Rindu Tanah Suci-8: Doa-doa mengiringi

Juni 18, 2008 at 4:19 am Tinggalkan komentar

Melewati hari-hari pertama setelah pulang di desa terasa  sangat menyenangkan. Suasana pedesaan yang masih asri dengan beraneka tumbuhan  hijau di pagi hari menambah nikmat dan kesegaran yang dirasakan  disekujur tubuh dan pikiran. Hamparan persawahan  yang ditumbuhi padi dan rumputan yang meranggas di pematang yang panjang memanjakan setiap mata yang memandang. Gemercik air di sungai yang bening dan sejuk dengan serombongan ikan yang berlarian menambah suasana nyaman yang tak terkatakan. Lepas dari suasana hikuk pikuk perkotaan dan menikmati indahnya pemandangan menambah rasa syukur terhadap segala ciptaan Tuhan. Meskipun tidak seindah daerah sekitar pegunungan, desa kami ini tetap memesona sebagaimana umumnya gambaran daerah pedesaan yang tenang. Ditambah lagi penduduknya yang ramah dan penuh kekeluargaan sangat menggoda hati untuk berlama-lama bersamanya.

            Hari-hari menjelang acara tasyakuran suasana rumah sudah sangat ramai oleh para kerabat dan tetangga yang datang. Kebanyakan dari mereka datang sebagiannya ada yang ingin membantu persiapan tasyakuran, dan sebagian yang lainnya niatnya untuk ziarah haji. Sejak kedatangan kami dari Surabaya  selalu ada saja  tamu yang datang untuk berziarah. Kebanyakan dari mereka adalah para kerabat yang rumahnya jauh atau luar desa kami. Sebagaimana diketahui bahwa keluarga mertua merupakan salah satu keluarga terpandang di desa kami. Ini disebabkan karena mbah Kakung dan ayahnya dulu pernah menjadi kepala desa yang cukup lama di desa kami. Keluarga besarnya juga ada dan tersebar dimana-mana. Banyak diantara mereka yang tidak saya kenal karena belum pernah ketemu meskipun sudah hamper 13 tahun saya menjadi warga di desa ini.

            Menjelang hari H tasyakuran salah satu bagian rumah yang paling sibuk dan paling banyak orangnya adalah bagian dapur. Mereka yang rata-rata kaum perempuan terlihat sangat ceria mengerjakan perkerjaan yang terkait dengan persiapan acara. Mereka yang rata-rata masih kerabat dan juga tetangga terlihat sangat menikmati apa yang dikerjakannya. Ada yang mempersiapkan aneka bumbu masakan. Ada yang sibuk membuat aneka kue dan penganan. Ada yang mempersiapkan masak lauk-pauk dan lain sebagainya. Semuanya bekerja sesuai dengan yang dihadapi masing-masing. Suasana senang dan bahagia terpancar di raut wajah mereka menyambut hari istimewa bagi kami berdua.

            Hari Sabtu tanggal 1 Januari adalah hari tasyakuran itu diadakan. Kami  mengawali hari dipergantian tahun 2005 dengan perasaan penuh suka cita. Bukan karena adanya perayaan pergantian tahun yang dirayakan oleh sebagian orang di perkotaan. Tetapi Kami menyambut hari sabtu dengan suka cita karena kami akan menyambut sebagian  orang-orang yang tercinta mengunjungi rumah kami. Mereka datang untuk memberikan dukungan moral bagi kami agar selama menjalani ibadah haji di tanah suci kami diberikan kesehatan, kemudahan dan kesempurnaan dalam semua pelaksanaan ibadahnya. Sebagian besar sahabat, kawan dan tetangga di Surabaya berjanji akan datang ke rumah pada acara tasyakuran pada hari Sabtu ini. Demikian juga orang tua, saudara, kerabat dan kawan yang ada di desa Lamongan juga telah berjanji akan datang.

            Menjelang pukul sembilan pagi ketika udara mulai hangat karena pancaran sinar mentari, rombongan yang ditunggu-tunggu datang juga. Mereka adalah  orang-orang yang masih punya ikatan keluarga dengan saya di Lamongan. Ada 12 orang termasuk anak-anak kecil yang datang saat itu. Ada diantara mereka yang datang yang biasa saya memanggilnya adalah bibi, paman dan adik (sepupu) meskipun mereka bukan saudara bapak atau ibu saya. Tetapi karena kalau sudah diurutkan dalam silsilah keluarga jatuhnya saya harus memanggilnya paman atau bibi meskipun usianya sebaya dengan saya.Mereka yang datang ini adalah keluarga yang berasal dari jalur Ibu. Suasana meriah dan akrab tidak terelakkan ketika kami menyambut mereka. Maklum hubungan kami dengan mereka layaknya hubungan saudara. Saling puji dan saling gojlok kerap mewarnai obrolan kami.

            Diantara rombongan Lamongan itu ada salah satu teman putri sewaktu sekolah di SMA. Teman yang sudah menjadi ibu dua orang putri ini menurut silsilah keluarga saya harus memanggilnya bibi. Tetapi karena beliau teman akrab satu kelas dan satu angkatan mulai sekolah di Madrasah sampai SMA, jadi saya “ngoko” saja ketika memanggil namanya. Meskipun saya suatu saat saya pernah diingatkan orang tua supaya tidak langsung memanggilnya alias ngoko. Tetapi itulah yang terjadi karena saking akrabnya sampai lupa adanya sekat silsilah. Beliaulah yang paling memuji saya dengan keberhasilan bisa pergi haji. Beliau mengatakan bahwa diantara teman-teman sekolah, baru saya yang melaksanakan rukun Islam kelima itu. Dan kata beliau juga bahwa agak enggan juga nantinya kalau memanggil saya dengan pak haji karena masih muda dan sudah kadung akrab. Beliau bilang bahwa kalau saya sudah pulang dari haji, beliau akan tetap memanggil nama saya sebagaimana biasa, tidak usah menambahi dengan pak haji.

Mereka  yang datang rata-rata teman bermain, teman sekolah dan teman berorganisasi sewaktu di desa. Mereka sangat mengenal pribadi saya dan  begitu sebaliknya sehingga tidak  ada yang sekat apapun. Selama kami di desa kami dan mereka terbiasa serba terbuka. Karena segala sesuatunya dirasakan bersama-sama. Saking akrabnya sampai lupa waktu dan mereka pun meminta izin untuk pulang. Kamipun tidak lupa untuk meminta do’a pada mereka dan merekapun mondo’akan kami. Sebaliknya merekapun minta dido’akan ketika nanti kami sudah berada di tanah suci supaya mereka mendapat giliran segera bisa berangkat. Setelah persiapan pulang selesai, merekapun meninggalkan rumah kami. Kami melepasnya dengan perasaan haru dan suka cita.

Agak siangan sedikit rombongan yang datang ke rumah hari itu adalah rombongan dari Surabaya. Ada sekitar sepuluh orang yang berziarah kerumah kami saat itu. Mereka adalah teman-teman sehari-hari di Ma’had dan SDIT Al Uswah Surabaya. Sebagian dari mereka bilang kalau mereka sempat kesasar sebelum menemukan dan sampai di rumah kami. Memang kalau yang tidak terbiasa bepergian jauh sampai ke desa akan kesulitan mencari alamat di desa kami. Rata-rata orang desa dalam mengingat alamat bukan pada nomer tetapi pada orang yang akan dituju. Rata-rata orang desa mengetahui dan mengenal nama seluruh penduduk desa. Jadi kalau mau mencari alamat seseorang di desa tinggal menyebut nama desa beserta nama orang yang dicari. Setelah mengobrol lama dengan mereka akhirnya mereka minta izin pulang. Kami mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka dan kami tidak lupa untuk meminta do’a pada mereka. Merekapun mendo’akan kami.

Menjelang dhuhur petugas sound system datang. Mereka akan memasang seperangkat sound system yang akan dipakai untuk acara tasyakuran nanti malam. Tidak butuh waktu yang terlalu lama, seluruh perangkat yang terdiri dari pengeras suara dan mesin kontrol itu telah seluruhnya terpasang. Disamping sound system, mertua juga menyewa sebuah generator listrik. Benda itu disewa untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi pemadaman aliran listrik ditempat kami. Sesuai pengalaman yang sudah-sudah. Sering terjadi pemadaman listrik secara tiba-tiba. Dua salon besar (pengeras suara) telah berdiri dan terpasang di tepi jalan di depan rumah. Setelah semua dianggap telah siap, maka dibunyikanlah sound system itu. Suaranya keras sekali sehingga bisa terdengar sampai jarak 500 meter. Kami yang didalam rumah juga merasakan bunyi sound system yang sedang dicoba tersebut. Sesuai kebiasaan ayang ada di desa, ketika sound-system telah dinyalakan, berarti acara hajatan telah dimulai.

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Hidup Bersama Sepak Bola Dimana Sekolah Anak Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: