Seandainya Mau Mengaji

Juni 10, 2008 at 6:02 am 1 komentar

Kata mengaji sudah sangat akrab di telinga siapa saja sejak usianya masih kecil. Di masa itu, setiap menjelang waktu sholat maghrib tiba, pasti para orang tua sudah memperingatkan anaknya untuk tidak lupa pergi mengaji. Ketika suara adzan maghrib berkumandan, anak-anakpun sudah mandi dan rapi memakai baju dan sarung serta kopiah di kepala,  mereka telah siap berangkat menuju ke masjid atau mushalla. Waktu itu yang dimaksud mengaji adalah berangkat ke masjid atau langgar (mushalla) untuk melaksanakan sholat maghrib berjama’ah dan kemudian dilanjutkan dengan belajar membaca Al Qur’an bersama-sama.

Saat pelajaran mengaji dimulai, anak-anak biasanya sudah duduk secara tertib di belakang meja kecil atau damparnya masing-masing. Sementara sang kiai atau guru sudah duduk di hadapan mereka. Sang kiai kemudian memulainya dengan membaca surat Al Fatihah secara bersama-sama. Setelah itu sang guru memberikan pelajaran bagaimana melafalkan bacaan Al Qur’an yang benar. Anak-anak kemudian menirukan bacaan beliau secara berulang-ulang. Selanjutkan anak-anak diperintahkan secara bergiliran menirukan bacaan-bacaan yang diajarkan. Ada yang lancar dalam menirukan ada juga yang merasa kesulitan. Tetapi lama kelamaan akhirnya  anak-anak itu bisa juga membaca Al Qur’an.

Demikianlah kegiatan anak-anak yang sudah lazim dilakukan sejak zaman dulu. Sebuah kegiatan yang sudah mengakar dan membudaya ditengah-tengah masyarakat kita. Meskipun untuk bisa membaca Al Qur’an dengan benar dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah karena semuanya sudah memakluminya. Belum lagi kalau ada keinginan untuk bisa membaca (qiroah) yang dilagukan,  seperti halnya para Qori’ yang berlomba di arena MTQ, bisa jadi lebih lama lagi waktu yang dibutuhkannya. Itu baru sekedar mengaji cara membacanya saja. Belum lagi kalau ingin menghafalkannya, pasti akan memerlukan waktu yang cukup lama lagi.

Kalau menurut sesuatu yang ideal, mengaji itu seharusnya tidak hanya berhenti setelah bisa membacanya. Atau  ketika sudah berhasil mengkhatamkan membaca Al Qur’an. Semestinya kalau sudah pandai membacanya, ngajinya tidak perlu dihentikan. Ngajinya bisa tetap dilanjutkan dengan mengaji isi dari Al Qur’an. Karena Al Qur’an adalah kitab yang diturunkan untuk menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Maka manusia harus mengerti isinya. Bagaimana manusia bisa menjadikannya sebagai pedoman kalau mereka tidak mengetahui isinya. Tetapi kayaknya belum menjadi budaya dan belum banyak yang melanjutkan ngajinya sampai kepada memahami isinya.

Meskipun dengan hanya membacanya saja sudah mendapatkan berbagai macam kebaikan. Tetapi bagi yang berusaha untuk memahami isinya, berlipat kebaikan akan kita dapatkan. Siapa saja akan merasa tercengang dan tersadar, ketika mereka mengetahui tentang isi kandungannya Al Qur’an, yang begitu lengkap dan jelas memuat seluruh panduan kehidupan. Ternyata segala persoalan kehidupan sangat mudah dicarikan jawaban didalamnya  Kedalaman ilmunya tidak akan selesai meski terus dipelajari dan kandungan hikmahnya tidak akan habis meskipun digali sepanjang masa.

Itu baru mengaji Al Qur’annya saja yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Belum lagi kalau dilanjutkan dengan mengaji Sunnah-sunnahnya Rasulullah saw. Karena mengaji Al Qur’an tidak akan bisa dilepaskan dari mengaji terhadap sunnah-sunnahnya. Karena semua panduan kehidupan yang ada dalam Al Qur’an telah secara nyata dicontohkan dan dipraktekkan oleh baginda Rasulillah saw selama hidupnya. Bahkan kehidupan beliau saw digambarkan sebagai Qur’an yang berjalan. Berarti akan lebih banyak lagi waktu yang harus kita siapkan untuk mengaji. Belum lagi berbagai ilmu yang dihasilkan oleh para ulama dan para cedekiawan Islam yang tersebar di seluruh penjuru negara-negara Islam.

Seandainya seluruh umat Islam mau meneruskan mengajinya sampai kepada pemahaman kandungan Al Qur’an serta sunnah-sunnah nabinya dengan benar. Dipastikan umat Islam akan mendapatkan pedoman kehidupan dan tata-cara beribadah secara benar. Mereka akan menjadi mengerti tentang berbagai prinsip yang harus dijalankan dalam kehidupan. Mereka akan mengerti apa saja yang harus dilakukan dan apa saja yang tidak boleh dikerjakan. Mereka juga akan memahami bagaimana cara-cara mencapai hidup bahagia dan berhubungan sesama manusia. Dengan mengaji umat juga akan terhindarkan dari berbagai bentuk penyimpangan ajaran Islam. Seandainya mau mengaji, maka segala carut marut kehidupan akan dengan mudah bisa dihindarkan. Wallohu A’lam.

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Ketika Cinta Tak Terhijab Indahnya Kebersamaan

1 Komentar Add your own

  • 1. abimanyu  |  Oktober 27, 2008 pukul 11:01 pm

    isi dari pada keterangan diatas kurang banyak akan tetapi sudah cukup mengerti, terimakasih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: