Selesai Dengan Kata-Kata

Juli 3, 2008 at 6:06 am Tinggalkan komentar

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari sangat memungkinkan kita suatu saat terlibat dan masuk dalam perselisihan dengan orang lain. Ada perselisihan yang sifatnya ringan saja ada juga yang bisa mengarah kepada pertengkaran. Perselisihan yang mengarah kepada peretngkaran sering terjadi karena masing-masing tidak mau mengalah dari yang lainnya. Hal ini terjadi karena masing-masing merasa pendapat merekalah yang benar dan harus diterima atau diikuti oleh yang lainnya. Karena sama-sama bernafsu memaksakan pendapatnya bisa diterima, maka terjadilah perselisihan dan pertengkaran. Dan sudah bisa dipastikan bahwa setiap pertengkaran sebagian besarnya akan melibatkan segenap hati dan perasaan.

Yang mengemuka pada akhirnya adalah perasaan benci dan marah saat pertengkaran terjadi. Hal itu bisa dilihat dari raut wajah, sorot mata dan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ketika seseorang sedang marah, raut wajahnya terlihat memerah dan sangat tegang. Sedangkan sorot matanya menjadi tajam serta pandangan matanya tidak beraturan. Kata-kata yang keluar cenderung keras, kasar dan bahkan menjurus kepada merendahkan. Bahkan kata-kata itu bisa mengarah kepada umpatan dan hujatan. Kalau sudah terjadi begitu, maka kedua belah fihak akan saling menyimpan perasaan benci yang mendalam. Hatipun menjadi terasa sakit seperti terluka. Kata-kata kasar yang telah diucapkan terasa sangat membekas dan seakan sulit untuk dilupakan. Rasa-rasanya sulit bagi hati untuk bisa kembali disatukan.

Tetapi itu semua terjadi ketika hati masih dalam keadaan marah. Ketika marah itu sudah meredah, pikiranpun sudah mulai tenang dan akal yang sehat dan jernih mulai bicara. Maka rasa benci dan dendam yang ada dalam hati lama kelamaan bisa segera diakhiri. Apalagi yang terlibat perselisihan dengan adalah orang-orang terdekat semisal suami atau istri, sesama saudara atau keluarga, sesama teman, sesama tetangga dan yang lainnya. Yang dalam kesehariannya kita sangat membutuhkannya.

Semua orang menyadari akan pentingnya pendamping dan teman hidup. Tanpa adanya pendamping dan teman hidup dalam keseharian, maka terasa hampalah dunia ini. Agar hidup ini bisa dinikmati dengan sempurna, maka dibutuhkan kerjasama yang baik dengan teman hidup kita. Kalau kemudian yang terjadi adalah tidak adanya komunikasi atau tidak saling tegur sapa, tentu saja jalannya kehidupan akan menjadi timpang. Andai saja ada seorang istri yang tidak diajak bicara oleh suaminya. Atau seorang anak yang tidak disapa oleh ayahnya atau dua orang saudara yang sedang bertemu kemudian tidak mau saling bertegur sapa. Pasti kedua-duanya akan merasa menderita dan tersiksa. Oleh karenanya Islam sangat melarang seseorang mendiamkan saudaranya melebihi 3 hari. Makanya kalau ada dua orang saudara yang pernah terlibat pertengkaran harus segera kembali diakrabkan.

Keinginan untuk kembali akrab dan bisa berbicara serta bertegur sapa kadang terhalang oleh perasaan malu dan enggan, siapakah yang harus memulainya lebih dahulu. Kalau sudah ada yang memulainya lebih dahulu dan ketika sudah mulai dicoba untuk saling bertegur sapa. Kadang itupun masih belum bisa menuntaskan segala ganjalan yang masih ada di dalam dada. Ketika sudah mulai bisa diajak bicara dan berkomunikasi, itupun terkadang masih hanya sebatas yang dianggap perlu-perlu saja. Rasanya masih ada sesuatu yang disimpan dan disembunyikannya. Tidak seperti saat-saat sebelum terjadi pertengkaran. Begitu terbuka dan blak-blakan baik dalam meminta atau dalam mengungkapkan segenap perasaan.

Keadaan seperti itu akan berlangsung lama kalau masing-masing tidak mau membuka diri dan merendahkan hati, yaitu dengan cara meminta maaf atau memberi maaf diantara keduanya. Kata-kata permintaan maaf itulah yang akan bisa menjebol segala sekat-sekat yang masih menjadi penghalang keakraban. Kata-kata maaf itulah yang akan bisa meruntuhkan tembok tebal yang menjadi bisa pemisah hati diantara keduanya. Kata-kata maaf itulah yang akan kembali menumbuhkan pucuk-pucuk cinta dan kasih sayang serta keakraban diantara keduanya. Kalau kata-kata ini belum pernah disampaikan, sejauh apapun hubungan yang dijalin pasti masih akan dirasakan adanya ganjalan.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Al Imran: 133 – 134).

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Gravitasi dan Peperangan SDIT Al Uswah Menerobos SBI SMPN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: