga yang secara sukarela dan ikhlas membantu tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Mereka yang datang secara sukarela tersebut biasanya adalah para tetangga dekat rumah dan juga kerabat dekat. Mereka dengan senang hati mengerjakannya dilandasi sebuah kebiasan saling karena sudah menjadi tradisi turun termurun yang umum di daerah pedesaan.

Ketika berkumandang adzan isya’ kami segera menunaikan sholat sholat wajib tersebut. Sementara di ruang tamu masih banyak para tamu yang sedang menikmati hidangan yang disajikan. Ketika selesai sholat isya’, sudah tidak lagi terlihat tamu perempuan yang datang. Yang datang sekarang berganti dengan undangan laki-laki. Beberapa kerabat dekat datang paling awal diantara undangan yang datang. Mereka datang untuk membantu mempersiapkan tempat dan segala perlengkapan yang dibutuhkan dalam acara tasyakuran. Mereka juga nantinya bertugas sebagai penerima tamu dan yang melayani tamu selama acara berlangsung.

Beberapa saat kemudian, beberapa tamu dari kampung mulai berdatangan. Saya dan orang tua serta para penerima tamu menyambutnya dengan penuh suka cita. Semakin lama jumlah undangan yang datang semakin banyak. Ruang tamu rumah timur yang luas itu hampir seluruhnya telah terisi. Ada lebih dari seratus limapuluhan undangan yang telah datang, dan telah duduk bersimpuh diatas karpet hijau yang disediakan. Sambil menunggu acara dimulai, mereka tampak ngobrol diantara satu dan lainnya. Sehingga ruang tamu itu tampak sangat ramai sekali.

Setelah seluruh undangan dianggap telah datang semua, acara pun segera dimulai. Suasana acaranya tidak terlalu formal. Sebagai contoh, misalnya idak ada podium khusus untuk penceramah. Tidak ada petugas pembawa acara maupun petugas pembaca ayat-ayat suci Al Qur’an. Semua acara dibawakan oleh KH. Hasan Affandi seorang tokoh dan Kyai setempat. Beliau dikenal sebagai orang yang biasa meng-handle acara atau hajatan di kampong kami. Mulai dari acara yang resmi maupun acara-acara yang non-formal. Terutama untuk acara tasyakuran haji dan acara-acara yang berkaitan dengan ibadah haji, beliaulah ahlinya. Beliau juga dikenal sebagai guru ngaji dan penceramah.

Hubungan keluarga kami dengan Kyai Hasan, demikian kami memanggilnya, sudah terjalin lama dan sangat akrab. Sehingga untuk acara hajatan seperti ini, kami menyerahkan seluruh acaranya kepada beliau. Acara dibuka dibuka dengan bacaan Surat Al Fatihah bersama-sama. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pembacaan sholawat Nabi saw. Ditengah-tengah pembacaan sholawat itu, datanglah serombongan mobil yang cukup banyak. Rupanya tamu dari kampung di Surabaya telah sampai di rumah kami.

Rombongan yang datang dari Surabaya ada sekitar sepuluh mobil yang jumlah orangnya ada sekitar enampuluhan orang. Mereka terdiri dari para jama’ah Mushollah, para tetangga dan para tokoh masyarakat dan yang lainnya. Kami menyambut mereka dengan rasa haru dan suka cita. Sebuah kehormatan yang tidak ternilai harganya yang diberikan kepada kami dimana mereka telah meluangkan waktunya untuk hadir dalam acara kami. Di dalam rombongan itu ada beberapa tokoh masyarakat yang sangat dihormati di kampung kami di Surabaya. Kami persilahkan mereka langsung masuk ke ruang tamu rumah sebelah barat dan mereka semua langsung mengikuti acara.

Rombongan yang datang paling akhir dalam acara tasyakuran tersebut adalah keluarga bapak Suwarno Alwi. Beliau adalah ayahanda dari Bu Alfie salah satu guru SDIT Al Uswah Surabaya. Beliau datang beserta istrinya, bu Alfie sendiri dan suaminya serta cucunya yaitu anaknya bu Alfie yang bernama Salma. Ditambah lagi sopir dan salah pengelolah SDIT. Dengan menumpang mobil pribadi Carry warna hijau, beliau sampai di rumah ketika acara sudah dipertengahan atau sekitar pukul 20.30 wib. Kedatangan beliau sekeluarga ini cukup mengejutkan sekaligus diluar dugaan saya sekeluarga. Kami merasa mendapatkan kehormatan yang luar biasa yang tidak kami bayangkan sebelumnya.

Saya memang memiliki hubungan dekat dengan keluarga pak Warno, demikian kami memanggilnya. Saya mengenal Bapak dan Ibu Warno Sejak Bu Alfie mengajar di SDIT Al Uswah. Beberapa kali kami berkunjung ke rumah beliau dan beberapa kali juga kami bertemu di SDIT. Beliau berdua juga sebagai guru SD yang sehari-hari terbiasa bergelut di dalam dunia pendidikan. Bakat itulah mungkin yang kemudian menurun kepada Bu Alfie anak pertama beliau. Meskipun Bu Alfie lulusan ITS, tetapi kemampuan keguruan dan kependidikannya luar biasa. Kemampuan mengelola kelas dan berimprovisasi dalam pengajaran sangat bagus. Juga kemampuannya berkomunikasi dengan siswa, beliau tidak kalah dengan mereka yang jebolan perguruan tinggi jurusan keguruan dan kependidikan sekalipun. Saya sendiri yang lulusan F-IKIP mungkin kalah jauh dengan kemampuan yang beliau miliki. Beruntung SDIT merekrut beliau di awal-awal berdirinya. Sehingga bisa mengangkat prestasi sekolah yang baru dirintis di yayasan Ukhuwah Islamiyah tersebut. Beliau memang serba bisa. Mereka yang laki-laki langsung bergabung dengan para jama’ah yang lain yang sedang melantunkan bacaan-bacaan sholawat di teras rumah. Sedangkan istri beliau serta bu Alfie bersama Salma putrinya dan teman guru SDIT yang lain langsung menuju ruang belakang.

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Menjadi Golput? Memperbanyak Harta Dengan Bersedekah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: