Rindu Tanah Suci-6: Untaian Do’a-Do’a

Mei 2, 2008 at 4:12 am Tinggalkan komentar

Dalam tradisi masyarakat Jawa baik desa atau kampung (kota), setiap ada yang akan mempunyai hajatan besar atau akan pergi jauh dalam waktu lama, biasanya akan meminta doa restu atau pamitan kepada orang tua , kerabat dan tetangga. Tradisi itu telah berlansung lama dan sampai sekarang masih bertahan. Dari tradisi itu menunjukkan betapa masih kuatnya ikatan kekeluargaan dan persaudaran yang terjalin antar keluarga dan masyarakat kita.

Tradisi masyarakat itu juga berlaku bagi seseorang yang akan berangkat menunaikan ibadah haji. Ada anggapan bahwa orang yang akan berangkat Ibadah haji itu sama dengan orang itu akan menunaikan hajat yang besar dalam peribadatan. Berkenaan dengan hal tersebut,  kami juga melakukan hal demikian berkenaan dengan keberangkatan haji kami. Dalam kunjungan itu disamping kita meminta do’a agar perjalanan haji kita lancar dan diberi ke-mabrur-an, kita  juga meminta maaf atas segala khilaf dan kesalahan yang dilakukan selama berhubungan satu sama lain.

Mengingat orang-orang dekat yang akan kami kunjungi meliputi tiga tempat yaitu kota Surabaya, kabupaten Gresik dan di kabupaten Lamongan yang jaraknya saling berjauhan, maka kami harus bisa mengatur waktunya dengan sebaik-baiknya. Untuk yang di Surabaya, kami harus menyelesaikan acara kunjungan ini  sebelum tanggal 30 Desember 2004. Karena pada setelah tanggal tersebut kami sudah harus berada di Gresik. Begitu juga di Lamongan, kami harus selesaikan acara pamitan sebelum kami pulang ke Gresik. Karena antara tanggal 1 sampai 6 Janauri 2005 kami tidak boleh keluar rumah di Gresik.

Mengunjungi sanak-kerabat dan orang-orang dekat menjelang keberangkatan kami ketanah suci adalah saat-saat yang sangat mengharukan. Hal itulah yang terjadi ketika kami berkunjung ke kampung halaman di Lamongan. Segala macam perasaan muncul bercampur aduk jadi satu. Rasa rindu karena sekian lama tidak bertemu bercampur dengan perasaan haru dan bahagia.

Sekian lama merantau dan meninggalkan tanah kelahiran menimbulkan kerinduan yang dalam diantara kami serta para kerabat, teman dan handai tolan. Ibunda tercintapun tidak kuasa membendung air matanya ketika kami peluk dan saya cium tangannya. Sulit untuk menyembunyikan dan mengungkapakan perasaan rindunya yang telah tertahan sekian lama. Perasaan bahagia memancar dari kedua matanya. Meskipun diwajahnya masih tergurat pancaran kelelahan, tetapi rasa bangga dan bahagianya berhasil menutupinya.

Orang tua saya hanya tinggal Ibunda. Karena Ayahanda telah wafat semasa saya masih kuliah. Maka Bundalah orang yang paling bahagia dengan kedatangan kami di rumah kami Lamongan. Kenapa bunda merupakan orang yang paling berbahagia dan bangga dengan kepergian haji saya. Karena beliaulah orang yang paling dekat dengan saya. Bahkan banyak orang yang mengatakan bahwa saya memiliki jiwa atau watak yang sangat mirip dengan jiwa  Ibunda saya. Beliaulah yang  terus mendorong saya untuk terus sekolah dan kuliah sampai akhirnya sampai berhasil dan menetap di kota Surabaya.

Meskipun keadaan keluarga kami adalah petani biasa yang pas-pasan hasilnya saat itu, tetapi Ibunda tetap mengizinkan saya untuk terus sekolah atau kuliah. Tidak sedikit  yang tidak setuju atas keputusan Ibunda ini baik dari kalangan keluarga maupun dari kerabat dekat kami sendiri. Ketidaksetujuan itu bukan karena apa-apa. Tetapi semata-mata disebabkan kondisi kondisi ekonomi kami yang sulit saat itu. Dengan hanya mengandalkan hasil pertanian dari sawah dan ladang yang tidak terlalu luas yangkami miliki, cukup sulit untuk membayangkan dari mana biaya kuliah akan kami dapatkan. Pahadal dua adik saya juga masih membutuhkan biaya untuk sekolah juga.

Tetapi itulah yang terjadi, berkat dorongan dan  do’a ibunda yang terus menerus, saya bisa kuliah dan saya bisa menyelesaikannya. Dan hasil dari segala usaha dan jerih payah serta do’a ibunda itupun akhirnya telah berbuah. Beliau menilai saya telah berhasil meraih apa yang dicita-citakannya dan Ibunda telah menyaksikan buahnya.  Bahkan  buahnya melebihi dari yang pernah diperkirakannya. Termasuk salah satu buahnya itu adalah saya bisa menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

Para famili, teman-teman dekat dan tetangga serta para guru sewaktu di desa, semuanya mengucapkan selamat atas keberangkatan kami. Mereka rata-rata tidak pernah menyangka bahwa saya bisa secepat itu bisa berangkat ke tanah suci. Sebuah prestasi yang luar biasa untuk ukuran orang seperti saya, katanya. Tidak sedikit diantara mereka yang kemudian mengingat-ingat kembali nostalgia ketika masa kecil dan remaja  yang selalu dibalut dengan kehidupan yang serba pas-pasan atau cenderung kekurangan. Bahkan diantara mereka ada yang berandai-andai. Seandainya almarhum ayah saya masih hidup alangkah gembiranya dan bangganya beliau melihat saya saat ini. Satu per satu  orang-orang yang kami tuju telah kami kunjungi. Meskipun sangat singkat pertemuan dengan mereka tetapi kesan yang terpatri di dalam hati kami terasa sangat susah untuk dilupakan.

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Saatnya Saling Memberi Mencari Kesenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: