Berebut Sekolah

Juni 25, 2008 at 3:08 am Tinggalkan komentar

Suatu ketika di sebuah rumah terdengar sebuah perdebatan sengit dan sedikit mengarah kepada pertengkaran antara sang ayah dan sang ibu. Hal ini terjadi terkait dengan perkara kemana anak perempuannya akan disekolahkan nantinya setelah lulus dari sekolah dasar. Sang ayah berpendapat bahwa sang anak harus dimasukkan di sekolah yang berbasis agama yang mengajarkan ilmu-ilmu agama disamping ilmu-ilmu umum. Sebaliknya sang ibu bersikeras ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah umum yang bermutu. Dia beralasan bahwa dengan menyekolahkan anaknya di sekolah yang maju akan bisa memacu dan meningkatkan prestasi anaknya.

Keduanya saling bersikeras untuk mempertahankan pendapatnya dan tampaknya tidak ada yang mau mengalah. Sang ayah berpendapat bahwa di jaman seperti sekarang ini dia pantas khawatir terhadap masa depan anak perempuannya. Kenakalan remaja dan berbagai bentuk penyimpangan pergaulan anak-anak sekolah sedang melanda dimana-mana. Dia berpendapat bahwa anak-anaknya harus dibentengi kepribadiannya dengan kedalaman ilmu agama. Kepribadian anak-anak remaja yang masih rentan terhadap pengaruh pergaulan teman-temannya dan lingkungan sekitarnya harus dibekali dengan penghayatan dan pengamalan agamanya secara kuat. Sebab sekali anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, akan menyebabkan masalah yang tidak akan kunjung ada penyelesaiannya.

Sang ayah berpendapat pegangan agama sangat penting karena akan menjadi landasan utama dalam menjalani kehidupan di masa depan. Menurutnya, kesuksesan di masa depan tidak hanya bergantung pada favorit tidaknya sekolah-sekolah yang pernah dimasukinya. Tetapi kesuksesan itu akan banyak bergantung kepada sejauh mana kemauan dan kerja kerasnya untuk mewujudkan cita-citanya. Demikian pendapat yang sanagat diyakini kebenarannya. Perkara yang terkait dengan ilmu-ilmu umum yang mungkin agak ketinggalan dengan sekolah umum lainnya, hal itu bisa diatasi dengan mendatangkan guru privat ke rumah untuk mengejar ketertinggalannya.

Sang ibu mempunyai pandangan yang agak berbeda. Dia menilai bahwa Sekolah yang berbasiskan pelajaran agama tidak bisa seratus persen menjamin anak-anak didiknya bisa mengamalkan ajaran agama secara sempurna. Banyak juga anak-anak yang sekolah disana yang belum baik benar akhlaqnya. Dia telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, betapa ada beberapa anak-anak siswa perempuannya, begitu mereka sampai di rumah mereka tanggalkan jilbab-jilbabnya. Kemudian setelah itu mereka ganti pakaian yang seragam sekolah yang menutup aurat itu dengan memakai celana dan kemudian keluar dari rumah dalam keadaan auratnya terbuka.

Sang ibu juga berpendapat bahwa anak-anak yang sekolah di sekolah-sekolah umum juga banyak yang baik dalam pelakasanaan ajaran agamanya. Banyak anak-anak perempuannya yang menutup aurat dan memakai jilbab, banyak juga yang rajin sholatnya, banyak juga yang pintar mengaji Al Qur’annya dan lain sebagainya. Semuanya itu tergantung dari sejauh mana penanaman dasar-dasar akhlaq oleh orang tuanya di rumah. Sang ibu mengatakan bahwa saat ini kita membutuhkan sekolah yang bermutu agar anak-anaknya nantinya bisa berprestasi dan sukses di masa depannya. Untuk urusan pendidikan agamanya, dia berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk mengarahkan dan mendidik anaknya anaknya dengan ilmu-ilmu agama.

Kayaknya keduanya belum menemukan titik temu dan jalan keluar yang sama-sama bisa memuaskan harapan keduanya. Padahal masa pendaftaran siswa untuk tahun pelajaran yang baru tidak berlangsung lama.

Entry filed under: Pendidikan. Tags: .

SDIT Al Uswah Khataman Al Qur’an Jiwa Yang Berpuasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: