Menjadi Politisi

April 29, 2008 at 6:36 am 1 komentar

Belum-belum mungkin sebagian diantara kita ada yang sudah merasa alergi begitu mendengar kata-kata Politik disebutkan. Saat ini memang sedang hangat-hangatnya suara-suara ketidakpercayaan sebagian warga masyarakat kepada lembaga-lembaga politik dan juga para tokoh-tokohnya. Karena mungkin mereka sudah terlanjur menyaksikan dan mengetahui aneka tindakan yang tidak enak dipandang yang dilakukan oleh beberapa oknum yang sedang memegang amanah jabatan.

Semakin banyaknya para pejabat yang terlibat dalam kasus pidana kurupsi, semakin menambah ketidakpercayaan sebagian public kita terhadap kinerja mereka. Belum lagi terungkapnya beberapa perilaku yang tidak terpuji yang dilakukan sebagian para public-figure kita itu yang kemudian dipublikasikan melalui media massa. Semakin menambah kebencian sebagian orang terhadap dunia politik. Mereka menganggap politik hanya dipakai sebagian orang untuk mencari keuntungan dan mengejar jabatan.

Tidak salah mungkin ketika seseorang berpersepsi demikian. Mereka mungkin geram menyaksikan tindakan-tindakan para pemegang amanat rakyat yang berbuat menyimpang dan jauh dari harapan. Ditengah kondisi sebagian besar masyarakat yang serba kesusahan, mereka mempermainkan kedudukan untuk kesenangan diri sendiri. Padahal mereka dibayar tinggi untuk bisa membawa bangsa ini meraih kemajuan dan kesejahteraan. Sehingga tidak salah kemudian ada sebagian masyarakat yang kecewa dan kemudian memutuskan untuk tidak mau lagi terjun dan ngurusi dunia politik.

Antara harapan dengan kenyataan memang kadang berseberangan. Oleh karena itu bagi yang pernah dikecewakan oleh politisi yang dipilihnya, maka jangan dipilih lagi pada pemilu berikutnya. Bagi yang pernah memilih dan memutuskan untuk menitipkan aspirasinya (suaranya) kepada partai yang kemudian mengecewakannya, maka jangan lagi titipkan lagi suara anda disana. Karena karena kalau tetap disana, anda bakal dibikin kecewa untuk kedua kalinya.

Jangan juga kemudian mutung atau putus asa dan kemudian tidak mau lagi  menyalurkan aspirasi. Karena sebagai warga masyarakat sekaligus warga Negara yang baik kita tidak patut melakukannya. Pada hakekatnya dalam kehidupan sehari-hari, kita semua tidak bisa lepas diri dari persoalan-persoalan politik. Persoalan kehidupan keseharian kita muncul dan dan tenggelam adalah persoalan yang tidak pernah lepas dari kebijakan politik yang diambil para pemegang kekuasaan. Sedangkan pemegang kekuasaan itu kita yang menentukannya.

Kita semua, baik disadari maupun tanpa disadari, adalah para politisi. Lho kok bisa? Laa Ya. Contohnya, suatu saat misalnya ada sebuah kebijakan pemerintah yang kita nilai menguntungkan rakyat dan kita menyetujuinya, maka saat itulah kita telah menjadi politisi. Karena kita mempunyai aspirasi atau pandangan yang sama dengan keputusan politik pemerintah. Jadi ke-politisian kita itu sesungguhnya telah muncul disaat kita peduli kepada nasib sauadara-saudara kita sesama anak bangsa. Selama dalam diri kita masih ada perhatian terhadap perbaikan nasib saudara-saudara kita, maka kita telah menjadi para pejuang bangsa. Dan para pejuang bangsa itulah politisi sesungguhnya.

Kalau kita menengok sejarah panjang perjalanan bangsa ini sampai kemudian meraih kemerdekaannya, maka hampir tidak pernah lepas dari peranan para pejuang yang memikirkan nasib bangsanya. Kita semua mengetahui bagaimana gerakan politik penentangan terhadap pemerintahan kolonial yang dilakukan oleh para pejuang kita semisal Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan yang lainnya. Mereka semuanya berjuang mengorbankan harta dan nyawanya demi menegakkan kehormatan bangsanya. Mereka ikhlas berkorban demi membebaskan negerinya dari segala bentuk penjajahan.

Para pahlawan kita yang terlibat dalam persiapan proklamasi kemerdekan Indonesia adalah para politisi yang handal di zamannya. Ir. Sukarno, Mohammad Hatta, KRT. Radjiman Wedyodingrat, KH. Agus Salim, KH. Abdoel Wachid Hasyim, Muhammad Yamin dan yang lainnya adalah para pejuang yang rela mengorbankan apa saja demi kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah para pemudah dan tokoh pilihan yang dimiliki  Indonesia saat itu. Mereka tidak takut dengan peluru yang setiap saat bisa menembus dada mereka, mereka tidak takut dibuang atau dipenjara asalkan Indonesia bisa lepas dari kungkungan para penjajah. Alhamdulillah, atas berkat Rahmat dari Allah swt, apa yang diperjuangkan oleh para pahlawan serta seluruh rakyat Indonesia  meraih keberhasilan.

Kita bisa menjadi politisi-politisi sejati, asalkan masih ada dalam hati kita semangat perjuangan dan kepedulian. Perjuangan untuk membebaskan rakyat dari segala bentuk kebodohan. Perjuangan membebaskan rakyat dari segala kemelaratan dan ketertinggalan. Kalau bisa dilakukan dengan berjuang sendirian, lakukan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Kalau tidak bisa sendirian bergabunglah dengan lembaga politik yang amanah dan yang bersih orang-orang didalamnya. Temukan lembaga politik yang dengan ikhlas berjuang untuk kebaikan semua orang. Pastikan cita-cita mulia kita tersalurkan sesuai dengan yang kita inginkan.

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Mengalir Seperti Air Saatnya Saling Memberi

1 Komentar Add your own

  • 1. senopatiarthur  |  April 29, 2008 pukul 7:44 am

    Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: