Nasionaliskah Kita

Mei 21, 2008 at 3:16 am Tinggalkan komentar

Hari kebangkitan nasional tahun ini diperingati agak berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Disamping menandai usianya yang sudah satu abad, peringatan tahun ini agak berbeda, karena hampir berbarengan dengan peringatan sepuluh tahun gerakan reformasi yang dilakukan mahasiswa. Peringatan tahun ini juga agak lain, karena pada waktu yang hampir bersamaan, hari-hari sebelumnya diwarnai aksi penentangan dari mahasiswa  terhadap rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Mulai panasnya aroma persaingan politik menjelang pemilu 2009 juga menjadi warna hari kebangkitan yang keseratus kali ini.

Banyak kalangan mulai mengkhawatirkan adanya gejala semakin berkurangnya rasa nasionalisme diantara anak bangsa. Beberapa peristiwa pertikaian dan kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini, menunjukkan adanya gejala menurunnya rasa kesetiakawanan diantara sesama anak bangsa. Bentrokan antar mahasiswa, tawuran antar pelajar, tawuran antar supporter sepak bola, bentrokan antar kampung masih saja dan sering menghiasi pemberitaan di berbagai media massa. Orang-orang kemudian banyak yang bertanya, kenapa kita sekarang sangat mudah tersulut emosi dan mudah bermusuhan dengan antar sesama. Apakah rasa kebersamaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas dan simbol bangsa ini telah tercabut dan hilang dari budaya masyarakat kita.

Bagaimana juga dengan rasa nasionalisme kita. Masih adakah rasa itu didalam dada kita semua. Apakah rasa nasionlisme kita mulai turun, gara-gara kita tidak lagi menghadapi kaum penjajah yang ingin mencaplok wilayah kedaulatan kita. Tentu saja tidak demikian adanya. Nasionalisme kita dibutuhkan kapan saja bahkan sampai anak cucu kita. Karena kemerdekaan dan kebebasan yang kita nikmati sekarang adalah buah dari nasionalisme para pejuang dan pahlawan pendahulu kita. Keadaan bangsa yang kita nikmati hari ini adalah buah dari pengorbanan dari para pejuang kita. Kita semua sangat hormat dan berterima kasih kepada mereka yang telah mengorbankan harta dan nyawa untuk kesejahteraan hidup kita saat ini.

Para pahlawan itu pasti akan bangga andaikata melihat bangsa Indonesia yang diperjuangkannya telah menjadi maju seperti sekarang ini. Mereka pasti akan mengatakan bahwa mereka tidak sia-sia telah mengorbankan segalanya untuk merebut kemerdekaan dari para penjajah. Mereka akan selalu tersenyum ketika melihat bangsa ini hari demi hari bisa bangkit meraih setiap kemajuan. Mereka juga akan semakin merasa bangga bila Negara yang telah mereka perjuangkan telah menjadi Negara yang adil, makmur, aman dan sejahtera. Ya. Para pahlawan kita telah bangga dengan apa yang mereka korbankan untuk negaranya.

Nasionalisme memang sangat identik dengan pengorbanan. Karena rasa nasionalisme tidak hanya sebuah slogan atau ucapan belaka. Nasionalisme bukan juga sekedar ekspresi kalimat-kalimat indah yang disuarakan dengan lantang didepan ribuan orang. Ia juga bukan sekedar sebuah nyayian merdu yang dilantunkan oleh para biduan yang menawan setiap orang yang menyaksikannya. Nasionalisme juga bukan sekedar simbol-simbol yang ditonjolkan hanya untuk meraih simpati orang lain demi mendapatkan jabatan dan kekuasaan.

Para pendahulu kita telah memberikan keteladanan apa yang dimaksud dengan rasa nasionalisme sesungguhnya. Para pahlawan kita juga telah memberikan contoh bagaimana menjadi seorang nasionalis sejati. Dan pengorbanan itulah kata kuncinya. Mereka yang telah kita sebut sebagai para nasionalis itu semuanya adalah para pejuang. Dan mereka para pejuang itu telah Ikhlas mengorbankan segala yang dimilikinya tanpa mengharapkan imbalan apapun dari manusia. Mereka tidak pernah menginginkan kedudukan dan mengharapkan balasan bukan pula jabatan. Mereka hanya menginginkan Indonesia terbebas dari penjajahan Negara asing dan menjadi bangsa yang bermartabat dan terhormat diantara bangsa-bangsa lain di dunia.

Lalu Apakah kita telah mengklaim diri kita sebagai seorang nasionalis? Kalau kita belum seperti mereka, kita pantas malu. Kalau kita belum berjuang seperti mereka, kita pantas malu. Kalau kita belum berkorban seperti mereka berarti rasa nasionalisme kita belum seberapa dibandingkan mereka. Apalagi kalau kita saat ini hanya mementingkan dan memikirkan diri sendiri, wah.. jauhlah kita dari nasionalisme itu. Kalau kita kesukaannya hanya bersenang-senang dengan kehidupan glamour kita, sementara disana banyak saudara kita yang menahan lapar karena kemiskinannya, malu-lah kalau kita kalau mengaku sebagai seorang nasionalis.

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Tidak Sekedar Nama Bangkitlah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: