Mengalir Seperti Air

April 28, 2008 at 5:51 am Tinggalkan komentar

Mengalirlah seperti air. Demikian salah satu ungkapan yang sering kita dengar dalam percakapan keseharian. Ungkapan yang sangat menyejukkan untuk didengarkan ditengah mengalirnya berbagai macam persoalan akibat perubahan gaya hidup dan kehidupan yang sulit untuk ditahan. Kalimat diatas sangat tepat untuk disampaikan kepada siapa saja yang  merasa cemas atau takut menghadapi terjadinya perubahan. Terutama perubahan yang bisa mengancam kedudukan dan kemapanan.

Semestinya semua orang harus siap dan membiasakan diri dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Karena hakekat kehidupan itu adalah perubahan. Selagi masih hidup, pasti akan ada perubahan. Sehingga siapapun mestinya tidak perlu mencemaskan dan merasa takut dengan adanya perubahan. Karena baik diminta atau tidak diminta ia akan datang juga. Semestinya yang perlu dilakukan adalah bagaimana setiap perubahan itu mampu memberikan sumbangan kebaikan baik bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Mengalir saja seperti air. Kayaknya ungkapan ini perlu terus diulang-ulang. Karena kalau kita berbicara tentang air, akan banyak hikmah yang bisa kita ambil darinya. Kita semua tentu mengetahuinya bahwa sebagian besar permukaan bumi kita terdiri dari air. Dan kayaknya tidak ada satu orangpun di dunia ini membantah tentang pentingnya air bagi kehidupan. Air sangat di perlukan oleh tubuh manusia karena hampir 70 persen tubuh kita terdiri dari air. Bayangkan kalau kita tidak minum air selama du hari.  Air juga dibutuhkan untuk penunjang kehidupan kita seperti untuk memasak, untuk mandi dan cuci serta yang lainnya. Air juga sangat dibutuhkan oleh mahluq hidup lainnya seperti tumbuhan dan hewan.

Karena begitu pentingnya kedudukan air, seakan-akan bisa dikatakan tidak ada kehidupan tanpa adanya air. Tetapi meskipun sangat penting kedudukannya, air tidak pernah menolak untuk berada dimana saja. Dia kadang ada di tempat-tempat yang tinggi di pegunungan yang indah dan sejuk serta bersih udaranya. Dia juga ada di lautan yang luas  bersama bermilyar flora dan fauna yang berada didalamnya. Kadang dia diatas angkasa menjadi awan dan hujan. Dia ada di telaga yang jernih dan dia ada juga di sungai yang keruh dan tidak enak baunya.

Air yang ada diselokan yang kotor didepan atau belakang rumah kita pada awalnya merupakan air yang bersih. Ia pada awalnya berada di sumber-sumber air di daerah pegunungan. Siapapun umumnya menyukai tinggal di daerah  pegunungan yang umumnya udaranya sejuk dan segar. Sumber-sumber yang ada di pegunungan akan mengalirkannya ke daerah-daerah pedesaan atau perkotaan  melalui sungai-sungai atau parit yang ada dibawahnya. Berpuluh atau bahkan beratus kilometer jalan yang ditempuhnya. Sekian banyak halangan dan rintangan serta berbagai macam proses yang harus dilewatinya sebelum akhirnya air itu sampai dirumah-rumah kita.

Dalam beberapa hal, kita bisa mengambil pelajaran dari air ini. Dari dari posisi dan kedudukannya, tidak ada yang meragukan pentingnya kedudukan air. Tetapi air tidak pernah selalu ingin terus berada diatas. Dia akan mengalir ke dataran renda di bawahnya untuk memenuhi kebutuhan semua makhluk hidup yang memerlukannya. Dia akan berada dimana saja selagi masih ada yang membutuhkannya. Dia tidak pernah memilih-milih kepada siapa ia melayaninya. Tidak peduli tempat itu bersih atau kotor, dia akan tetap menempatinya asalkan kehadirannya bermanfaat.

Mengalir seperti air itulah kehidupan sesungguhnya. Yang merasa diatas siap mengalir dan memberi manfaat kepada yang berada dibawahnya. Yang berada di bawah juga tidak merasa sengsara dan menderita karena ada yang siap memenuhi segala kebutuhannya. Mengalir kebawah berarti mensyukuri apapun yang diterimanya kemudian melihat apa saja yang ada di bawahnya. Dia melaksanakan segala amanat dan kewajibannya secara sungguh-sungguh tanpa membangga-banggakan kedudukannya. Mengalir ke bawah berarti dia siap menjadi apa saja setelah dari atas tanpa melihat kedudukan yang disandangnya sebelumnya.

Bagi yang masih merasa berada di bawah dan belum tercapai segala keinginannya,  jadilah juga seperti air. Jadilah seperti layaknya telaga atau seperti yang lainnya. Tetap tenang dan terasa teduh ketika dipandang. Tetap memberi kesenangan dan pelayanan kepada siapa saja yang mendatanginya.Siapapun yang berada di didekatnya akan merasakan ketentraman. Airnya yang memantulkan warna langit yang kebiru-biruan menambah keelokan pemandangan alam di sekitarnya.

Suatu saat pasti panasnya matahari akan menerbangkannya menjadi awan, ia akan terbang di angkasa raya dan kemana saja selama waktu yang dikehendaki-Nya. Beberapa saat kemudian ia akan turun, menghujani puncak-puncak bukit dan pucuk-pucuk pepohonan. Ia akan membasahi dedaunan dan menyuburkan akar-akar tetumbuhan. Ia akan meresap di sela-sela rerumputan dan di dasar-dasar bebatuan. Ia kemudian menghuni dan tinggal di sumber-sumber air di sela-selah punggung bukit dan pegunungan.

Entry filed under: Beranda. Tags: .

Menemukan Pasangan Menjadi Politisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: