Tidak Menuruti Amarah

Juni 5, 2008 at 5:37 am Tinggalkan komentar

Tersebutlah sebuah kisah dalam sebuah peperangan antara pasukan Islam dengan pasukan musuhnya. Dalam pertempuran itu terjadilah duel satu lawan satu antar komandan pasukan. Terjadilah pertarungan seru dan sengit diantara keduanya karena keduanya sana-sama memiliki kekuatan dan pengalaman bertempur yang seimbang. Tetapi pada akhirnya komandan pasukan musuh itu terdesak dan tidak berdaya serta hampir menyerah.Dengan satu sabetan pedang saja pasti sudah bisa mengakhiri jalannya pertarungan dan sudah jelas siap pemenangnya. Tetapi itu tidak terjadi. Sang komandan pasukan Islam mengurungkan niatnya dan meninggalkannya.

Ketika sang komandan Islam itu sudah siap mengayunkan pedangnya dan bersiap-siap untuk menebas leher musuhnya. Sang komandan menghentikan langkahnya dan pergi meninggalkan musuhnya. Sang komandan tidak jadi membunuh musuhnya . Banyak yang terperangah dan kaget melihat kejadian yang begitu cepat yang berlangsung dihadapannya. Banyak yang merasa heran dan penasaran dengan kejadian yang dialami sang komandan barusan.  Maka ditanyakanlah peristiwa itu kepada yang bersangkutan. Kemudian sang komandanpun menceritakan bahwa dia mengurungkan untuk membunuhnya karena tidak ingin niatnya tercemari dengan niat yang lain.

Sang komandan menegaskan bahwa niatnya untuk maju ke medan pertempuran adalah karena benar-benar ingin mendapatkan ridlo dari Allah swt serta membela kebenaran. Ketika bertarung dengan musuhnya niat itupun tidak bergeser sedikitpun. Sampailah ketika musuhnya terdesak dan tidak berdaya serta dia bermaksud membunuhnya, secara tidakterduga musuhnya itu meludahi mukanya. Maka menjadi marahlah dia. Dia marah karena merasa telah direndahkan martabatnya, maka dia mengurungkan niat untuk membunuhnya. Dia takut tujuan membununya tidak lagi murni karena mencari ridlo Allah swt, tetapi justru karena amarah yang sedang terjadi pada dirinya.

Orang memang akan mudah marah ketika kehormatannya dilecehkan atau dirinya tidak dihargai. Orang juga bisa dengan mudah marah apabila keinginannya tidak terpenuhi atau dihalang-halangi. Pemicunya bisa dalam bentuk perbuatan atau bisa juga dalam bentuk perkataan. Pemicunya juga tidak hanya masalah-masalah besar saja, tetapi bisa juga dengan masalah-masalah kecil dan sederhana. Terjadinya kasus-kasus hancurnya rumah tangga, bentrokan antar mahasiswa sampai dengan terjadinya kasus pembunuhan bisa saja disebabkan masalah-masalah yang kecil sifatnya.

Seseorang kalau sudah dalam keadaan marah, biasanya sifat-sifat negatifnya akan bermunculan ke permukaan. Perasaan benci yang membabi-buta menguasai jiwanya. Cenderung tidak toleran dan tidak menghargai. Kalau sudah marah cenderung tidak lagi bisa membedakan mana-mana yang baik dan mana yang tidak baik. Cenderung mencela, merendahkan dan meremehkan bahkan menyakiti. Akal pikiranpun cenderung tidak terkontrol sehingga keluarlah kata-kata hujatan dan umpatan. Kebijaksaan dan kearifan sesaat menjadi hilang. Dan apa yang dilakukan cenderung diluar perhitungan. Kalau ini yang terjadi, maka kehancuranlah yang akan datang mejelang.

Makanya Rasulullah saw sendiri melarang umatnya untuk mudah marah. Sebagiamana yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, ketika beliau saw suatu waktu diminta seseorang untuk memberi wasiat kepadanya, beliau saw mengatakan janganlah engkau marah. Ketika seseorang itu meminta beliau untuk memberi wasiat yang kedua, beliau saw juga mengatakan Janganlah engkau marah. Begitu juga ketika beliau saw diminta memberi wasiatnya yang ketiga, beliau tetap berwasiat “Janganlah engkau marah”. Begitu pentingnya wasiat ini sehingga beliau saw menekankannya sampai tiga kali.

 Sebagian ulama mengatakan bahwa marah yang diperbolehkan adalah marah yang dilakukan karena Allah swt.  Marah yang bertujuan untuk kebaikan dan memberikan pelajaran. Yaitu marah yang tidak sampai melampaui batas, tidak menjatuhkan dan menyakiti , tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, akal sehat tetap terkontrol dan bukan merupakan pelampiasan emosi dan hawa nafsu. Selain untuk tujuan hal tersebut kita berupaya supaya tidak gampang marah.

 Keadaan yang tidak ideal dalam kehidupan mungkin bisa menjadi salah satu pemicu orang menjadi marah. Ketidakpuasan terhadap sesuatu yang dianggap kurang sesuai dengan keinginan juga bisa membuat orang menjadi  marah. Marah bisa dipicu oleh apa saja, dari hal-hal yang sifatnya besar sampai hal-hal yang sifatnya kecil atau sederhana. Dari mulai urusan-urusan Negara sampai dengan urusan-urusan rumah tangga. Semuanya memiliki potensi menimbulkan ketidakpuasan dan bahkan kemarahan.

Tetapi hanya dengan bermodalkan kemarahan saja tidak akan mungkin bisa menemukan penyelesaian.  Tanpa adanya usaha dan upaya untuk mencari jalan keluar dari persoalan segalanya tidak akan mudah diselesaikan. Kalau bisanya hanya menuntut tanpa memberi solusi, Itu artinya kita hanya memperhatikan pemenuhan kepentingan pribadi saja. Artinya kita hanya menuntut terpenuhinya hak-hak kita saja. Padahal kita juga mempunyai kewajiban selain hak yang dimiliki. Semestinya kita lebih mendahulukan kewajiban daripada menuntut hak. Semestinya kita memberi dulu baru kita menuntut untuk diberi.

Ada beberapa cara agar kita bisa secepatnya meredam kemarahan diantaranya adalah: Berdoa kepada Allah, banyak berdzikir kepada Allah, melatih diri untuk berhias dengan akhlak mulia seperti santun, tegar dan tenang, berusaha untuk menguasai diri apabila dibuat marah oleh orang lain, berlindung kepada Allah dari godaan syaitan terkutuk, merubah keadaannnya ketika sedang marah yaitu hendaklah duduk apabila sebelumnya berdiri dan merebahkan diri apabila sebelumnya duduk, tidak berbicara ketika sedang marah, berwudhu, mengingat-ingat keutamaan orang-orang yang menahan amarahnya dan hendaklah memberikan hak-hak badan secara benar seperti tidur dan istirahat dan lain-lainnya.

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Menghormati Perbedaan Ketika Cinta Tak Terhijab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: