Rindu Tanah Suci-5: Sebuah Penghargaan

April 19, 2008 at 7:34 am Tinggalkan komentar

Sambil memantapkan segala persiapan yang terkait dengan manasik haji, kami juga mempersiapkan aspek kemasyarakatan yang ditimbulkan oleh keberangkatan kami. Karena kami tinggal di perkampungan, ada beberapa aspek sosial yang perlu diperhatikan terkait dengan ibadah yang satu ini. Masyarakat kita, terutama yang tinggal di pedesaan atau perkampungan di kota, masih memegang kuat tradisi-tradisi seputar ibadah keagamaan termasuk ibadah haji. Tradisi-tradisi itu bermula dari kebiasaan-kebiasaan mereka menghormati sebuah ritual ibadah.

Mereka menganggap ibadah haji merupakan puncak ibadahnya orang Islam. Mereka juga menganggap bahwa ibadah haji bisa mencerminkan status dan kehormatan seseorang. Kedudukan seseorang dipastikan akan berubah setelah kepulangannya dari tanah suci. Minimal dalam hal pemanggilan namanya. Orang akan memanggilnya dengan embel-embel didepan namanya dengan kata-kata Abah atau haji. Sehingga mereka akan berusaha menghormati dan menghargai orang-orang yang akan menjadi tamu Ilahi ini.

Saya sendiri tidak pernah memikirkan tentang segala status dan panggilan yang akan kami sandang. Saat itu kami hanya berfikir bagaimana ibadah kami mabrur dan lancar. Tetapi karena kami tinggal di tengah-tengah mereka, kami perlu mempersiapkannya. Apalagi saya dianggap sebagai “imam” meraka. Saya memang menjadi imam sholat di Musholla mereka. Itu terjadi secara kebetulan saja. Suatu waktu ketika imam mushollah di dekat itu sering tidak ditempatnya kemudian saya yang menggantikannya. Maka ketika imamnya selalu ada maka lama-kelamaan menjadi ramailah jama’ahnya.

Seluruh jama’ah musholla menyambut dengan suka cita rencana keberangkatan kami. Mereka tidak pernah menyangka kalau saya secepat itu mendapatkan panggilan-Nya. Ada yang lebih pantas diantara jama’ah utuk berangkat lebih dulu. Tetapi mereka menyadari bahwa semuanya merupakan ketentuan Ilahi. Diantara para jama’ah yang paling bergembira adalah H. Thoyib. Beliau memang seperti saudara sendiri dengan kami.

Beliau yang telah berangkat lebih duluan telah merasakan bagaimana kenikmatan menjadi tamu Ilahi. H. Thoyib dikenal sangat dermawan terutama di lingkungan musholla kami. Kalau untuk kebaikan beliau tidak pernah segan mengeluarkan uang sesuai yang dibutuhkan. Setiap ada acara semacam pengajian, beliaulah yang paling duluan mengeluarkan sumbangan. Di musholla kami, beliau juga paling mentraktir makan para jama’ahnya. Rezeki beliau tergolong lancer. Usaha bengkel las yang beliau miliki tidak pernah sepi dari pelanggan dan pemesanan.

Terkait dengan keberangkata kami, beliau mewakili jama’ah telah mengadakan tasyakuran . Kami saja belum tasyakuran, beliau malah yang mendahului. Seluruh jama’ah senang-senang saja dengan acara-acara ini. Dalam hal-hal yang lain beliau banyak membantu, termasuk beberapa perlengkapan yang kami butuhkan di tanah suci.

Mendapat kepastian bahwa kami akan berangkat pada tanggal 7 Januari 2005, kami lebih serius untuk mempersiapkannya. Kami mulai menjadwal hari-hari kami sampai hari H kami berangkat. Kami harus menggenapkan segala perlengkapan yang diperlukan selama ibadah. Kami harus menyelesaikan urusan-urasan terkait pekerjaan. Juga tidak ketinggalan kapan kami harus pamitan dan kapan kami mengadakan tasyakuran. Mengingat kami nantinya berangkat dari rumah di Gresik, maka kami harus mengatur jadwal persiapan keberangkatan itu sebaik mungkin.

Yang kami persiapkan paling awal adalah memenuhi perlengkapan yang dibutuhkan di tanah suci sebagaimana yang telah ditentukan. Misalnya pakaian ihrom, sabuk besar, pakaian selama disana dan beberapa kebutuhan makan. Alhamdulilah untuk perlengkapan haji tidak perlu membeli, karena bisa memanfaatkan perlengkapan yang telah dimiliki keluarga dan kawan jama’ah. Untuk pakaian ihrom misalnya, kami memanfaatkan yang pernah dipakai almarhum mbah-kung H. Zainal Arifin. Malahan ada dua stel waktu itu. Untuk sabuk besarnya kami mendapat pinjamanH. Thoyib. Tidak hanya sabuk besar yang dipinjamkan, kami juga mendapat pinjaman kompor listrik, sepatu untuk wanita. Bahkan kami juga diberi obat-obatan dan suplemen vitamin. jadi untuk persiapan perlengkapan ibadah disana sudah tidak ada masalah.

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Menjaga Keharmonisan Ketika Cinta Menggelora

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: