Mencari Pemimpin Outentik

Mei 31, 2008 at 7:47 am Tinggalkan komentar

Pemimpin yang kita cari adalah pemimpin yang tumbuh bukan karena kehendak jiwanya. Pemimpin yang kita cari adalah pemimpin telah terbukti bisa memberikan jawaban atas tuntutan-tuntutan yang ada pada zamannya. Pemimpin yang dicari adalah pemimpin yang besar karena perjuangan dan pengabdian serta kerja kerasnya. Pemimpin yang dicari  adalah seorang pemimpin yang tidak pernah menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan. Kita membutuhkan pemimpin yang asli bisa memimpin bukan pemimpin gadungan yang dibuat-buat dan direkayasa.

Kita membutuhkan pemimpin yang telah memberi bukti bukan yang hanya bisa memberi janji. Kita butuh pemimpin yang bisa mengatasi masalah, bukan pemimpin yang bermasalah dan menjadi sumber masalah. Kita butuh pemimpin yang outentik, bukan pemimpin yang hanya mengandalkan tampang dan menjual popularitas. Kita butuh pemimpin sejati, bukan pemimpin yang hanya mengandalkan keterkenalan dan menjadi bintang iklan. Kita butuh pemimpin yang siap berjuang dan berkorban dengan apa saja yang dimilikinya.

Sejarah dunia telah banyak dipenuhi pemimpin-pemimpin besar yang muncul pada saat dibutuhkan zamannya. Ada George Washington yang muncul pada saat diperlukan oleh sejarah kemerdekaan rakyat Amerika. Ada Ir. Sukarno dan Muhammad Hatta yang datang disaat Indonesia membutuhkan untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Dan sederetan pemimpin-pemimpin besar dunia lainnya. Nama-nama besar mereka selalu dikenang sejarah dan melegenda karena autentik pengabdian dan perjuangannya. Mereka dikenang dan sangat dicintai karena perjuangan dan jasa-jasanya.

Kita harus  menemukan sosok pemimpin yang outentik. Yaitu pemimpin  yang bisa membimbing kita untuk keluar dari setiap krisis yang melanda. Seorang pemimpin yang bisa membawa kita menemukan cara yang benar dalam mengelola kehidupan. Seorang pemimpin yang sanggup memberi contoh praktis bagaimana jalan menemukan kebahagiaan. Seorang pemimpin yang menyayangi rakyatnya dan tidak membuat mereka menderita. Alangkah bangganya kita pada pemimpin yang seluruh hidupnya digunakan untuk melayani rakyatnya. Adakah pemimpin ideal.

Pemimpin ideal itu adalah Muhammad Rasulullah saw. Sedari kecil beliau telah dikenal tentang kejujurannya. Hidup menderita pernah dirasakannya. Sebagai anak yang sedari kecil ditinggal  orang tuanya, beliau tidak pernah merepotkan siapa saja. Beliau berusaha hidup mandiri dengan sesekali mengembala ternak dan sesekali berdagang dengan membawa barang-barang dalam rombongan kafilah. Suka membantu dan meringankan beban sesamanya menjadi sifat yang melekat dalam pribadinya. Tidak pernah menyakiti dan tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Sehingga tidak ada seorangpun yang meragukan kebaikan budi serta akhlaqnya.

Beliau bergaul dan hidup bersama-sama masyarakat jahiliyah Makkah tanpa harus ikut larut dalam perbuatan-perbuatan tercela. Berjudi, minum khamer, main perempuan dan berzina, menyembah berhala dan lain sebagainya. Beliau juga bersama-sama masyarakat Makkah bergotong-royong dan saling membantu dalam membangun Ka’bah. Bahkan beliau dipilih dan dipercaya oleh seluruh suku dan kabilah untuk meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Sebuah kehormatan paling tinggi yang hanya diberikan kepada orang yang telah terbukti kebaikannya.

Setelah diangkat menjadi Nabi, beliau saw diberi tugas oleh Tuhannya untuk menyampaikan Risalah kebenaran. Sebuah Risalah yang banyak bertentangan dengan tradisi dan kebiasaan masyarakatnya saat itu. Sebuah Risalah yang bisa membawa manusia keluar dari gelapnya jahiliyah menuju kepada terangnya cahaya agama. Sebuah tugas berat yang harus dijalankan. Maka dimulailah masa-masa perjuangan yang panjang itu hari demi hari tanpa mengenal kata berhenti. Diajaklah satu persatu orang-orang yang terdekat dengannya untuk mengikuti Risalahnya. Tetapi ternyata tidak mudah dan tidak banyak orang yang mau mengikutinya di masa-masa awal perjuangannya. Sebaliknya mulailah berdatangan ujian demi ujian yang setiap saat menghadang setiap langkahnya. Tetapi semuanya dihadapinya dengan tabah.

Sampailah suatu saat kemenangan itu tiba. Kota Makkah berhasil direbutnya kembali dari musuh-musuhnya. Ketika puluhan ribu sahabatnya telah berdiri di belakangnya, beliau menundukkan kepala dan meneteskan air mata sambil memuji Kebesaran dan Keagungan Tuhannya. Tidak ada pertumpahan darah, tidak ada pembalasan dendam bagi yang pernah disakitinya, tidak ada pesta pora kemenangan. Semua berada dalam keamanan dan kasih sayang.

Setelah melaksanakan ibadah haji wada’, kembalilah beliau saw ke Madinah tempat tinggal beliau yang tercinta. Tidak ada istana disana,  karena beliau saw tidak pernah membangun istana, sebagaimana pemimpin dan raja-raja lainnya. Yang ada hanyalah sebuah bilik sederhana yang ada di sebelah kiri masjidnya. Pemimpin yang agung dan mulia ini selalu hidup dalam kebersahajaan dan kesederhanaan. Semua sahabatnya sangat mencintainya. Meskipun beliau pemimpin besar dunia dan akhirat, tidak ada jarak antara beliau dengan pengikutnya. Bahkan semua pengikutnya telah menjadi sahabat yang sejati yang saling mencintai. Ooh.. Alangkah indahnya memiliki pemimpin seperti ini.

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Ujian Hafalan Al Qur’an SDIT Al Uswah Menghormati Perbedaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: