Bekal Jamaah Haji

Oktober 24, 2008 at 3:28 am 4 komentar

ka'bahMenunaikan ibadah haji ke Tanah Suci adalah ibadah yang memerlukan banyak persiapan. Berbagai bekal mungkin telah dipersiapkan oleh masing-masing Calon Jamaah Haji termasuk bekalan ilmu pengetahuan seputar pelaksanaan ibadah haji. Berikut ini kami sampaikan ulasan sederhana seputar manasik haji yang penting untuk dijadikan pengetahuan tambahan demi kesempurnaan ibadah haji yang akan dilakukan. Semoga seluruh Calon Jama’ah Haji Indonesi bisa mendapatkan haji yang mabrur.
o Apakah yang dimaksud dengan ihram?
Ihram menurut istilah ialah mengharamkan (menghindari) segala sesuatu yang ditentukan selama melaksanakan ibadah haji/umrah.
o Dimanakah di mulai ihram haji dan umrah bagi jamaah haji Indonesia?
 Bagi Jamaah Haji Gelombang Haji Gelombang I, miqat ihramnya di Bir Ali.
 Bagi Jamaah Haji Gelombang Haji Gelombang II, miqat ihramnya :
• Di atas pesawat udara garis sejajar denangn Qarnul Manazil, atau
• Di Airrport King Abdul Azis Mekkah, atau
• Asrama Haji Embarkasi di Tanah Air.
o Bagaimanakah pakaian ihram bagi lelaki dan wanita?
Pakaian ihram bagi laki-laki adalah dua helai kain, satu helai dipakai sebagai sarung dan satu helai sebagai selendang. Sedangkan bagi wanita adalah pakaian biasa yang menutup seluruh badan tetapi harus terbuka muka dan kedua telapak tangannya. Pakaian ihram tersebut disunatkan berwarna putih.
o Apa sajakah yang dilarang selama dalam keadaan ihram?
• Bagi pria dilarang: Memakai pakaian biasa, Memakai sepatu yang menutupi mata kaki, Menutup kepala yang melekat seperti topi. Kalau tidak melekat boleh, seperti payung Bagi wanita dilarang: Berkaus tangan, menutup muka (memakai cadar)
• Larangan selama ihram bagi pria dan wanita adalah:
• Memakai wangi-wangian, kecuali yang sudah dipakai sebelum ihram
• Memotong kuku dan mencukur atau mencabut rambut badan
• Memburu atau menganiaya/membunuh binatang dengan cara apapun (kecuali binatang yang membahayakan boleh dibunuh)
• Kawin, mengawinkan atau meminang wanita untuk dinikahi
• Bercumbu atau bersetubuh
• Mencaci, bertengkar atau mengucapkan kata-kata kotor
• Memotong pepohonan di tanah haram (baik dalam keadaan ihram/ tidak)
o Ibadah apa saja yang boleh dilakukan oleh wanita selama haid ?
Semua Ibadah boleh dilakukan kecuali shalat dan thawaf.
o Apakah jamaah haji pria/wanita yang sedang berihram boleh melepas pakaian ihramnya?
Boleh melepas pakaian ihram di tempat tertutup, seperti untuk mandi, berhajat atau menggantinya karena kotor. Apabila membuka pakaian ihram di tempat terbuka hukumnya haram, tetapi tidak kena dam.
o Bolehkah berihram haji/umrah sebelum sampai miqat?
Boleh berihram haji/umrah sebelum sampai miqat.
o Bagaimana hukumnya jika jamaah haji melewati miqat makani tanpa berihram umrah atau haji ?
Apabila jamaah haji melewati miqat makani tanpa ihram umrah atau haji, wajib membayar dam isa’ah (dam kesalahan) atau mengambil cara lain, yaitu:
o Kembali lagi ke miqat yang dilewati tadi, sebelum melaksanakan salah satu kegiatan ibadah umrah/haji. Mengambil miqat haji yang terdekat dengan tanah haram.
o Bagaimana hukumnya membuka kain ihram jamaah sakit karena alasan perawatan tanpa membatalkan niat (ihramnya)
Boleh karena darurat, dan pada saat sudah memungkinkan wajib mengenakan kembali kain ihramnya tanpa dam, dan tidak perlu niat (ihram) lagi, dan apabila tidak memungkinkan memakai kain ihram boleh melaksanakan hajinya tanpa kain ihram, akan tetapi dikenakan dam.
o Bagaimana hukumnya orang yang sudah ihram dari miqat, akan tetapi karena sesuatu hal terpaksa membatalkan ihramnya.
Wajib membayar dam seekor kambing
o Bacaan apa yang dianjurkan setelah berihram dari miqat ?
Setelah berihram dianjurkan membaca talbiah.
o Bolehkah membaca talbiyah sejak dari rumah kediaman, di perjalanan dan di Asrama Haji Embarkasi ?
Boleh, hanya saja tidak disertai niat/ ihram haji/ umrah, pendapat lain mengatakan belum boleh karena talbiyah merupakan bagian dari ihram.
o Manakah yang lebih afdhol (utama) membaca talbiyah, do’a dan dzikir dengan suara keras atau pelan (sir).
Dengan membaca talbiyah, do’a dan dzikir diutamakan dengan sir (suara tidak nyaring) , membaca talbiyah bagi pria diutamakan dengan bersuara keras/ nyaring (jahr) sedangkan bagi wanita dengan sir.
o Bolehkah jamaah haji yang dalam keadaan ihram memotong/mencukur/mencabut rambut, memotong kuku atau memakai wangi-wangian?
Jamaah haji yang dalam keadaan ihram tidak diperbolehkan memotong/mencukur/ mencabut rambut, memotong kuku atau memakai wangi-wangian.
o Apa hukumnya memotong/mencukur/mencabut rambut, memotong kuku memakai wangi-wangian dalam keadaan ihram?
Hukum memotong/mencukur/mencabut rambut, memotong kuku atau memakai wangi-wangian wajib membayar fidyah (denda), yaitu dengan memilih menyembelih seekor kambing atau bersedekah kepada 6 (enam) orang fakir miskin masing-masing ½ sha’ (=2 mud – 1 ½ kg) beras/makanan pokok atau berpuasa tiga hari.
o Bolehkah berbicara dengan kata-kata kotor (keji), berbuat fasiq dan berdebat sewaktu melakukan ibadah haji?
Tidak diperbolehkan, kalau dilakukan akan menggugurkan pahala haji.
o Apakah laki-laki yang sedang berihram boleh menutupi kepala dengan sorban atau payung?
Menutupi kepala dengan sorban atau apa saja yang menempel di kepala tidak boleh. Sedangkan yang tidak menempel di kepala, seperti payung, itu boleh.
o Apakah jamaah haji yang berihran boleh memakai jam tangan, cicin atau sabuk?
Jamaah haji yang sedang berihram boleh boleh memakai jam tangan, cincin dan sabuk, karena tidak termasuk pakaian ihram.
o Bolehkah jamaah haji dalam keadaan ihram memakai pasta gigi, sabun mandi dan membunuh nyamuk dan binatang lain yang membahayakan?
Boleh dan tidak kena dam, karena bertujuan untuk kebersihan gigi dan perawatan kesehatan, demikian juga diperbolehkan membunuh nyamuk dan binatang lain yang membahayakan.
o Bagaimana hukumnya menyisir rambut dalam keadaan ihram?
Boleh, asal dengan keyakinan tidak akan merontokkan rambut.
o Bolehkah suami istri yang sedang menunaikan ibadah haji bersetubuh ?
Boleh, apabila tidak sedang dalam keadaan ihram dan sudah tahallul.
o Apakah yang dimaksud miqat makani ?
Miqat makani ialah tempat yang dijadikan batas untuk memulai ihram haji/umrah.
o Dimana saja miqat makani itu ?
Miqat makani ada 5 tempat, yaitu:
• Zululaifah (Bir Ali), miqatnya bagi penduduk Madinah dan yang melewatinya.
• Juhfah, miqatnya penduduk Syam dan yang melewatinya.
• Qarnul manazil (as-Sail), miqatnya penduduk Najad dan yang melewatinya
• Yalamlam, miqatnya penduduk Yaman dan yang melewatinya.
• Zatu Irqin, miqatnya penduduk Iraq dan yang melewatinya.
• 23. Dimanakah miqat makani jamaah haji Indonesia ?
Jamaah haji Indonesia gelombang I yang memasuki kota Madinah terlebih dahulu sebelum ke Mekkah, maka miqat makaninya adalah Bir Ali (Zulhulaifah).
Jamaah haji Indonesia gelombang II yang langsung ke Mekkah, miqat makaninya adalah di atas udara sejajar dengan Qarnul Manazil . Apabila dianggap sulit, dapat dilaksanakan sebelum sampai Qarnul Manazil, (sejak di Asrama Haji), atau setelah sampai di Airport King Abdul Aziz (KAAIA) Jeddah
• Apakah yang dimaksud dengan tawaf?
Tawaf ialah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali (Ka’bah selalu berada di sebelah kiri) dimulai dan diakhiri pada arah sejajar dengan Hajar Aswad.
• Apakah orang yang memasuki Masjidil Haram harus tawaf ?
Tidak harus tawaf, hanya saja apabila memungkinkan dapat melaksanakan tawaf sebagai pengganti shalat sunat tahiyatul masjid.
• Apakah melakukan tawaf harus suci dari hadas besar dan hadas kecil?
Ya, melakukan tawaf harus suci dari hadas besar dan hadas kecil.
• Apakah jamaah haji yang batal wudhunya harus mengulangi tawafnya?
Wajib berwudhu, kemudian melanjutkan dari tempat di mana ia batal (tidak mengulangi dari awal).
• Apakah bagi orang yang tawaf harus menghentikan tawafnya apabila datang waktu sholat wajib berjamaah?
Apabila datang waktu sholat wajib berjamaah, maka bagi yang tawaf, harus menghentikan tawafnya untuk mengikuti sholat berjamaah dahulu dan putaran tawaf yang masih tersisa diteruskan setelah selesai sholat.
• Wajibkah menghadap sepenuh badan ke ka’bah ketika akan memulai tawaf?
Menghadapkan sepenuh badan ke Ka’bah ketika akan memulai tawaf tidak wajib. Tetapi disunatkan apabila keadaan memungkinkan. Jika tidak mungkin cukup dengan memiringkan badan dan menghadap muka serta melambaikan tangan sambil membaca: Bismillahi Wallahu Akbar.
• Apakah hukumnya ramal (lari-lari kecil) bagi pria pada putaran ke-1 sampai ke-3?
Disunatkan bila situasinya memungkinkan.
• Apakah sholat sunnat tawaf?
Shalat sunat tawaf ialah salat sunat dua rakaat yang dilakukan setelah selesai tawaf.
• Di manakah sholat sunnat tawaf dilakukan?
Salat sunat tawaf dilakukan di belakang maqam Ibrahim. Bila tidak mungkin, maka dilakukan di mana saja asal di dalam Masjidil Haram.
• Apakah disunatkan mengusap atau isyarat pada waktu melewati Rukun Yamani ?
Disunatkan tetapi tidak dikecup
• Apakah setiap Tawaf harus diikuti oleh Sa’i ?
Tidak semua tawaf harus dikuti dengan Sa’i seperti tawaf sunat.
• Tawaf apa saja yang diikuti sa’i?
Tawaf yang diikuti sa’i ialah :
• Tawaf qudum bagi haji ifrad dan qiran dan tidak perlu lagi sa’i pada waktu tawaf ifadah
• Tawaf ifadah (tawaf rukun haji) bagi haji tammatu’ dan bagi haji ifrad/qiran yang belum sa’i pada waktu tawaf qudum.
• Tawaf umrah (setiap tawaf umrah diikuti sa’i).
• Apakah bersentuhan kulit antara pria dan wanita ketika sedang tawaf batal wudunya?
Tidak batal bagi yang mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa bersentuhan kulit antara pria dan wanita tidak batal dan sebaliknya.
• Tawaf ada berapa macam ?
Tawaf ada 4 macam, yaitu:
o Tawaf qudum,Tawaf rukun (ifadah dan umrah) , Tawaf sunat Tawaf wada’
• Apakah yang dimaksud dengan tawaf qudum?
Tawaf yang dilakukan oleh orang yang baru tiba di Makkah sebagai ucapan selamat datang/bertemu dengan Ka’bah.
• Apakah semua orang yang baru tiba di Makkah melakukan tawaf qudum?
Tidak semua orang yang baru tiba di Makkah melakukan tawaf qudum, seperti yang berhaji tammatu’, tawaf qudumnya masuk ke dalam tawaf umrahnya.
• Apa yang dimaksud dengan tawaf ifadah?
Tawaf ifadah adalah tawaf rukun haji, dikenal juga dengan tawaf sadr (inti).
• Apakah hukum tawaf ifadah?
Hukumnya adalah sebagai salah satu rukun haji, dan apabila tidak dikerjakan, maka tidak sah hajinya.
• Kapan tawaf ifadah dikerjakan?
Tawaf ifadah dikerjakan setelah lewat tengah malam hari nahar (tgl 10 Zulhijjah) sampai kapan saja, tetapi dianjurkan di hari-hari tasyrik atau masih dalam bulan Zulhijjah.
• Bagaimana ketentuannya bagi orang yang telah selesai semua amalan hajinya, kecuali tawaf ifadah?
Orang tersebut dapat dikatakan baru tahallul awal, belum tahallul tsani sehingga masih terkena larangan berkumpul dengan isteri.
• Apakah tawaf umrah itu?
Tawaf yang dikerjakan setiap melakukan umrah wajib dan umrah sunat.
• Apakah tawaf sunat itu?
Tawaf yang dilakukan setiap saat di Ka’bah dan tidak diikuti dengan sa’i.
• Apakah yang dimaksud dengan tawaf wada’?
Tawaf wada’ adalah tawaf pamitan yang dilakukan oleh orang yang telah selesai melakukan ibadah haji dan akan meninggalkan kota Makkah.
• Apakah hukum tawaf wada’ ?
Tawaf wada’ adalah tawaf pamitan yang dilakukan oleh orang yang telah selesai melakukan ibadah haji dan akan meninggalkan kota Makkah.
• Kapankah tawaf wada’ itu dilakukan?
Tawaf wada’ dilakukan setelah selesai pelaksanaan ibadah haji dan waktu akan meninggalkan kota Makkah, baik akan pulang ke Tanah Air atau akan ziarah ke Madinah yang tidak akan kembali lagi ke Makkah.
• Apakah jamaah haji yang telah melakukan tawaf wada’ boleh kembali ke pondokan?
Jamaah haji yang telah melakukan tawaf wada’ boleh kembali ke pondokan untuk sesuatu keperluan, seperti untuk mengambil barang atau membuang hajat, atau untuk menghindari terik panas matahari.
• Apakah hukumnya jamaah haji yang haid/nifasnya berhenti sementara, lalu dia bersuci (mandi) dan melakukan tawaf?
Tawaf yang dilakukan jamaah tersebut sah dan tidak dikenakan dam, sekalipun setelah mengerjakan amalan tersebut darah haid/nifasnya keluar lagi.
• Apakah hukum tawaf wada’ bagi wanita haid/nifas?
Tidak diwajibkan, cukup berdo’a di pintu Masjidil Haram.
• Apakah hukum tawaf wada’ bagi jamaah sakit yang harus kembali ke tanh air?
Tidak diwajibkan, dan tidak dikenakan dam.
• Apakah yang dimaksud dengan sa’i itu?
Sa’i ialah berjalan mulai dari bukit Safa ke bukit Marwah dan sebaliknya sebanyak 7 kali yang berakhir di bukit Marwah (perjalanan dari bukit Safa ke bukit Marwah dihitung satu kali).
• Apakah jamaah haji yang melakukan sa’i wajib suci dari hadas besar atau kecil?
Jamaah haji yang melakukan sa’i tidak wajib suci dari hadas besar atau kecil, tetapi disunatkan.
• Apakah disyaratkan naik ke atas bukit Safa/Marwah waktu sa’i?
Tidak disyaratkan. Jika keadaaan memungkinkan, naik ke atas bukit Safa/Marwah, tetapi jika sulit cukup sampai di kaki bukit saja.
• Apakah hukum lari-lari kecil antara dua pilar hijau?
Bagi laki-laki disunatkan lari-lari kecil antara dua pilar hijau. Sedangkan bagi wanita tidak disunatkan.
• Apakah mengangkat tangan sambil takbir ketika berada di Safa atau Marwah dianjurkan?
Mengangkat tangan sambil takbir menghadap Ka’bah di waktu sa’i tidak dianjurkan. Yang dianjurkan adalah mengangkat kedua tangan untuk berdo’a sambil menghadap Ka’bah.
• Apakah bagi yang bersa’i harus menghentikan sa’inya apabila datang waktu salat wajib yang dilakukan berjamaah?
Bagi yang bersa’i harus menghentikan sa’inya apabila datang waktu salat wajib yang dilakukan berjamaah dan kekurangannya dilanjutkan setelah selesai salat.
• Apakah ada sa’i sunat?
Tidak ada sa’i sunat.
• Apakah yang harus dikerjakan setelah selesai melakukan sa’i dalam rangkaian umrah?
Bila selesai melakukan sa’i, mencukur atau menggunting rambut (bertahallul).
• Bagaimana jika jamaah haji ragu-ragu dalam hitungan tawaf atau sa’i?
Ia harus berpegang pada hitungan yang lebih kecil.
• Bagaimana jika jamaah haji memulai sa’inya dari Marwah?
Tidak batal sa’inya, tetapi harus menambah satu perjalanan lagi, sehingga berakhir di Marwah.
• Kapankah waktu wukuf dan berapa lama melakukannya?
Waktu wukuf mulai dari tergelincir matahari tanggal 9 Zulhijjah sampai dengan terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah. Wukuf dinilai sah walaupun dilaksanakan hanya sesaat selama dalam rentang waktu tersebut, tetapi diutamakan mendapatkan sebagian waktu siang dan waktu malam.
• Apakah yang dilakukan jamaah haji pada masa wukuf tanggal 8 s/d 9 zulhijah ?
Pada tanggal 8 Zulhijah jamaah haji berpakaian ihram (niat) haji bagi yang berhaji tamattu’ dipemondokkan masing-masing, sedangkan bagi yang berhaji ifrad dan qiran tidak niat haji lagi karena masih dalam keadaan ihram sejak dari miqat saat tiba, setelah itu berangkat ke Arafah.
Pada tanggal 9 Zulhijah bagi jamaah haji yang telah berada dalam kemah masing – masing menanti saat wukuf (ba’da zawal) sambil berdzikir dan ber do’a.
• Apakah yang harus dilakukan ketika jamaah haji sedang wukuf?
Jamaah haji yang sedang melakukan wukuf dianjurkan untuk membaca do’a-do’a serta memperbanyak membaca Al-Quran, istifar, tahlil, zikir, dll.
• Apakah membaca do’a-do’a tersebut dilakukan sendiri-sendiri?
Boleh membaca do’a sendiri-sendiri atau bersama-sama.
• Apakah jamaah haji yang melakukan wukuf disyaratkan suci dari hadas besar atau kecil?
Jamaah haji yang melakukan wukuf tidak disyaratkan suci dari hadas besar atau kecil. Dengan demikian, wukuf jamaah haji yang sedang haid, nifas, junub dan hadas kecil tetap sah.
• Apakah wukuf itu harus di luar tenda?
Wukuf tidak harus di luar tenda.
• Apakah tata cara melaksanakan shalat jama’ qasar dzuhur dan ‘ashar sama halnya dengan di tempat lain?
Tidak ada perbedaan
• Apakah sah hukumnya wukuf orang yang tidak sadarkan diri (pingsan)?
Sah wukuf orang yang tidak sadarkan diri apabila orang tersebut dalam keadaan ihram.
• Bagaimana hukumnya mabit di Mina pada malam tarwiyah
Sebagian besar ulama mengatakan sunat hukumnya, sebagian yang lain menganjurkan agar lebih mengutamakan wukuf di Arafah yang merupakan rukun utama ibadah haji
• Kapankah dan berapa lamakah jamaah haji melakukan mabit di Muzdhalifah?
Jamaah haji melakukan mabit di Muzdhalifah mulai matahari terbenam sampai lewat tengah malam 10 Zulhijjah dan lamanya boleh sesaat asal sudah lewat tengah malam.
• Apakah jamaah haji boleh tidak mabit di Muzdhalifah?
Bagi yang sehat wajib mabit di Muzdhalifah. Tetapi bagi yang sakit dan yang mengurus orang sakit ataupun yang mengalami kesulitan (masyaqqah), sehingga ia tidak mabit di Muzdhalifah, maka ia tidak dikenakan dam
• Apakah jamaah haji yang melakukan mabit di Muzdhalifah harus turun dari kendaraannya?.
Jamaah haji yang melakukan mabit di Muzdhalifah tidak harus turun dari kendaraannya.
• Sebesar apakah batu yang dipergunakan untuk melontar jamrah?
Batu yang dipergunakan untuk melontar jamrah sebesar kelereng (gundu) kecil.
• Berapa butir kerikil yang diambil di Muzdhalifah?
Cukup 7 butir batu kerikil untuk melontar jamrah Aqabah. Sedangkan untuk melontar jamrah pada hari-hari tasyrik boleh diambil di Mina. Boleh juga mengambil di Muzdhalifah sebanyak yang diperlukan untuk melontar jamrah, yaitu 49 butir bagi nafar awal atau 70 butir bagi yang akan nafar sani.
• Apakah batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jamrah harus dicuci lebih dahulu?
Batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jamrah tidak harus dicuci lebih dahulu.
• Kapan jamaah haji boleh meninggalkan tapal batas Muzdalifah?
Jamaah haji baru boleh melintasi tapal batas akhir Muzdalifah apabila telah leat tengah malam.
• Apakah yang dimaksud melontar jamrah?
Yang dimaksud ialah melontar jamrah Ula, Wusta dan ‘Aqabah dengan bakerikil pada hari nahar dan hari-hari tasyrik.
• Mana yang dimaksud dengan jumrah Ula, Wusta dan Aqabah?
o Jamrah Ula (pertama) adalah jamrah yang terdekat dari arah Haratullisan
• Jamrah Wusta (tengah) adalah jamrah yang kedua (yang terletak di tengah-tengah antara jamrah Ula dan jamrah Aqabah).
o Jamrah Aqabah (qubra) adalah jamrah yang terjauh dari arah Haratullisan
• Kapankah waktu melontar tiga jamrah pada hari-hari tasyrik?
o Melontar jamrah aqabah pada hari nahar tanggal 10 Zulhijah adalah sebagai berikut :
 Waktu afdol setelah terbit matahari.
 Waktu ikhtiar ba’da dzuhur sampai terbenam matahari.
 Waktu jawaz setelah lewat tengah malam sampai terbit fajar tanggal 11 Zulhijah.
o Melontar jamrah pada hari hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah) waktunya :
 Waktu afdol, ba’da zawal.
 Waktu ikhtiar, sore hari sampai malam
 Waktu jawaz, pagi hari (sebelum zawal) sampai dengan terbit fajar hari berikutnya.
• Apakah 7 batu kerikil boleh sekaligus dilontarkan untuk satu jamrah?
Tidak boleh melontarkan 7 batu kerikil sekaligus untuk satu jamrah. Jika orang melontar 7 batu kerikil sekaligus untuk satu jamrah, maka dihitung hanya satu kali lontaran.
• Apakah melontar ketiga jamrah itu harus tertib dari Ula, Wusta dan ‘Aqabah?
Harus tertib dari Ula, Wusta dan ‘Aqabah. Apabila tidak tertib, maka harus diulang dari awal.
• Apakah melontar jamrah boleh diwakilkan kepada orang lain?
Melontar jamrah tidak boleh diwakilkan, kecuali uzur, baik karena sakit atau karena masyakat (kesulitan yang berat).
• Bagaimanakah cara mewakili melontar jamrah?
Cara mewakili melontar jamrah dilakukan dengan melontar setiap jamrah untuk diri sendiri, kemudian untuk yang diwakili.
• Apakah melontar jamrah boleh diakhirkan (ditunda) lontarannya pada hari berikutnya?
Boleh, apabila ada alasan-alasan darurat Syar’i, seperti sakit, menjadi petugas, dll.
• Bagaimana cara melontar jamrah yang pelontarannya tertunda?
Dimulai dari jamrah Ula, Wasta dan ‘Aqabah secara sempurna sebagai lontaran untuk hari pertama. Kemudian mulai lagi dari jamrah Ula, Wasta dan ‘Aqabah untuk hari kedua, dan selanjutnya mulai dari jamrah Ula, Wasta dan ‘Aqabah untuk hari ketiga.
• Bagaimana hukumnya bagi orang yang meninggalkan sebagian lontaran atau seluruhnya?
• Bagi orang yang meninggalkan satu lontaran dikenakan satu mud dan bagi yang meninggalkan 2 lontaran dikenakan 2 mud.
• Bagi orang yang meninggalkan 3 lontaran atau lebih, dikenakan dam
• Meninggalkan semua lontaran hari-hari tasyrik dikenakan dam
• Kapankah melontar jamrah ‘Aqabah apabila terlambat tiba di Mina dari Arafah?
Setiba di Mina langsung melontar jamrah ‘Aqabah.
• Apakah yang disebut tahallul?
Tahallul adalah keadaan seseorang yang sudah bebas (halal) dari ihramnya karena telah menyelesaikan amalan-amalan hajinya. Tahalul terbagi dalam 2 bagian, yaitu: Tahallul awal dan tahallul tsani.
• Apakah tahallul awal itu?
Tahallul awal ialah melepaskan diri dari keadaan ihram setelah melakukan dua di antara tiga perbuatan, yaitu:
• Melontar jamrah aqabah dan mencukur
• Melontar jamrah aqabah dan tawaf ifadah beserta sa’i
• Tawaf ifadah beserta sa’i dan mencukur
• Apakah tahallul tsani itu?
Tahallul tsani yaitu melakukan ketiga perbuatan melontar jamrah aqabah, bercukur dan tawaf ifadah beserta sa’i.
• Larangan apakah yang masih berlaku bagi jamaah haji yang sudah tahallul awal?
Yang dilarang adalah bersetubuh. Sedang hal-hal lain yang dilarang sewaktu berihram diperbolehkan (seperti mencukur rambut, memotong kuku, memakai wangi-wangian, memakai pakaian biasa bagi laki-laki, menutup muka atau memakai sarung tangan bagi wanita dan membunuh binatang buruan).
• Bagaimana cara memotong rambut?
• Bagi pria, disunatkan mencukur habis atau memotong / memendekan rambut kepala atau sekurang-kurangnya memotong sebelah kanan, tengah dan kiri.
• Bagi wanita afdolnya rambut dikumpulkan menjadi satu kemudian ujungnya dipotong atau memotong sekurang kurangnya 3 helai rambut sepanjang jarum.
• Boleh menggunting sendiri atau dengan bantuan orang lain. Pria boleh menggunting wanita atau sebaliknya, apabila ada hubungan mahram; bila tidak ada, hukumnya haram.
• Apakah perbedaan antara tahallul haji dan tahallul umrah?
Tahallul haji terdiri dari tahallul awal dan tahallul tsani, sedangkan tahallul umrah hanya satu saja.
• Kapankah tahallul awal (gunting rambut) bagi orang sakit (uzur) yang melontar jamrahnya diwakilkan?
o Tahallul awalnya setelah melakukan dua dari tiga perbuatan. Menggunting rambutnya dilakukan setelah lontar jamrahnya dilaksanakan oleh yang mewakili.
• Apakah yang dimaksud mabit di Mina? Mabit di Mina ialah bermalam di Mina pada hari-hari tasyriq (malam tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah).
• Apa hukum mabit di Mina?
Imam Malik, Ibnu Hambal dan Imam Syafi’i berpendapat wajib. Imam Abu Hanifah dan pendapat Imam Syafi’i yang lain (qaul jadid) sunat.
• Kapan dan berapa lama mabit di Mina?
Mabit di Mina dilaksanakan pada hari-hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah. Bagi yang mengambil nafar awal di Mina pada 11 dan 12 Zulhijjah dan yang mengambil nafar tsani, mabit di Mina pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah.
• Apakah mabit di Mina harus dimulai sejak waktu maghrib (sebelum matahari terbenam)?
Tidak harus dimulai dari waktu maghrib, asal bisa berada di Mina melebihi separuh malam (Mu’zamullail).
Contoh, mulai pukul 20.00 s.d 03.00 atau 21.00 s.d 04.00
• Apakah yang dimaksud nafar awal?
Yang dimaksud nafar tsani ialah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada tanggal 12 Zulhijjah (bermalam di Mina dua malam).
• Apakah yang dimaksud nafar tsani?
Yang dimaksud nafar tsani ialah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada tanggal13 Zulhijjah (bermalam di Mina tiga malam).
• Mana yang utama, nafar awal atau nafar tsani?
Nafar awal maupun nafar tsani sama nilainya.
• Apa yang harus dilakukan apabila tidak mabit di Mina seluruh hari tasyriq?
Apabila tidak mabit di Mina seluruh hari tasyrik, maka wajib membayar dam (satu ekor kambing). Tetapi apabila tidak mabit di Mina hanya satau atau dua malam, maka harus diganti dengan denda yaitu malam satu mud (3/4 kg beras/makanan pokok), dua malam dua mud (1 ½ kg beras/makanan pokok).
• Apakah yang dilakukan apabila bus yang membawa jamaah dari Arafah sesat jalan ke Makkah ?
Yang dilakukan ialah tawaf ifada, sa’i dan bercukur, yang berarti sudah tahallul awal, kemudian di Mina melontar jamrah ‘Aqabah, yang berarti sudah tahallul tsani dan seterusnya mabit.
• Apakah wanita haid/nifas boleh melaksanakan ihram?
Wanita haid/nifas boleh melakukan ihram.
• Bagaimana wanita yang belum tawaf ifadah karena haid, sedangkan rombongannya akan segera pulang ke Tanah Air?
• Wanita yang belum tawaf ifadah karena haid, ia harus menunggu sampai suci dan melapor kepada ketua kloternya (TPHI) untuk diusulkan pindah ke kloter lain, sehingga dapat melakukan tawaf ifadah
• Meskipun demikian, dalam keadaan uzur syar’I, menutut pendapat Imam Ibnu Qoyyim dari mazhab Hambali yang ditulis dalam kitab “I’lamul Muwaqqi’in” juz 3 halaman 31, bahwa wanita haid atau nifas dibolehkan dan dipandang sah melakukan tawaf ifadah dan tidak membayar dam. Sedangkan menurut Abu Hanifah membayar dam seekor unta.
• Apakah jamaah haji yang sakit harus wukuf di Arafah?
Jamaah haji yang sakit tetap harus wukuf di Arafah.
• Apakah jamaah haji yang sakit harus mabit di Muzdhalifah?
Jamaah haji yang sakit gugur kewajiban mabit di Muzdhalifah dan tidak dikenakan dam.
• Apakah jamaah haji yang sakit harus mabit di Mina?
Jamaah haji yang sakit gugur kewajiban mabit di Mina dan tidak dikenakan dam.
• Apakah jamaah haji yang sakit harus melontar jamrah?
Jamaah haji yang sakit tidak harus melontar jamrah, cukup mewakilkannya kepada orang lain.
• Apakah jamaah haji yang sakit harus tawaf ifadah?
Jamaah haji yang sakit harus melakukan tawaf ifadah, sekalipun dengan cara ditandu, karena merupakan rukun haji.
• Bagaimana cara melakukan wukuf, lontar jamrah dan tawaf ifadah bagi jamaah haji yang sakit?
Cara pelaksanaan wukuf, lontar jamrah dan tawaf ifadah bagi jamaah haji yang sakit adalah sebagai berikut :
o Wukuf bagi jamaah haji yang sakit: pada tanggal 9 Zulhijjah, seluruh jamaah haji yang sakit dikumpulkan di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Aziziyah Makkah oleh TPHI dan TKHI. Mereka diberi penjelasan dan bimbingan tentang pelaksanaan ibadah haji, mulai dari bersuci, berpakaian ihram, niat haji, talbiyah. Pada pukul 16.00 waktu setempat, seluruh jajaran haji yang sakit dinaikkan ke ambulance. Secara beriring-iringan berangkat ke Arafah. Tiba di Arafah, jamaah haji yang sakit tetap dalam ambulance. Pembacaan do’a wukuf dibimbing oleh petugas, setelah selesai berdo’a iring-iringan ambulance kembali ke BPHI Aziziyah Makkah.
o Melontar jamrah bagi jamaah haji yang sakit dengan cara diwakilkan kepada petugas.
o Tawaf ifadah bagi jamaah haji yang sakit dengan cara ditandu yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh petugas.
• Bagaimana pelaksanaan ibadah haji bagi jamaah yang tidak sadar/koma dan tidak bisa diwukufkan?
Bagi jamaah yang tidak sadar/koma dan uzur tidak perlu diwukufkan. Kebijaksanaan pemerintah kita, bila hal ini terjadi, maka jamaah tersebut dibadal hajikan.
• Apakah jamaah haji yang sakit dan sadar yang dirawat di Arab Saudi diwukufkan ?
Pihak Rumah Sakit Arab Saudi tetap mewukufkan pasien-pasien yang sadar dan bisa dibawa ke Arafah dengan menggunakan ambulance, sebagaimana safari wukuf (Perwukufan haji yang sakit) oleh pemerintah Indonesia.
• Apakah hukum tawaf wada’ bagi jamaah haji yang sakit (dievakuasikan kembali ke tanah air)?
Tidak diwajibkan, dan tidak dikenakan dam.
• Bagaimana pelaksanaan ibadah haji bagi jamaah yang tidak sadar/koma dan tidak bisa diwukufkan?
Bagi jamaah yang tidak sadar/koma dan uzur tidak perlu diwukufkan. Kebijaksanaan pemerintah kita, bila hal ini terjadi, maka jamaah tersebut dibadal hajikan.
• Apakah jamaah haji yang sakit dan sadar yang dirawat di Arab Saudi diwukufkan ?
Pihak Rumah Sakit Arab Saudi tetap mewukufkan pasien-pasien yang sadar dan bisa dibawa ke Arafah dengan menggunakan ambulance, sebagaimana safari wukuf (Perwukufan haji yang sakit) oleh pemerintah Indonesia.
• Apakah hukum tawaf wada’ bagi jamaah haji yang sakit (dievakuasikan kembali ke tanah air)?
Tidak diwajibkan, dan tidak dikenakan dam.
• Bagaiamana hukum tayamum di pesawat ?
Ulama berbeda pendapat :
o Pendapat pertama sah hukum tayamum di atas pesawat dengan alasan dimana ada angin di situ ada debu (partikel debu)
o Pendapat kedua mengatakan tidak sah karena sifat debu adalah debu yang nampak benda dan sifatnya (debu bersih)
• Bagaimana tatacara Tayamum bagi yang berpendapat sah tayamum di pesawat ?
Tata cara bertayamum ada dua macam :
o Dengan sekali tepuk di dinding atau kursi pesawat untuk mengusap wajah dan langsung ke pergelangan tangan sampai ujung jari secara merata.
o Dengan 2 kali tepukan di dua temat yang berbeda (contoh dinding dan jok kursi). Satu tepukan untuk mengusap lagi untuk mengusap tangan sampai siku secara merata
• Bagaimana hukum tayamum bagi pelaksanaaan shalat jama’ ?
Ada 2 pendapat :
o Tayamum dapat digunakan untuk 2 shalat fardu yang di jama’ karena shalat jama’ menjadi satu paket (kesatuan)
o Tayamum hanya dapat di gunakan untuk satu shalat fardu di tambah dengan shalat sunat lainnya, sehingga untuk 2 shalat fardu yang dijama’ harus bertanyamum pula 2 kali.
• Bagaimana tata cara shalat di pesawat ?
Tatacara shalat di pesawat ada 2 macam :
o Tayamum dengan menepukkan tangan ke dinding pesawat atau senderan kursi kemudian melaksanakan shalat seperti biasa sambil duduk.
o Tanpa tayamum shalat seperti biasa sambil duduk (lihurmatil wakti) tetapi harus diulang shalatnya (ia’dah) setelah sampai di darat.
(sumber: Departemen Agama RI)

Entry filed under: Dakwah. Tags: , .

Rindu Tanah Suci-12: Menuju Tanah Suci Sumpah Pemuda

4 Komentar Add your own

  • 1. abimanyu  |  Oktober 28, 2008 pukul 12:26 am

    isinya komplit dan sudah agak mengerti, terimakasih pak haji.

    Balas
  • 2. Muslim  |  Februari 13, 2009 pukul 7:27 am

    Assalamualaikum. Bolehkah kita bertahallul untuk orang lain sebelum kita bertahallul untuk kita sendiri ? Tksh.

    Balas
  • 3. Abdul Hakim  |  November 4, 2010 pukul 2:05 am

    Thanks atas segala penjelasannya secara rinci.

    Balas
  • 4. fajri  |  Februari 22, 2011 pukul 3:12 am

    apakah ada yang lebih details tentang malaksanakan haji/umrah?

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: