Menghormati Perbedaan

Juni 2, 2008 at 6:43 am 1 komentar

Kebebasan berpendapat dan menganut keyakinan merupakan salah satu hak individu manusia yang seharusnya dihormati dan dilindungi. Setiap orang sesuai dengan keyakinannya diberi kebebasan untuk memilih mana saja pendapat-pendapat yang mereka anggap paling kuat dan benar. Setiap orang juga diberi kebebasan untuk mengikuti pendapat-pendapat tersebut menjadi bagian dari keyakinan hidupnya. Dan setiap orang diberi kebebasan untuk mengekspresikan pendapatnya dengan tetap menghormati dan menghargai hak orang lain.

Seseorang bisa saja mengklaim bahwa pendapat atau pemikiran yang dianutnya adalah yang paling benar. Tetapi orang lain juga mempunyai hak yang sama untuk mengklaim bahwa pendapatnyalah yang paling benar. Dan kedua-duanya pasti berusaha menyakinkan orang lain untuk mengakui dan mengikuti pendapatnya. Menarik pengikut dan simpatisan sebanyak-banyaknya mungkin menjadi salah satu yang dikerjakannya. Hal itu sah-sah saja asalkan dilakukan dengan tetap menghormati hak-hak orang lain dan juga mengikuti aturan yang sudah ada.

Kita diperbolehkan tidak setuju dengan pendapat atau pikiran orang lain. Begitu juga orang lain diperbolehkan untuk tidak setuju dengan pendapat yang kita yakini kebenarannya. Karena orang lain mempunyai alasan tersendiri mengapa mereka mengikuti pendapat tententu itu. Dan kita tentu juga mempunyai alasan yang jelas mengapa kita mengikuti pendapat  tertentu juga. Yang jelas kedua-duanya mempunyai dasar yang kuat mengapa mereka mengikutinya. Bagaimana untuk mempertemukan keduanya agar tetap bisa bekerja sama. Yang penting adalah sikap saling tolenransi dan saling menghormati diantara keduanya. Prinsip boleh berbeda tetapi persahabatan tidak boleh ditinggalkan.

Sejarah dunia ini tidak pernah sepi dari adanya perbedaan pendapat. Dan keadaan ini tidak pernah diingkari kehadirannya oleh siapa saja. Bahkan dengan adanya perbedaan pendapat ini menjadi semakin kayalah dunia pemikiran dan ilmu pengetahuan. Sudah menjadi sesuatu yang biasa di kalangan para cendikiawan dalam hal-hal tertentu mereka harus berbeda pendapat. Tetapi perbedaan pendapat yang terjadi diantara mereka tidak sampai masuk kedalam hati, yang kemungkinan bisa menyulut emosi dan kebencian diantara mereka. Perbedaan yang terjadi diantara mereka sebatas perbedaan pada tataran pemikiran bukan perbedaan yang menyebabkan hati mereka pecah.

Perbedaan pendapat semestinya tidak perlu sampai mengarah kepada kebencian dan permusuhan. Apalagi kemudian memakai segala cara untuk menjatuhkan pengikut yang lain. Stempel atau label fundamentalis atau liberalis  atau yang lainnya, yang berkonotasi negative, adalah contoh adanya ketidakharmonisan hubungan diantara para pengikut berbagai aliran. Stempel negatif itu pasti berawal dari adanya saling kecurigaan dan saling tidak percaya diantara masing-masing aliran. Masing-masing aliran mungkin merasa terganggu eksistensinya dengan keberadaan aliran kelompok yang lainnya. Padahal itu hanya semacam kekhawatiran yang tidak akan terjadi kalau keduanya saling membuka hati dan saling bekerjasama.

Semestinya masing-masing orang berpikiran positif (positive thinking) dan tidak cepat berburuk sangka (negative thinking) kepada orang lain. Karena pada kenyataannya setiap orang pasti masih mempunyai sisi-sisi yang baik  dan yang tidak baik  Masih ada harapan bagi orang yang selama ini kita sangka atau curigai orang tidak baik untuk berubah menjadi orang baik. Masih ada peluang bagi orang yang divonis sesat untuk berubah menjadi pengikut yang tidak sesat. Semua bergantung kepada hidayah Allah swt dan juga cara atau methode yang kita gunakan untuk meyakinkan mereka. Sudah waktunya kita semua menggunakan cara-cara yang cerdas dan berakhlaq untuk mendekatkan segala perbedaan pendapat yang terjadi diantara kita.

Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam kita mengenal adanya perbedaan pendapat dalam fiqih diantara para ulama-ulama Islam. Dalam berpendapat, Setiap ulama pasti telah menyandarkan pendapatnya kepada sumber yang diyakininya paling benar dan kuat. Tetapi toh masih juga terjadi ikhtilaf diantara mereka. Tetapi meskipun berbeda pendapat, hal itu tidak sampai mengurangi rasa saling menghormati dan menghargai diantara mereka. Mereka tetap saling menghargai pendapat masing-masing tanpa saling merendahkan dan menjatuhkan pendapat yang lainnya. Perbedaan pendapat tidak menyebabkan mereka saling menyerang dan menyakiti.

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Mencari Pemimpin Outentik Tidak Menuruti Amarah

1 Komentar Add your own

  • 1. Syaiful Arifin  |  Juni 5, 2008 pukul 3:51 am

    okelah. mestinya begitu. kenyataannya masih begini. sekarang ada yang sering ngomong, “beda pendapat nggak papa, yang gwat beda PENDAPATAN”

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: