Ketika Cinta Tak Terhijab

Juni 6, 2008 at 6:35 am Tinggalkan komentar

Cenderung menuruti kata hati, demikian para muda-mudi saat ini yang tidak lagi memiliki rasa malu dan berusaha untuk menyembunyikan rasa cintanya diantara keduanya. Gelora cinta masa remaja yang berkobar dan cenderung buta itu mereka turutkan dengan alasan sekedar ikut-ikutan dan tidak mau ketinggalan zaman. Mereka cenderung tidak lagi memperhatikan etika serta acuh tak acuh terhadap segala estetika tatanan dan aturan kemasyarakatan. Cenderung egois dan menabrak rasa kepatutan serta tata krama yang seharusnya mereka hormati dan mereka junjung tinggi.

Itulah kisah ketika sepasang remaja putra dan putri sedang dilanda gelora cinta. Hati yang berbunga-bunga mereka lampiaskan sepuas-puasnya untuk mereguk seluruhnya rasa manisnya rasa cinta. Hampir semua langkah dan upaya akan dilakukannya untuk bisa mencuri dan merebut perhatian serta simpati lawan jenisnya. Angan-angannyapun melambung dipenuhi dengan bayangan-bayangan indah yang sesungguhnya sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Tetapi begitulah cinta lahiriyah apabila selalu diperturutkan gejolaknya. Ia akan terus-menerus menuntut dan meminta, sampai pada suatu salah satu atau keduanya menyesal kerena telah terjerumus dalam dosa yang dilakukannya.

Sesuatu yang  wajar terjadi apabila seorang laki-laki menyukai seorang wanita, begitu juga sebaliknya seorang wanita menyukai laki-laki. Itu adalah fitrah yang telah ada sejak manusia dilahirkan oleh ibunya. Setiap manusia telah dihiaskan dalam hatinya masing-masing kecintaan terhadap lawan jenisnya. Disamping dihiaskan juga kecintaan terhadap banyaknya harta, anak-anak dan tempat tinggal yang bagus serta binatang-binatang ternak mereka. Saling mencintai terhadap lawan jenis adalah karunia yang Allah swt berikan kepada manusia agar merasa tentram diantara keduanya serta bisa memperbanyak keturunan dengan perasaan suka sama suka.

Ketentraman dan kesenangan bersama adalah sesuatu hal yang sangat diidam-idamkan oleh laki-laki dan wanita yang sedang saling mencintai. Bahkan mungkin yang diharapkan mereka berdua pasti sesuatu yang lebih dari itu semua. Mereka pasti  menginginkan suasana damai dalam kebersamaan dan kekompakan dalam suasana penuh kasih dan sayang. Saling memberi dan saling menerima, saling membantu dan memperhatikan. Suka dan duka dilalui bersama-sama dalam naungan cinta yang seakan tidak akan punah. Satu hati dan satu jiwa seakan tidak lagi mengenal kata berpisah. Begitulah keadaanya ketika sudah dimabuk cinta. 

Tetapi seharusnya itu semua baru didapatkan oleh mereka setelah mereka mengikatkan hatinya secara sah dalam ikatan pernikahan. Mereka tidak berhak mendapatkan perlakuan layaknya seorang istri atau pelayanan layaknya seorang suami sebelum mereka resmi menikah. Baru setelah menikah mereka bisa berbuat apa saja sebagaimana layaknya sepasang suami istri. Mereka berhak mendapatkan apa saja dari keduanya setelah mereka secara sah meresmikan ikatan perkawinan. Dengan demikian mereka masing-masing akan secara sah mendapatkan semuanya dari keduanya.Mereka akan bebas menuntut dan meminta apa saja dari orang yang telah sah menjadi istri atau suaminya.

Seseorang tidak berhak memperolehnya dan mendapatkannya sebelum terjadinya ikatan pernikahan. Seseorang tidak diperkenankan menanam dan menumbuhkan sesuatu pada ladang yang bukan menjadi miliknya. Dan seseorang tidak boleh memetik buah hasil tanamannya sebelum ia mendapatkan izin yang sah dari pemiliknya. Akan terjadi sesuatu pelanggaran dalam jiwanya manakala ia memaksakan diri untuk mendapatkannya sesuatu yang tidak menjadi haknya. Akan terjadi perbuatan-perbuatan melawan aturan dan norma manakala ia tetap bersikeras untuk melakukannya. Akan terjadi sesuatu yang tidak disukai di kemudian hari, apabila ia tetap memberanikan diri mendapatkan secara dini.

Di media massa kita hampir setiap hari disuguhi berita-berita terjadinya pelecehan seksual, pemerkosaan, pembunuhan,  penyakit AIDS dan HIV, aborsi dan pembunuhan bayi-bayi yang tidak berdosa, bayi yang dibuang di tempat sampah dan lain-lainnya. Sebuah rangkaian peristiwa atau fakta yang sangat nyata di depan mata kita. Sebuah  akibat dari ulah dan  perbuatan menyimpang yang mengatasnamakan cinta yang kemudian berakhir dengan getir dan menyiksa perasaan. Akankah hari-hari yang akan datang peristiwa demi peristiwa itu masih akan terus berulang dan kita beritanya di media masa terus kita saksikan.

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Tidak Menuruti Amarah Seandainya Mau Mengaji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: