Rindu Tanah Suci-4: Buah dari Ketabahan

April 2, 2008 at 7:05 am Tinggalkan komentar

Gagal berangkat menunaikan ibadah haji tahun itu membuat diri ini menjadi lebih instropeksi dan merenungkan hikmah apa yang terjadi. Kami sangat menyadari bahwa segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini tidak pernah lepas dari ketetapan  Yang Maha Kuasa. Kami bisa menjadi Calon Jama’ah Haji (CJH) atas taqdir Allah swt. Kami gagal berangkat haji juga atas ketentuan Allah swt. Jadi kamipun sangat siap menghadapi apapun yang terjadi. Semuanya kami hadapi dengan kesabaran dan ketabahan.

Tetapi kami sangat menyakini bahwa setiap kejadian pasti ada hikmah yang tersimpan didalamnya. Meskipun hikmah itu tidak mesti harus semuanya di ketahui oleh kita. Ada hikmah yang tampak nyata, ada pula hikmah yang tidak bisa dirasakan oleh indra manusia. Hanya Alloh swt yang Maha Mengetahui segala rahasia-Nya. Yang jelas, segala ketentuan Alloh swt. untuk hambah-Nya pasti demi kebaikan si hambah sendiri, meskipun ia tidak menyadari.

Ada beberapa kejadian atau peristiwa yang kami rasakan  sebagai hikmah dari tertundanya keberangkatan kami. Perasaan ini tentunya sangat subyektif sifatnya. Tetapi perasaan itu sungguh semakin menguatkan hati kami bahwa Alloh swt pasti menghendaki kami tamu-Nya di Baitullah sebagai tamu-tamu yang terbaik dihadapan-Nya. Tidak hanya itu, kami tidak hanya dikehendaki sebagai tamu-tamu yang baik dihadapan-Nya, tetapi kami juga dikehendaki menjadi pribadi-pribadi yang baik di kalangan masyarakat kami sendiri. Sungguh Alloh swt Maha Bijaksana atas segala kehendak-Nya.

Kalau seandainya kami jadi berangkat haji pada musim haji tahun 2004, kami masih belum mempunyai rumah yang permanen di Surabaya. Rumah yang kami tempati di Jl. Penjaringan Surabaya statusnya masih kontrak. Hal ini tentu saja,  menurut perasaan kami,  bukan hal yang baik bagi kami. Seharusnya seseorang yang dianggap mampu menunaikan ibadah haji adalah yang telah mampu mencukupi segala kebutuhan pokoknya termasuk kebutuhan rumah. Alhamdulillah kami diberi rizki oleh Allah swt sehingga mampu membeli sebuah rumah hanya beberapa bulan setelah tertundanya keberangkatan kami. Allohu Akbar.

Sebuah rumah sederhana di Jl. Penjaringan  persis sebelah selatan rumah yang kami tempati. Kami sangat bahagia sekali karena bisa memiliki sebuah rumah sesuai dengan keinginan kami. Ini merupakan keajaiban yang kesekian kalinya yang terjadi dalam kehidupan kami. Peristiwa demi peristiwa seakan terus mengalir sesuai ketetapan yang Maha Perkasa tanpa ada seorangpun yang mampu membantah. Kami yang hanya bekerja di pesantren bisa membeli rumah di Surabaya. Padahal semua orang yang hidup di kota Surabaya merasakan betapa sulitnya memiliki sebuah rumah di Surabaya. Banyak dari teman-teman atau sahabat yang bekerja sebagai pegawai negeri misalnya mengeluh betapa sulitnya memiliki rumah. Sungguh ini merupakan keajaiban yang luar biasa bagi kami. Allohu Akbar.

Rencana keberangkatan haji kami, andaikata jadi, terkesan sangat mendadak. Kami merasakan ada beberapa persiapan yang belum kami penuhi secara maksimal. Contohnya soal keilmuan. Bimbingan manasik yang kami ikuti belum seluruhnya memuaskan keingintahuan kami tentang seluruh seluk beluk ibadah haji. Belum lagi persiapan-persiapan lainnya, terkesan apa adanya.

Kegagalan berangkat itu menjadi sesuatu yang tidak menyedihkan bagi kami. Bahkan kenikmatan demi kenikmatan terus kami rasakan.

Wallohu A’lam (bersambung)

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Untuk Sahabatku… Shabar Menurut Al Qur’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: