Hati Yang Khusyu’

Mei 29, 2008 at 6:53 am Tinggalkan komentar

Segala puji bagi Allah swt yang menguasai hati setiap insan. Mencapai ke-khusyu’-an dalam sholat, sulitkah? Masing-masing orang jawabannya pasti tidak sama. Ada mengatakan sulit dan ada juga yang mengatakan tidak sulit. Kedua-duanya pasti mempunyai alasan sendiri-sendiri. Karena kedua-duanya sangat mungkin pernah mengalaminya. Kenapa sulit? Karena pada kenyataannya tidak semua orang yang melaksanakan sholat dengan mudah bisa meraih kekhusyu’an. Kenapa tidak sulit? Karena setiap orang semestinya bisa melakukannya dengan mudah.

Bagi yang tidak merasa kesulitan, tentu mereka telah mengetahui cara-caranya bagaimana meraihnya. Tetapi bagi yang masih merasa masih menemukan kesulitan, pasti mereka mempunyai pengalaman-pengalaman tersendiri dalam sholatnya. Memang pada kenyataannya, kadang suatu saat penyebabnya adalah sesuatu yang sepele sifatnya. Dimana ketika sebelum mendirikan sholat, sesuatu itu tidak pernah terpikirkan sama sekali. Tetapi ketika kita sudah memulai mendirikannya, sesuatu itu berhasil menyelinap dalam hati dan fikiran serta merusak konsentrasi sholat kita. Kalau kita tidak segera sadar dan ingat kembali sholat kita, maka sepanjang sholat, hati kita bakal lalai atau lupa bahwa kita sedang menghadap Allah swt.

Padahal semestinya kita akan merasa sangat merugi jika sholat kita tidak mencapai derajat kekhusyu’an. Kita akan merugi karena kita telah kehilangan saat-saat yang paling spesial ketika kita berhadapan langsung dengan Allah swt. Kita telah gagal menghadapkan hati dan fikiran kita kepada-Nya, padahal Dia sedang menatap wajah serta hati kita. Kita telah melewatkan dan membiarkan hati kita lalai disaat Sang Khaliq sedang menunggu permohonan-permohonan kita. Kesempatan yang sangat berharga itu terlewatkan begitu saja karena hati kita tidak bersungguh-sungguh menghadap-Nya. Hati dan pikiran kita lebih sibuk untuk hal-hal lain  yang tidak terlalu penting.

Tidak hanya itu, kadang hati kita juga lupa dan lalai dengan apa yang kita baca dan ucapkan. Kalimat-kalimat yang sudah terucap dengan lisan sementara hati kita tidak ikut merenungkan. Kata-kata fasih yang mengalir dengan lancarnya dari mulut kita sementara maknanya tidak berhasil menembus hati kita. Tidak hanya yang ada pada lisan, hal itu merembet juga kepada gerakan. Setiap gerakan yang dilakukan kadang tidak sampai berhasil menggoreskan kesan. Padahal setiap gerakan pada kita sangat kaya akan makna. Gerakan kita saat mengangkat tangan dan mengucap takbir “Allah Maha Besar”. Gerakan kita saat kepala kita yang berharga ini kita letakkan diatas tanah sambil melafalkan puji-pujian keagungan dan kesucian nama-Nya.

Hati yang lalai telah merugikan kita. Padahal ketika kita sedang menegakkan sholat adalah saat-saat paling mustajabah. Saat dimana tidak ada jarak lagi antara kita dengan Allah swt. Setiap gerak-gerik kita diikuti-Nya. Seluruh ucapan kita didengarkan-Nya. Semua permohonan kita dijawab-Nya. Dan seluruh yang melintas dalam setiap detak hati kita diperhatikan-Nya. Sholat kita semestinya menjadi mi’raj kita kehadapan-Nya. Semua urusan dunia semestinya ditinggal dan dipalingkannya. Semua urusan selain untuk urusan menghadap-Nya semestinya tidak ada harganya. Semua yang ada di dunia ini semestinya menjadi kecil nilainya ketika kita sudah berada dihadapan-Nya.

Setiap kata atau kalimat yang keluar dari lisan semestinya lebih bernilai agung bila kita ucapkan dengan penuh kesadaran. Untaian kalimat-kalimat thoyyibah, untaian surat dan aya-ayat Al Qur’an serta rangkaian doa-doa jauh lebih berharga daripada  sibuk memikirkan yang lainnya. Memaknai kalimat-kalimat Thoyyibah akan menambah ketundukkan hati dan menguatkan kesadaran, betapa lemah dan tidak berdayanya manusia di hadapan-Nya. Merenungkan untaian-untaian surat dan ayat-ayat Al Qur’an akan semakin meyakinkan kesadaran, betapa butuhnya manusia kepada Petunjuk dan Bimbingan-Nya. Rangkaian doa-doa yang terbaca  menunjukkan betapa lemahnya manusia apabila tanpa pemberian dan pertolongan-Nya.

Tidak ada saat yang paling berharga bagi manusia kecuali pada saat manusia sedang menghadap Tuhannya. Saat-saat istimewa itu teramat sayang dilewatkan tanpa  hasil yang berarti sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya. Sangat banyak persoalan yang belum berhasil kita selesaikan. Maka sudah seharusnya sholat kita bisa menjadi jalan menuju pintu penyelesaian. Masih banyak keinginan kita yang belum kesampaian. Maka sudah seharusnya sholat kita menjadi jembatan untuk mengantarkan kita untuk sampai ke tempat tujuan. Menggapai kepuasan dan kebahagian dunia yang tak kunjung tiba. Masih ada kebahagiaan syurga yang dijanjikan bagi yang istiqomah menegakkan sholatnya.

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Rindu Tanah Suci-7: Nikmatnya Persaudaraan Ujian Hafalan Al Qur’an SDIT Al Uswah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: