Bukan Sekedar Menikah

Mei 9, 2008 at 10:16 am Tinggalkan komentar

Saat-saat menjelang pernikahan biasanya menjadi saat yang paling membahagiakan. Tidak hanya bagi calon mempelai berdua, tetapi juga orang-orang yang disekitarnya. Sebuah peristiwa yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya, tidak hanya oleh pria atau wanita saja tetapi juga oleh para orang tuanya. Semua yang mereka bayangkan pasti hal-hal yang menyenangkan. Dan yang jelas hatinya pasti berbunga-bunga sembari menantikan saat-saat indah yang akan segera tiba. Kadang muncul perasaan tidak sabar menantikan apa-apa yang terjadi kemudian.

Akhirnya saat-saat yang ditunggu itu datang juga. Seluruh perasaan hati dan kekuatan jiwa hampir-hampir tertumpah semuanya. Sebuah suasana perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Antara perasaan takut dan perasaan bahagia bercampur jadi satu. Perasaan haru, rasa khawatir dan perasaan gembira kadang datang secara bersama-sama. Sekian banyak anggota keluarga, kerabat dan teman-teman turut hadir untuk menyaksikannya. Beribu-ribu doa dilantunkan saat mereka mengikatkan janjinya di depan para saksi-saksinya. Alhamdulillah, mereka telah sah menjalin kasih dan menumpahkan cinta. Tidak ada lagi batas yang akan menghalangi mereka berdua dalam berbagi suka dan duka.

Maka tibalah saat-saat untuk menjalani hidup yang sesungguhnya. Saat dimana masing-masing akan menjalankan tugasnya sesuai dengan peran dan kedudukannya. Yang laki-laki, akan membuktikan kelelakiannya. Begitu juga bagi yang wanita. Masing-masing akan dituntut untuk melaksanakan tanggung jawabnya masing-masing secara bersama-sama. Keduanya akan menempati posisi dan tempat yang telah lama menunggunya. Masing-masing akan berkarya sesuai dengan tuntutan peran dan tanggung jawabnya.

Sebuah peran dan tanggung jawab yang tidak ringan untuk dilaksanakan. Sebuah tugas yang tidak akan bisa diwakilkan dan tidak boleh ditunda pelaksanaannya. Oleh karenanya, bagi yang tidak pernah mempersiapkannya sejakpada hari pertama, maka dikhawatirkan akan terjadi ketimpangan ketimpangan yang berkepanjangan. Bila masing-masing tidak pernah mengumpulkan perbekalan sejak awal, maka dikhawatirkan kebahagiaan yang diraihnya akan selalu dihantui berbagai kegagalan.

Menikah memang tidak sekedar bertemunya dua anak manusia. Yaitu antara laki-laki dan wanita yang awalnya sekedar saling tertarik secara fisik antara keduanya. Tetapi mestinya ia adalah ikatan dua jiwa yang kokoh untuk melahirkan cita-cita yang mulia. Semestinya ia juga merupakan ikatan cinta yang suci untuk melahirkan persembahan terbaik bagi masyarakatnya. Karena sesungguhnya mereka berdua bagai  membawa bahtera  yang  akan menyebrangi  lautan dalam dan ganas ombaknya.

Karena itu sesungguhnya niat menikah bukan hanya sekedar untuk mencari kesenangan semata. Sebab di dalam rumah tangga tidak hanya kesenangan semata adanya. Disamping ada kesenangan, disana juga banyak beban dan ujian. Disamping itu juga kesenangan yang diharapkannya tidak akan mudah didapatkannya sebelum mereka berhasil menyelesaikan sejumlah persoalan. Kesenangan yang dicari baru akan menghampiri saat mereka telah teruji dengan masalah yang dihadapi. Oleh karenanya mempersiapkan diri sejak dini akan menjadi kunci dari keberhasilan semua keinginan yang dicari.

Menikah juga bukan hanya sekedar untuk penyaluran hasrat kebutuhan biologis semata. Karena ia hanyalah sebagian saja dari sekian banyak kebutuhan yang harus dipenuhi bersama-sama. Sekian banyak kebutuhan yang harus dipenuhi akan datang secara bergantian dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Kebutuhan yang menyangkut kebutuhan jasmani dan juga kebutuhan rohani. Mereka berdua akan merasakan kebahagiaan yang sempurna manakala seluruh kebutuhan tercukupi.

Menikah juga tidak hanya sekedar untuk meraih kebahagiaan mereka berdua saja. Karena sebuah pernikahan tidak hanya sekedar mengikatkan keberadaan dua orang. Ia juga akan mengokohkan pertalian hubungan kedua keluarga dan masyakatnya masing-masing. Bahkan di masa lalu, pertalian pernikahan telah berhasil menyatukan berbagai bangsa yang sebelumnya bermusuhan. Oleh karenanya mereka tidak bisa jalan sendirian. Mereka harus melibatkan banyak orang sebagai wujud dari jiwa kebersamaan.

Melahirkan generasi yang membanggakan merupakan salah satu dari sekian banyak tujuan pernikahan. Generasi yang akan mewarisi keteladanan yang dilahirkan oleh para orang tua pilihan. Karena rumah tangga mereka adalah sekolah yang utama bagi anak-anaknya. Kokohnya bangunan keluarga akan mampu melindungi anak-anaknya dari setiap pengaruh negatif yang bisa merusak masa depannya. Kuatnya pendidikan anak dalam keluarga, akan melahirkan generasi pilihan yang selalu dinantikan di setiap zaman.

Tujuan menikah itu juga tidak hanya sekedar untuk mengejar kenikmatan dunia. Sebab kenikmatan yang ada dunia itu sifatnya fana dan tidak lama. Perjanjian yang telah diucapkan di awal pernikahan adalah ikrar yang tidak akan terputus meskipun nyawa telah hilang dari badan. Sebuah ikrar yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh siapa saja yang menyaksikan. Oleh karenanya, kebahagian yang diraihnya di dunia harus bisa mengantarkanya meraih kebahagiaan di akhiratnya. Kenikmatan yang telah mereka rasakan bersama, jangan sampai menghalangi upayanya untuk mencapai puncak kenikamatan di akhiratnya. Oleh karenanya,  bisa bersama-sama hidup di surga adalah sebaik-baik dari semua cita-cita.

Entry filed under: Dakwah. Tags: .

Sekolah Berkualitas Menuntut Keseriusan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: