Rindu Tanah Suci-7: Nikmatnya Persaudaraan

Mei 27, 2008 at 1:59 am 1 komentar

Setelah pamitan dengan orang tua dan kerabat di kampung halaman  selesai, maka kami melanjutkan pamitan dan silaturrahmi di Surabaya tempat dimana kami tinggal saat ini.  Rencana kunjungan kami selanjutnya adalah kepada para guru dan para ustadz yang telah membimbing dan mengarahkan kami selama ini. Disamping juga kami merencanakan berkunjung kepada para tetangga dan tokoh masyarakat kampung dimana kami tinggal selama ini.

Kami akan mengunjungi para guru dan ustadz yang telah berjasa dalam membentuk pribadi kami salama ini. Mereka adalah para ustadz yang kami anggap sebagai penjaga moral kami  yang tidak pernah berhenti dan lelah berda’wah untuk mengajak manusia ke jalan yang diridlo’i Allah swt. Beliau-beliau sangat kami hormati karena keteqwaannya dan kedalaman ilmunya. Oleh karena itu tidak pantas kalau kami tidak meminta doa restu dan memohon do’a dari mereka.

Kami harus menjadwal kunjungan ke rumah mereka dengan cara meminta izin kapan mereka bisa menerima kami. Di tengah kesibukan beliau yang cukup padat, kami harus meminta izin kapan beliau bisa ditemui dirumah. Kami harus mencocokkan waktu-waktu beliau ada dirumah, sehingga tidak sampai menggangu aktifitas beliau diluar rumah.

Ustadz yang pertama kami kunjungi adalah ustadz  paling berpengaruh dan yang paling sepuh menurut anggapan kami. Hubungan kami dengan beliau sangat dekat. Kalau digambarkan hubungan kami dengan beliau seperti hubungan antara orang tua dengan anaknya. Saling menyayangi dan saling mengasihi. Tidak terhitung banyaknya kebaikan yang telah beliau berikan kepada kami.  Banyak nasehat-nasehat berharga dan menyentuh hati yang beliau sampaikan kepada kami. Tidak jarang beliau mendatangi rumah kami untuk mengunjungi dan memberi nasehat kepada kami. Beliau paling rajin dalam hal silaturrahmi kepada siapa saja yang dikenalnya.

 Saya mengenal beliau di awal tahun sembilanpuluhan ketika saya masih belajar di Ma’had dan beliau sebagai dosennya. Beliau dikenal sebagai ustadz yang sangat ketat dalam urusan menjaga hukum-hukum agama. Beliau seorang master jurusan hadits  yang banyak hafalan hadits-nya. Sewaktu belajar di Saudi Arabiyah, beliau dikenal sebagai mahasiswa yang memiliki hubungan dekat dengan seorang ulama ahli hadits yang banyak dikenal di kalangan ulama saat itu.

Beliau dan keluarga tinggal di sebuah perumahan di kawasan Sidoajo. Sebelum tinggal di perumahan ini, beliau pernah tinggal di sebuah perumahan yang bertetangga dengan kampung kami. Kami juga sudah pernah  saling mengunjungi rumah di kampung tempat asal masing-masing. Saya beberapa kali ke desa asal  beliau di Ponorogo dan beliau pun sudah pernah mengunjungi rumah saya di Lamongan. Begitu juga sewaktu di Surabaya, kami sering saling mengunjungi antara yang dan yang lain.

Sesuai dengan  jadwal yang telah disepakati, kami sampai juga di rumah beliau dan beliau menyambut kedatangan kami dengan ramah. Setelah berbasa-basi kesana kemari, kamipun meminta nasehat dan berkosultasi seputar ibadah haji. Alhamdulillah kami mendapatkan berbagai nasehat dan bimbingan seputar ibadah haji. Beliau secara praktis dan detil menerangkan hal-hal penting seputar haji. Pengalaman beliau dan lamanya beliau tinggal di Arab Saudi membuat keterangan-keterangan yang beliau sampaikan sangat aplikatif untuk diterapkan. Tapi beliau mengatakan bahwa ilmu tentang manasik haji akan sulit dipahami kalau belum dipraktekkan sendiri di tanah suci.

Saya juga sangat bersyukur karena kebetulan  beliau juga rencananya akan berangkat haji pada tahun yang sama dengan keberangkatan kami. Beliau akan berangkat bersama Ibu dan istrinya. Sekalian kami meminta kesediaan beliau untuk senantisa membimbing kami selama di tanah suci. Meskipun jadwal keberangkatan kami dan beliau tidak bareng alias beda Kloter, tidak mengapa karena kami bisa berkomunikasi melalui telepon.  Setelah hampir satu jam kami berada di rumahnya akhirnya kami meminta pamit.

Selanjutnya pada hari berikutnya  kami megunjungi dan bersilaturrahmi beberapa ustadz lainnya di Surabaya. Setiap kami mengunjungi rumah para asatidz ini kami selalu meminta nasehat dan do’anya. Mereka rata-rata dengan senang hati mendo’akan kami agar menjadi haji yang mabrur. Mereka juga bergembira dengan rencana keberangkatan kami. Mereka juga meminta kepada kami apabila sudah berada di tanah suci untuk tidak lupa mendo’akan mereka sekeluarga.

Legah rasanya selesai mengunjungi dan bisa bersilaturrahmi dengan para guru atau ustadz beserta keluarganya. Ada semacam dorongan moral dan spiritual untuk bersungguh-sungguh dalam menata niat dan menjalankan manasik ibadah haji selama nanti di tanah suci. Ada semacam amanah suci yang harus ditunaikan dengan serius sehingga seluruh rukun dan kewajiban bisa dilaksanakan di tanah suci.

Karena waktu sangat terbatas, kami tidak bisa mengunjungi semua ustadz dan para tokoh yang ada di Surabaya. Tetapi kami berusaha saksimal mungkin untuk tetap  bisa berkomunikasi dan memohon do’anya terkait dengan rencana keberangkatan kami.  Kami berusaha menelpon mereka, tetapi kalau tidak bisa dan sulit dilakukan, kami akan sampaikan melalui layanan pesan singkat (SMS). Sambil hal tersebut kami lakukan, kami memulai juga untuk bersilaturahmi dengan para tetangga dan para tokoh masyarakat di Kampung tempat saya tinggal.

Ada beberapa kebiasaan di kampung yang tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. sebuah kebiasaan yang menunjukkan kuatnya ikatan silaturrahmi diantara penduduknya. Kebiasaan itu diantaranya menjenguk orang yang mau pergi haji. Mereka kadang datang berbondong-bondong atau datang sendiri-sendiri.  Ketika berkunjung terutama yang perempuan  biasanya membawa “bingkisan” oleh-oleh untuk diberikan kepada yang dikunjungi.  Bagi yang datang secara berkelompok mereka akan “urunan” dan uang yang terkumpul akan dibelikan bingkisan  dan mereka akan nyambangi bareng-bareng.

Suatu sore itu kami benar-benar tidak menduga bahwa rumah kami akan “diserbu” sekian banyak ibu-ibu. Kami benar-benar dibuat “kaget” ketika ibu-ibu secara bergelombang mendatangi rumah kami. Ada sekitar 40 ibu-ibu yang datang waktu itu. Sampai-sampai rumah kami tidak mampu menampung semua yang datang. Sebagian ada yang bisa masuk keruang tamu dan sebagian besarnya ada di teras serta sebagian ada tidak kebagian tempat. Mendadak rumah kami menjadi ramai oleh kedatangan ibu-ibu para tetangga sekitar. Kamipun meminta do’a mereka semua agar perjalanan ibadah kami lancar dan kami menjadi haji mabrur.

Waktu-waktu kami berada di Surabaya semakin hari semakin terbatas menjelang keberangkatan kami tanggal 6 Januari 2005. oleh karenanya kami berusaha memaksimalkan penggunaannya untuk kepentingan keberangkatan kami. Pamitan kepada para tetangga dan tokoh masyasrakat Penjaringan menjadi prioritas pertama yang harus saya lakukan. Yang kedua adalah menyelesaikan urusan-urusan yang berkaitan dengan pekerjaan. Kemudian yang terakhir adalah menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan sekolah anak-anak.

Disaat-saat keberangkatan kami memenuhi panggilan suci tinggal beberapa hari lagi, sangat membahagiakan bisa berpamitan dengan para jama’ah, para tetangga dan para tokoh masyarakat di kampung. Ada banyak kenangan yang telah digoreskan didalam sanubari terdalam selama menjalani hidup bersama mereka semua. Sepuluh tahun tinggal di kampung yang penuh dengan dinamika keagamaan dan kekeluargaan. Segala kenangan pahit dan manis masih terlintas segar di benak dan pikiran. Masih teringat saat-saat bagaimana kami memulai lembar demi lembar sejarah kehidupan di kampung ini.

Saat pertama kami menentukan pilihan untuk mengontrak rumah  sempat muncul keraguan dalam hati. Keraguan yang berasal dari perasaan dan pertanyaan apakah kami bisa hidup di sebuah komunitas kampung dengan segala kebiasaan dan tradisinya yang khas. Tetapi keraguan itu hilang karena latar belakang kami adalah dari pedesaan yang secara kultur sangat mirip dengan kehidupan kampung. Hari-hari kami lalui di rumah yang masih bagus dan baru dibangun. Kamipun mulai berinteraksi dengan masyarakat dan mulai mengenal kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat.Kamipun mulai saling kenal dengan para tetangga dan  masyarakat lainnya termasuk tokoh-tokohnya.

Pada awal-awal kami tinggal di rumah yang baru, kami kadang merasa kesulitan untuk menemukan sholat berjama’ah di mushola dekat rumah terutama sholat subuh. Ada  sebuah mushola yang  hanya berjarak 75 mater dari rumah kami. Mushola yang diberi nama al Firdaus itu sering kosong saat waktu masuk sholat jama’ah terutama sholat subuh.  Begitu juga waktu-waktu yang lain, banyak juga yang kadang bolong. Setelah saya amati lebih jauh mengapa sampai terjadi seperti itu.  Penyebabnya ternyata adalah tidak adanya muadzin dan imam yang tetap saat itu. Kalaupun ada muadzin atau imam yang paling banyak terjadi pada waktu sholat maghrib atau sholat isya’. Oleh karenanya dengan segala keterbatasan yang saya miliki, saya memberanikan diri untuk menjadi muadzin dan juga menjadi imam.

Sebagai warga baru, pada awalnya saya agak merasa kesulitan memposisikan diri sebagai muadzin sekaligus imam. Karena ini juga merupakan pengalaman baru yang saya alami. Tetapi karena demi untuk kebaikan dan perubahan, kami menjalaninya dengan senang hati.  Rutinitas menjadi muadzin dan imam di mushalla yang kami jalani ternyata membawa dampak sosial. Yang pertama, dari hari ke hari jama’ah musholla semakin bertamabah banyak. Yang kedua, saya sering diminta untuk memimpin acara-acara yang diadakan oleh warga semisal kenduren dan doa bersama. Hubungan kami dengan jama’ah jama’ah semakin hari semakin akrab dan kuat.

Oleh karenanya ketika kami hendak berpamitan pergi haji dengan mereka, ada sesuatu yang berat dalam hati dan pikiran ini. Perasaan yang berat untuk meninggalkan dan berpisah dengan mereka menjadi sesuatu yang sulit dihilangkan. Kebersamaan sekian lama sangat susah untuk mengakhirinya dengan perpisahan. Antara saya dan jama’ah telah terjalin hubungan cinta dan kasih sayang yang sulit untuk dipisahkan. Tetapi  inikan perpisahan sementara, kata saya dalam hati, nanti sepulang haji insyaAllah bisa bertemu kembali..

Ada satu lagi  agenda yang harus dituntaskan di Surabaya. Yaitu membuat undangan Tasyakuran Haji sekaligus menyebarkannya.  Acara Tasyakuran yang rencananya akan diadakan di rumah Gresik pada hari Sabtu tanggal 1 Januari 2005 rakan mengundang banyak orang termasuk yang ada di Surabaya. Bentuk Undangan kami buat sederhana dan kami desain sendiri. Undangan yang sudah diketik dan dirancang itu kemudian kami perbanyak dengan memfoto copy memakai kertas berwarna hijau muda. Semuanya kami kerjakan sendiri dan setumpuk Undangan sudah siap diedarkan.

Di Surabaya kami mengundang sekitar seratusan orang yang terdiri dari para tetangga, para ustadz dan sahabat dekat. Ada sekitar limapuluhan tetangga dan tokoh masyarakat yang kami undang  termasuk para kerabat Lamongan yang tinggal di Surabaya.  Selebihnya adalah para ustadz, teman-teman kantor, teman-teman aktifis organisasi dan yayasan. Undangan juga kami sebar di Lamongan sekitar limapuluh undangan. Sedangkan di Gresik sendiri, kami menyebar sekitar duaratus undangan.

Tugas terakhir sebelum pulang ke Gresik  adalah memintakan izin sekaligus titip anak-anak kami yang sekolah di TK dan SD kepada para gurunya sekalian kami pamitan. Karena selama kami pergi ketanah suci sekolah anak-anak mungkin terganggu. Kemungkinan anak-anak tidak bisa masuk sekolah menjelang keberangkatan dan saat kami pulang dari tanah suci. Karena mereka semua pasti berada dirumah Gresik. Alhamdulillah semua guru-guru baik yang di TK maupun SD sangat memahami keadaan kami dan berjanji akan memperhatikan anak-anak kami selama kami pergi.

Rasanya sudah tuntas semua tanggungan yang ada di Surabaya. Selanjutnya kami harus berkemas-kemas untuk meninggalkan kota Surabaya tercinta. Tetapi sebelumnya kami harus ketemu dulu dengan kakak kandung saya  untuk membicarakan segala hal yang ada di rumah Surabaya baik sewaktu kami berangkat, selama kami di tanah suci maupun nanti kami waktu pulang. Rumah kakak kandung saya ini kebetulan bertentangga dekat dengan rumah kami. Hanya sekitar 100 meter dari rumah kami. Jadi kami sering riwa-riwi jalan kaki ke rumah beliau kalau ada keperluan.

Sebelum kami berangkat, kami bermaksud menyerahkan segala urusan yang di Surabaya kepada beliau. Mulai dari membayar rekening listrik dan telpon sampai dengan urusan sekolah anak-anak. Termasuk juga urusan boyongan kami kerumah yang baru kami beli. Menurut rencana kami akan boyongan dan menempati rumah baru kami sekitar akhir Januari 2005. Jadi kami saat itu masih di tanah suci. Oleh karenanya hal-hal terkait dengan rumah baru tersebut kami serahkan kepada beliau. Alhamdulillah beliau sanggup dan berjanji akan mengurusnya semuanya.

            Maka bersiaplah kami pulang ke desa di Gresik. Karena disana kedatangan kami sudah sangat ditunggu-tunggu. Karena beberapa kerabat sudah ada yang datang ke rumah untuk berziarah. Istri dan anak-anak saya pulang dengan menumpang taksi., sedangkan saya sendiri naik sepeda motor. Saya membawa sepeda motor karena kendaraan ini saya perlukan sewaktu di desa nanti. Maka kemudian sampailah kami di rumah desa  dengan sambutan dari keluarga yang cukup meriah.

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Sederhana Saja Hati Yang Khusyu’

1 Komentar Add your own

  • 1. Anwar Ashari  |  April 2, 2009 pukul 3:09 am

    Saya menilai anda telah menjadi seorang yang menyebar ilmu tentang islam secara internasional. semoga tuhan memberi balasan kebaikan yang setimpal

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: