Rindu Tanah Suci-3: Awal Perjalanan

Maret 19, 2008 at 10:11 am Tinggalkan komentar

Meskipun kami sudah di Surabaya, kami mendaftar haji di Kabupaten Gresik karena sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang kami miliki, kami masih tercatat sebagai warga Gresik. Gresik adalah daerah asal istri saya. Saya sendiri lahir di daerah Lamongan. Karena sebab pernikahan, saya pindah domisili menjadi warga kabupaten Gresik, sehingga KTP yang kami miliki adalah KTP Gresik. Tetapi kami tidak tinggal di Gresik. Setelah kami menikah, kami tinggal di Surabaya.
Awalnya kami tidak merasa  yakin bahwa kami bisa berangkat pada musim haji tahun 2004. Karena  kami diberitahu bahwa jatah quota haji telah habis. Apalagi kami baru bisa melunasi BPIH pada bulan agustus 2003, seharusnya BPIH harus dilunasi pada awal bulan Juli 2003. Tetapi kami sangat gembira ketika mendengan pernyataan menteri Agama (Menag) Prof. Dr. Said Agil Al Munawwar  melalui media cetak dan elektronik,  bahwa  Indonesia mendapatkan jatah tambahan Qouta haji sebanyak 35 ribu orang CJH.
Mendengar berita tersebut, kemudian kami memastikan berita itu ke kantor Departemen Agama (Depag) kabupaten  Gresik tentang tambahan quota yang dimaksud menteri agama. Kantor Depag memastikan bahwa kami masuk dalam quota tambahan. Mendapat kepastian dari Kantor Depag untuk berangkat tahun itu juga merupakan kenikmatan yang sulit untuk diungkapkan. Kegembiraan bercampur dengan ketidakpercayaan. Kebanggaan sekaligus bercampur dengan kegelisahan akan minimnya persiapan. Rasa haru dan bahagia bercampur jadi satu.
Dalam pikiran kami sudah mulai membayangkan  bagaimana prosesi dan urut-urutan perjalanan ibadah di kota suci Makkahtul Mukarromah. Pertanyaan-pertanyaanpun mulai menggelayuti dalam hati dan pikiran; bagaimana nanti di pesawat udara? Bagaimana nanti di Makkah, Arafah dan Mina? Bagaimana nanti rasanya thawaf disekeliling Ka’bah?  Bagaimana nanti sai-nya dan lain-lain. Rasanya segala bayangan dan angan telah terbang menembus batas yang terjauh dalam  ritual  manasik haji yang paling diidamkan.
Untuk mempersiapkan keberangkatan yang singkat itu, kamipun mengikuti bimbingan Manasik Haji di KBIH di kecamatan Benjeng Gresik. Setiap hari minggu kami rutin pulang kampung untuk mengikuti acara tersebut. Kami harus menempuh hampir 45 kilometer untuk sampai di tempat acara.Tentu saja banyak teman baru yang kami jumpai di sana meskipun kami agak asing dengan mereka pada awalnya, tetapi karena kami semua satu tujuan dalam ibadah, kami tidak perlu butuh waktu terlalu lama untuk berakrab  ria dengan mereka.
Mereka rata-rata para orang tua dan orang-orang yang telah berumur Hampir satu bulan lebih kami mengikuti acara  bimbingan tersebut dengan segala aktifitasnya yang menyenangkan. Segala ilmu yang disampaikan berhasil kami serap dengan baik. Kamipun semakin yakin dan mantap untuk segera berangkat ketanah suci meskipun dengan persiapan apa adanya. Apalagi kami juga sudah menerima Tas besar, tas tentengan dan tas kecil dari Perusahaan penerbangan Saudi Arabia Airlines (SAA)  sebagai tempat perbekalan selama kami beribadah haji.
Ditengah persiapan keberangkatan kami, datanglah berita yang mengejutkan itu. Melalui beberapa media massa Menteri Agama menyampaikan bahwa Calon Jama’ah Haji (CJH) yang berasal dari quota tambahan gagal berangkat tahun ini.. Pemerintah kerajaan Saudi Arabiyah menolak permohonan quota tambahan yang diajukan dengan alasan keamanan. Sebelumnya pemerintah Indonesia melalui menteri agama Dr. Said Agil Al Munawwar mengajukan permohonan quota tambahan sebanyak 35.000 CHJ.  Pada awalnya ada kabar kalau quota tambahan itu disetujui pemerintah kerajaan Saudi Arabiyah.
Tetapi itulah yang terjadi. Kami termasuk yang gagal untuk diberangkatkan. Bagai sambaran petir disiang bolong, kabar itu terasa menyesakkan dada. Kerinduan akan tanah suci yang sudah terlanjur merasuki seluruh urat nadi, terasa terhempas kembali. Padahal segala persiapan selama perjalanan ibadah sudah dipersiapkan, meskipun belum  semuanya lengkap seperti yang dibayangkan. Termasuk juga kami telah mengadakan acara “Tasyakuran haji” kecil-kecilan di mushalla.
Pedih memang rasanya. Tetapi itulah garis Ilahi yang harus dilewati. Tidak seorangpun yang kuasa memajukan dan mengakhirkan taqdir dan perjalanan hidup seseorang. Meskipun telah diusahakan dengan segenap kemampuan. Ada kabar dari media massa, akibat gagal berangkat, seorang ibu setengah baya mengalami stress berat. Dia malu kepada seluruh kerabat dan tetangganya yang sudah terlanjur ia pamiti. Lagian ia sudah menggelar tasyakuran besar-besaran, sebagai wujud rasa syukur yang sangat atas keberangkatannya ke tana suci. Masih banyak lagi cerita-cerita tentang kesedihan para CJH yang gagal brangkat tahun itu.

Entry filed under: Lintasan. Tags: .

Solusi Jitu Di Masa Krisis MAHASISWA SANTRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: